Bumi memiliki kutub geografis dan kutub magnet. Dua hal ini merupakan hal yang sangat berbeda. Kutub geografis Bumi ditandai dengan area yang tertutup oleh es yang sering dikenal sebagai Arktik dan Antartika. Sementara kutub magnet bumi merupakan medan magnet tak terlihat yang arahnya dapat berubah karena fenomena alam yang terjadi di Bumi.

Perubahan kutub magnet Bumi seringkali disalahartikan sebagai tanda-tanda kiamat. Hal ini wajar, sebab menurut pandangan orang awam perubahan kutub magnet akan berlangsung secara singkat dan dapat mengubah aktivitas yang terjadi di Bumi secara signifikan. Padahal sebetulnya tidak demikian.

Kutub magnet Bumi (NASA)

“Perubahan kutub Bumi tidak terjadi pada waktu singkat, butuh waktu ribuan tahun agar hal ini terjadi,” ujar Rune Floberghagen, Manajer misi SWARM Amerika Serikat, seperti dikutip dari Scientific American, Jumat (10/2/2017). “Namun hal ini sering terjadi di masa lalu,” lanjutnya.

Pelemahan medan magnet selama proses pembalikan akan mempengaruhi kehidupan di bumi. Maklum saja, medan magnet merupakan tameng pelindung bumi dari serangan partikel kosmik berbahaya yang datang dari luar angkasa. Apakah pelemahan ini mengancam keselamatan manusia?

Profesor Geofisika dari University of Rochester, John Tarduno, mengatakan, tanpa medan magnet, bumi akan dengan mudah ditembus badai matahari. Partikel kosmik yang bereaksi dengan atmosfer menciptakan lubang ozon besar yang bertahan selama 1-10 tahun. “Kasus penyakit kanker kulit akan meningkat,” ujarnya. Pelemahan medan magnet seperti ini juga dikaitkan oleh ahli geologi dari Institute of Earth Physics of Paris, Jean-Pierre Valet, dengan penyusutan populasi manusia Neanderthal di masa lalu.

Perubahan kutub magnet Bumi (Livescience)

Namun, Monika Korte, direktur ilmiah dari Niemegk Geomagnetic Observatory di Jerman punya pendapat berbeda. Menurut dia, selama proses pembalikan, atmosfer bekerja sebagai tameng cadangan dan menepis partikel berbahaya. Karena itu, tak akan ada dampak berbahaya pada tubuh manusia. Meski demikian, ia mengingatkan, teknologi komunikasi dan jaringan listrik menjadi rentan dirusak partikel kosmik. “Penting bagi manusia menemukan strategi mitigasi,” ucapnya.

Pembalikan medan magnetik bumi terakhir kali terjadi sekitar 780 ribu tahun silam ketika manusia berada di Zaman Batu. Dalam 160 tahun terakhir, ilmuwan mengamati tumbuhnya benih pembalikan medan magnetik di sekitar Brasil dan Atlantik selatan. Namun, ada pendapat dari NASA bahwa pembalikan kutub magnetik bumi ini bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan secara berlebihan. (tom)