Beberapa waktu lalu saat saya dan dua orang teman sedang berdiskusi di kantor, tiba-tiba pintu depan diketuk oleh seseorang. Saya bergegas melihatnya. Ternyata ada seorang bapak setengah baya minta sumbangan sambil menyodorkan sebuah proposal. Setelah saya persilahkan masuk, dan kemudian saya baca sejenak proposal tersebut, kemudian saya bertanya tentang lokasi tempat ibadah yang mau dibangun itu ada di daerah mana. Bapak itu menjawab ada di daerah Jawa Barat. Jauh banget pikirku. Kemudian saya bertanya lagi apakah sudah ada pemberitahuan dan izin ke RT/RW dimana kantor kami berdomisili?

Beliau menjawab bahwa memang belum ada izin dari RT/RW tempat kantor saya berada. Mendengar jawaban itu, teman saya yang sedari tadi mendengarkan percakapan kami langsung menyahut, â??kok belum izin, bagaimana pak?â? Bapak tersebut menjawab karena nggak tahu ada aturan itu dan nggak tahu dimana rumah pak RT atau RW-nya serta nggak tahu caranya.

Mendengar jawaban itu teman saya dengan spontan menyahut, â??Begini pak, disini kalau minta sumbangan harus ada surat keterangan izin dari RT/RW di sini, itu peraturannya pak. Kemarin Pak RW sendiri yang bilang dalam rapat warga dan sudah menjadi kesepakatan semua warga di sini pak.â? jelas teman saya.

â??Ya, bagaimana mas, mas-masnya ini mau nyumbang tidak?â? tanya bapak itu dengan nada ketus. Saya jawab, â??mau, tapi minta izin dulu pak, saya nggak enak dengan kesepakatan warga itu. Nanti kalau ketahuan kami dikira mengingkari kesepakatan warga pakâ? Beliau jawab, â??wah gimana ya mas, masak minta sumbangan saja kok dipersulit.â?

â??Bukan dipersulit pak, tapi itu peraturan dan kesepakatan warga demi kenyamanan dan keamanan bersama pakâ? jawab saya.

Tiba-tiba teman saya yang lain yang habis dari dapur langsung menyahut â??Udah pak, biar sama-sama enak, bapak tunggu sini saja dulu sebentar, dan saya minta uang 100ribu akan saya uruskan surat izinnya ke Pak RT dan Pak RW, saya jamin dalam 10 menit dah keluar surat izinnyaâ?.

Mendengar jawaban itu, bapak itu langsung pergi tanpa berkata apa-apa. Kemudian saya bilang â??waaâ?¦ gile lu, ada orang minta sumbangan kamu brokerin surat izinnya.. benar-benar broker model anyar nichâ?. Wakakakakakâ?¦ kami semua tertawaâ?¦

Catatan saya : sebenarnya bukan karena kami tidak mau menyumbang, tapi karena itu telah kesepakatan bersama warga maka tidak enak kalau ngasih. Takutnya, dia minta ke tetangga-tetangga juga dan ketika dipertanyakan surat ijinnya dari RW dia akan bilang, â??lha disana tadi dikasih meski tanpa suratâ?. Maka cemarlah nama setengah baik kami..