Tanggal 14 Desember, para penggemar “Star Wars” kembali dimanjakan dengan dirilisnya film spin-off berjudul “Rogue One: A Star Wars Story”. Mengambil setting tepat sebelum “Star Wars IV: A New Hope” atau sebagai prekuel, film ini bercerita tentang sekumpulan pemberontak yang berusaha mencuri sebuah data yang berisi kelemahan dari senjata pamungkas Galactic Empire yang dikenal sebagai Death Star.

Kisah dimulai oleh Jyn Erso (Felicity Jones), anak dari Galen Erso (Mads Mikkelsen), seorang ilmuwan perancang senjata mematikan bernama Death Star yang berada pada kubu kekaisaran. Jyn merupakan tahanan sebuah penjara akibat catatan kriminalnya.

Rogue One: A Star Wars Story (Duniaku)

Dalam perjalanan, Jyn diculik oleh pasukan pemberontak sebagai alat untuk dapat memasuki wilayah Saw Gererra (Forest Whitaker), sosok yang telah membesarkannya dari kecil pascapenyerangan yang dilakukan oleh pasukan Empire terhadap orang tuanya, untuk mengetahui informasi tentang Death Star.

Seiring berjalannya waktu lewat kedekatan yang terjalin, Jyn lantas bergerak bersama pasukan pemberontak untuk mencuri rancangan Death Star agar tak disalahgunakan oleh dinasti kekaisaran yang dipimpin Darth Vader. Mereka terbang menuju tempat di mana rancangan senjata mematikan itu berada.

Untuk mencapai tujuannya, Jyn Erso dibantu oleh anggota pemberontak lainnya yaitu, Cassian Andor (Diego Luna), Chirrut Imwe (Donnie Yen), Baze Malbus (Jiang Wen), Bodhi Rook (Riz Ahmed) dan K-2SO (Alan Tudyk).

Rogue One: A Star Wars Story (Duniaku)

Naas, ternyata pasukan pemberontak, tanpa disadari Jyn, juga akan membunuh sang perancang senjata yang tak lain adalah Galen Erso, ayahnya sendiri. Padahal, Galen adalah sosok yang membelot dari dinasti kekaisaran dan berusaha membocorkan rahasia senjata tersebut pada seisi galaksi.

Dalam kondisi yang serba terhimpit, Jyn harus bisa memenangkan situasi yang menguntungkan agar semua tujuannya tercapai: mencuri rancangan Death Star dan menyelamatkan ayahnya dari cengkraman dinasti kekaisaran. Akankah keduanya berhasil dicapai?

Di antara film “Star Wars” lainnya, film “Rogue One: A Star Wars” ini bisa dikategorikan sebagai film “Star Wars” paling kelam, bahkan jika dibandingkan dengan “Star Wars VII: The Force Awakens”. Hal ini dikarenakan dari protagonisnya sendiri.

Bisa dilihat latar belakang para protagonisnya tak jauh dari kriminal. Jyn saja adalah seorang kriminal dengan rekam jejak kejahatan yang cukup ekstensif di catatan Empire. Anggota Alliance seperti Cassian pun bukan malaikat. Bahkan Cassian Andor dan pasukan yang terlibat di pertempuran terakhir sudah terlibat dengan banyak misi-misi kelam Alliance, seperti sabotase, infiltrasi, dan lain sebagainya.

Rogue One: A Star Wars Story (Duniaku)

Kelebihan lainnya dari film ini adalah banyak adegannya yang penuh aksi dan pertempuran ala fiksi ilmiah yang spektakuler. Namun, karena absennya benda bernama Light Saber yang menjadi ikon “Star Wars”, membuat film ini jadi kurang “Star Wars”.

Selain visual yang apik, cerita “Rogue One” juga disusun sedemikian rupa agar tak bertabrakan dengan sekuel lain dan jauh dari kesan egois. Hasilnya, film ini memiliki alur nan kuat, ampuh mengisi kekosongan antara “Star Wars III: Revenge of the Sith” (2005) dan “Star Wars IV: A New Hope” (1977) yang dibuat berbeda zaman, serta mampu menjawab pertanyaan para pecinta Star Wars tentang sosok pasukan rebel yang pernah membantu Princess Leia dalam menghancurkan dinasti kekaisaran.

Ketimbang kisah epik menyelamatkan galaksi, film ini lebih terasa seperti kisah perang sejenis “Saving Private Ryan”, “Dirty Dozen”, dan sejenisnya. Sejak awal sama sekali tak ada jaminan kalau tokoh-tokoh yang jadi protagonis film ini akan kembali dengan selamat.

Meski berkisah kelam, namun banyak pujian yang dilontarkan untuk film ini. Banyak yang menyebutkan, film ini jauh lebih bagus dibandingkan “Star Wars VII: The Force Awakens” yang ditayangkan satu tahun lalu. Bahkan, banyak yang tidak malu-malu menyebutkan, bahwa inilah film Star Wars terbaik sampai saat ini.

Star Wars Episode V: The Empire Strikes Back (Lucasfilm)

Bagi banyak penggemar “Star Wars”, jika ditanya mengenai film “Star Wars” terbaik, bakal menjawab dengan satu judul, yaitu “Empire Strikes Back” alias Episode V. Kombinasi aksi dan drama yang cukup intens (termasuk adegan ikonik kala Darth Vader mengaku bahwa dirinya adalah ayah dari Luke) membuat film ini sangat memorable, sulit ditandingi judul-judul lainnya. Namun setelah penayangan perdana kemarin, banyak yang berpendapat bahwa “Rogue One” ternyata lebih bagus dibandingkan “Empire Strikes Back”.

Mengingat “Rogue One” adalah bagian pertama dari trilogi “Star Wars Anthology”, bisa jadi nanti film kedua dan ketiganya bakal lebih baik lagi dari film pertamanya. Kita nantikan saja. (tom)