Seporsi ayam goreng tepung yang renyah pasti bisa membuat kamu menelan air liur. Bagaimana dengan keripik kentang, kerupuk, dan gorengan, bisakah kamu menahan godaan untuk tak segera menyantapnya? Rasa gurih, tekstur renyah, dan juga suara ‘retakan’ yang menggema di mulut sangat sulit untuk ditolak.

Jika kamu termasuk orang yang sulit menahan godaan makanan renyah, maka kamu termasuk orang normal. Dibanding godaan makanan manis, manusia lebih sulit menahan godaan untuk menyantap makanan yang renyah. Manusia memang punya obsesi tersendiri dengan kerenyahan.

Dilansir dari Extra Crispy, Kamis (23/3/2017), ada alasan ilmiah mengapa manusia sangat suka menyantap makanan yang renyah. John S. Allen, peneliti dari University of Southern California dan juga penulis buku tentang bagaimana manusia makan mengungkapkan kecintaan manusia pada makanan renyah dimulai sejak masa berburu dan meramu.

Cheese stick (Vemale)

“Di antara 1-2 juta tahun lalu, nenek moyang kita mulai membuat dan menggunakan api untuk memasak,” katanya. “Hal ini memperkenalkan mereka ke dunia baru tentang makanan yang penuh energi. Selain itu memasak juga memperkenalkan makanan sumber makanan yang tak biasa yaitu makanan renyah.”

Salah satu makanan renyah yang dihasilkan adalah ‘kerak’ renyah pada daging. “Dan ini sangat memengaruhi nenek moyang dalam hubungannya dengan memasak dan makanan renyah.”

Allen menambahkan bahwa obsesi nenek moyang pada kenikmatan makanan renyah ini menjadi alasan mereka untuk mencari makanan renyah lainnya. Kondisi ini membuat mereka secara tak langsung menciptakan sebuah siklus untuk mencari kerenyahan.

“Melihat kembali ke masa evolusi, makanan renyah yang tersedia untuk nenek moyang adalah serangga dan beberapa bagian tanaman. Secara umum, nenek moyang lebih suka buah atau bagian dari hewan misalnya organ dalam atau otak yang tidak terlalu renyah,” ucapnya.

Tapi ketika jenis makanan ini tidak tersedia, mereka harus bergantung pada makanan yang tak terlalu bergizi seperti serangga dan bagian tanaman lain yang lebih renyah.

“Itu benar, nenek moyang menganggap makanan renyah adalah rencana B. Mereka mengganggap makanan renyah adalah cara untuk bisa bertahan hidup.”

Kentang goreng (Bung-tsu)

Namun kondisi ini berbeda dengan kondisi di masa sekarang. Makanan renyah tak lagi dianggap sebagai makanan untuk bertahan hidup. Makanan renyah justru dianggap kebutuhan makanan utama. Bayangkan, agak sulit rasanya kalau makan nasi tanpa adanya kerupuk.

“Satu alasan mengapa makanan renyah menjadi sangat menggoda dan menambah selera makan adalah karena tekstur kerenyahan akan menambah kualitas sensor makanan di mulut selain rasanya,” ucap Allen.

Ketika kita makan satu jenis santapan dalam jumlah banyak, ada kecenderungan yang berubah soal rasanya jadi kurang enak. Namun kondisi ini berbeda dengan makanan garing atau renyah. Makanan renyah memberi pengalaman sensorik yang meliputi suara dan rasa.

“Pada dasarnya, makanan renyah akan menghasilkans ebuah orkestra di otak seperti saat mendengar lagu favorit Anda. Ketika mendengar lagunya, pesta terasa lengkap. Dalam makanan renyah, rasa dan suara dalam satu gigitan adalah harmoni yang sempurna untuk otak.” (tom)