Usai hujan turun, kadang terasa dan tercium bau yang segar setelah sebelumnya panas meranggas. Kenapa hal ini bisa terjadi? Ilmuwan membongkar kenapa muncul fenomena nuansa segar usai hujan turun.

Dilansir dari NPR, Rabu (15/3/2017), sekelompok insinyur mekanik membeberkan kenapa hal itu terjadi dalam jurnal Nature Communications. Peneliti menemukan bahan kimia dinamakan geosmin, yang bertanggung jawab atas munculnya aroma segar usai turun hujan. Bahan kimia tersebut diproduksi bakteri dan jamur.

Dalam pengukurannya, peneliti menggunakan kamera berkecepatan tinggi untuk merekam jatuhnya air. Skema ini untuk meniru kondisi hujan.

Hujan (Liputan6)

Peneliti mengamati saat air jatuh ke berbagai jenis tanah yang diresapi dengan bakteri. Dalam studi ini, ada tiga bakteri tanah yang dilibatkan peneliti, yaitu Corynebacterium glutamicum, Pseudomonas syringae, dan Bacillus subtilis. Ketiga bakteri ini tak berbahaya.

Peneliti mengawasi, jatuhnya air itu secara hati-hati melontarkan mikroba ke udara usai tetesan air menetes dan membentur daratan. Saat menyentuh daratan pada kecepatan tinggi, hujan akan menjebak gelombang udara yang ada di dalamnya.

Gelembung udara dari tetesan air itu kemudian meledak begitu mencapai permukaan. Dampak dari meledaknya gelembung itu, maka akan mengirim semprotan air kecil ke udara. Kadang, peneliti mengatakan, momen ini gelembung udara akan membawa bakteri yang ada di permukaan.

“Ini sama jika Anda menuangkan segelas sampanye atau minuman berkarbonasi, dan Anda akan melihat buih di atasnya,” ujar insinyur mekanik Massachusetts Institute of Technology, Cullen Buie.

Dia mengatakan, dalam kasus sampanye, gelembung yang muncul penuh dengan karbondioksida. Sementara itu, dalam kasus air hujan, gelembung penuh dengan udara.

Tetesan hujan (Duniafotografi)

Dalam pengamatan mikrodetik, Buie dan koleganya menemukan, satu rintik hujan akan menciptakan ratusan tetesan udara yang sangat kecil dan masing-masing membawa ribuan bakteri hidup.

Bakteri tersebut mampu hidup dalam tetesan hujan yang nyaris tak terlihat sekali pun. Bakteri ini bisa tahan sekitar satu jam.

Saat bakteri terbawa oleh gelembung udara dari tetesan hujan, bakteri akan terbawa oleh angin. Peneliti mengatakan, bakteri tanah tersebut bisa bepergian dalam beberapa mil jaraknya. Bahkan jika anginnya cocok, bakteri itu tidak akan terseret air hujan lainnya.

“Langkah berikutnya adalah mempelajari seberapa jauh mereka berpotensi bepergian,” ujar Buie. (tom)