Jangan heran jika di masa depan tak ada lagi pegawai manusia di restoran. Pasalnya kini, teknologi canggih mampu menggantikan peran manusia. Teknologi canggih seperti ini juga telah mencapai restoran.

Adalah Eatsa, restoran vegetarian di San Francisco yang mengusung konsep otomatis. Tidak ada pegawai manusia di restoran ini melainkan mesin-mesin otomatis yang akan melayani pengunjung. Kini Eatsa membuka cabang terbarunya di East Coast, New York.

Mesin otomatis di Eatsa (Mashable)

Dilansir dari Mashable, Senin (19/12/2016), untuk bersantap di sini, pengunjung hanya perlu memesan makanan via mesin, online, atau aplikasi di ponsel mereka. Nantinya menu pesanan pengunjung akan muncul dalam lemari kaca lengkap dengan nama sehingga tidak tertukar.

Ada pihak yang menilai konsep otomatis ini menggambarkan kecanggihan masa depan, ada pula yang mengganggap restoran seolah menyingkirkan interaksi manusia yang biasanya terjadi di restoran. Namun, begitu masuk, restoran ternyata tak terlalu sepi seperti yang dibayangkan. Ada lantunan musik dan suara pengunjung bercakap-cakap.

Seolah menepis ketiadaan pegawai manusia sama sekali, Scott Bruggman dari Eatsa menjelaskan, “Sebenarnya akan selalu ada pegawai yang bertugas di restoran. Kami menyebut mereka sebagai maskot yang akan membantu tamu dan memastikan mereka bisa memesan sesuai proses.”

Makanan vegetarian di Eatsa (Mashable)

Untuk memesan, pengunjung bisa langsung menghampiri jejeran mesin pemesanan. Tinggal sentuh menu vegetarian yang diinginkan. Pilihannya antara lain smokehouse salad, bento bowl, burrito bowl, dan harvest bowl. Ada pula menu yang bisa diracik sendiri sesuai selera pengunjung. Selanjutnya, nama pemesan akan muncul di layar. Menandakan bahwa pesanan sudah diterima dan segera diproses.

Pengambilan pesanan juga unik karena makanan akan muncul dalam lemari kaca. Nampak tulisan “it’s coming” saat makanan akan tiba. Ada pula keterangan nama pemesan. Untuk mengambilnya, pengunjung perlu mengetuk lemari kaca dua kali.

Tempat pengambilan makanan (Mashable)

Bruggman menjelaskan, “Ada robot yang bekerja dibalik dapur bersama beberapa chef manusia. Banyak hal berbeda terjadi di sini dan kami menggunakan teknologi sebanyak mungkin agar bisa menghadirkan pengalaman yang lebih baik bagi pengunjung.”

Salah seorang pengunjung, Sabina M, mengatakan restoran sebenarnya tidak menghindarkan pengunjung dari interaksi sosial. Justru lingkungannya memberi kesempatan pengunjung untuk lebih bersosialiasi. “Orang-orang nampak lebih bersosialisasi di sini karena tiap orang mengomentari kecanggihan restoran. Ini jadi topik untuk berbincang satu sama lain,” ujarnya.

Kapan restoran di Indonesia akan menggunakan teknologi seperti ini? (tom)