Gado-gado sudah menjadi makanan yang umum kita jumpai. Ada juga sebagian orang yang sering makan gado-gado karena memang rumahnya dekat dengan penjual gado-gado. Makanan yang penuh dengan sayuran dan bumbu kacang ini merupakan makanan asli Indonesia. Namun tahukah kamu dari mana asal makanan gado-gado ini? Berikut ini sejarah gado-gado seperti dilansir jadiBerita dari berbagai sumber.

Pada dasarnya tak ada yang tahu pasti mengenai asal-mausal makanan ini. Bahkan nama gado-gado sendiri tak diketahui dari bahasa apa. Kata gado-gado juga tak ditemukan di kamus Bahasa Indonesia maupun Betawi.

Gado-gado (Spiceroots)

Namun beberapa memperkirakan, nama gado-gado berasal dari kata digado yang merupakan istilah makanan yang tak dimakan bersama nasi. Contohnya seperti makan ayam tanpa nasi, maka istilahnya gado ayam.

Asal nama gado-gado tersebut cukup masuk akal, mengingat gado-gado sendiri memang dikonsumsi tanpa nasi. Pasalnya, karbohidrat dari nasi digantikan oleh lontong dalam gado-gado.

Beberapa pihak menganggap gado-gado merupakan sajian khas Betawi. Alasannya adalah sekitar 1940-1950an ada lagu yang sangat populer berjudul “Gado-Gado Betawi” yang dipopulerkan oleh Ivo Nilakreshna.

Bahan-bahan gado-gado (Cicak2)

Selain lagu, penelusuran sejarah gado-gado juga bisa ditemaui dari awal dekade 1980-an dalam sebuah acara hiburan radio. Radio Republik Indonesia atau RRI saat itu memiliki acara yang menghadirkan celetukan-celetukan dari Bang Mamad, seorang tukang sado (delman) dan Mpok Atik, seorang tukang gado-gado. Mereka berdialog dengan mengunakan Bahasa Betawi medok. Dari acara inilah, gado-gado diyakini sebagai makanan khas Betawi.

Versi lain menyebutkan, gado-gado merupakan peranakan Tionghoa dari pecel Jawa yang sangat disukai oleh Belanda saat itu.

Dari berbagai penalaran tersebut, disimpulkan bahwa gado-gado telah lahir sejak awal abad 20-an dan Jakarta adalah tempat kelahirannya. (tom)