Lama Dijajah, Ternyata Ada Satu Wilayah Indonesia yang Bebas Jajahan Belanda

Menurut catatan sejarah, Indonesia pernah dijajah oleh 3 negara, yaitu Portugis, Belanda dan Jepang. Alasannya adalah mereka ingin menguasai Indonesia yang memiliki kekayaan alam melimpah dan merupakan satu negara dengan jalur perdagangan yang strategis.

Di antara ketiga negara yang menjajah Indonesia tersebut, Belanda merupakan negara yang terlama menjajah Indonesia. Diketahui bahwa daerah jajahan Belanda meliputi Sabang hingga Merauke. Namun benarkah demikian? Karena rupanya ada satu wilayah yang terbebas dari jajahan Belanda, dan hal ini tidak dijelaskan di dalam buku-buku pelajaran Sejarah untuk sekolah. Wilayah itu adalah Buton.

Kantor Bupati Buton (Shamawar)

Buton adalah wilayah yang terletak di ‘kaki’ sebelah kanan pulau Sulawesi, tepatnya di daerah Sulawesi Tenggara. Buton terletak 46 km dari Bandara Betoambari di Bau Bau. Lalu, kenapa wilayah ini tak tersentuh Belanda?

Dilansir dari Yukepo, Kamis (6/4/2017), rupanya, wilayah Buton ini bukan luput dari perhatian Belanda. Justru Belanda secara sengaja tidak menyentuh atau menjajah daerah Buton. Waktu abad pertengahan dulu memang sedang gencar-gencarnya bangsa Eropa melakukan ekspansi ke wilayah Maluku demi mendapatkan rempah-rempah. Bangsa Eropa tersebut adalah Portugis dan Belanda. Pada saat itu Buton menjadi tempat yang sangat strategis karena kapal-kapal para bangsa Eropa akan terlebih dahulu singgah di Buton.

Buton (Nonahikaru)

Alasan Belanda untuk tidak menyentuh Buton adalah pada saat itu Buton sudah memiliki kerajaan yang kuat, sehingga Belanda enggan untuk menjajah Buton daripada nantinya mereka justru kesulitan untuk mencari rempah-rempah yang ada di Buton.

Alih-alih menjajah, Belanda lebih memilih untuk melakukan jalan damai dengan Buton. Belanda lalu menjalin hubungan yang baik dengan Kerajaan Buton. Hal ini terbukti dengan banyaknya benteng yang bergaya Belanda di kawasan tersebut.

Ternyata dulunya Buton memang merupakan kerajaan sendiri. Kerajaan ini memiliki sistem pemerintahan yang cukup ideal dengan adanya raja, perdana menteri, tentara sebagai badan pertahanan dan tentunya rakyat. Kerajaan Buton ini memang sudah sedari dulu sering menjalin hubungan dengan pihak asing yang melintasi kawasan perairannya. Tak hanya itu, Kerajaan Buton juga selalu memantau pergerakan bajak laut, sehingga untuk itulah dibutuhkan tentara.

Upacara adat Buton (Denmasdeni)

Pada tahun 1538 Kerajaan Buton beralih menjadi Kesultanan Buton sejak dipimpin oleh Murhum Sultan Kamuddin Khalifatul Khamis seiring dengan masuknya agama Islam yang dibawa oleh para pedagang. Hal itu terus terjadi hingga pada tahun 1960 Presiden Sukarno meminta Buton untuk bergabung dengan Indonesia. Baru pada tahun 1965 Kesultananan Buton bergabung dengan Indonesia dan menjadi bagian dari perangkat adat dan budaya di Sulawesi Tenggara. (tom)

Mereka Juga Suka Berita Ini
Apa Komentarmu
Tunggu Dong...