Hari Rabu, tanggal 19 April kemarin, Hujan diserta angin kencang terjadi di Bandung. Lebih dari itu, hujan tidak berwujud air cair tetapi es.

Hujan es bukan hanya kali itu saja terjadi di Indonesia. Sebelumnya juga sempat terjadi hujan es di Jakarta dan juga Surabaya. Lalu kenapa hujan es ini bisa terjadi?

Hary Tirto Djatmiko dari Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, hujan es bisa terjadi dalam dua kondisi. Pertama, dalam masa pancaroba, hujan tidak turun selama tiga hari berturut-turut. Bila itu terjadi, maka pada hari keempat dapat terjadi hujan dalam bentuk es disertai angin kencang.

Hujan es di Bandung (Kompas)

Kedua, hujan tetap ada. Namun, pagi pada hari tertentu terasa cukup terik, kelembaban tinggi, dan ada beda suhu yang besar dalam satu hari.

Dua kondisi itu mengakibatkan hujan es karena mengakumulasikan air dalam bentuk awan kumulonimbus, jenis awan yang pada awalnya berbentuk menyerupai bunga kol berwarna putih namun kemudian berubah jadi abu-abu. “Pagi hari cuaca cukup terik. Radiasi matahari optimum dan kelembaban juga tinggi, lebih dari 70 persen,” kata Hary, seperti dikutip dari Kompascom, Senin (24/4/2017).

“Selain itu, ada perbedaan suhu yang besar antara pukul 7 pagi dan 10 pagi. Perbedaannya lebih dari 5 derajat celsius,” imbuhnya.

Hujan es (Kumparan)

Kondisi itu menyebabkan pembentukan awan secara konveksi. Pantauan BMKG menunjukkan, awan yang terbentuk adalah awan kumulonimbus.

Hary mengungkapkan, awan jenis tersebut lebih kaya akan air dalam bentuk padat daripada cair. Dengan demikian, hujan yang turun bisa dalam bentuk padat. Tentang akumulasi es yang bisa menyerupai salju, Hary mengatakan itu disebabkan oleh intensitas hujan. “Hujan sangat rapat dan diturunkan seketika. Jadi es-nya bisa terakumulasi.”

Namun, menurut dia, akumulasi es itu takkan bertahan lama. “Akan mencair seketika. Paling lama mungkin 10 menit,” katanya.

Hujan es (Liputan6)

Menurut Hary, hujan es berbeda dengan salju. Hujan es bisa terjadi di belahan dunia mana pun, sementara salju hanya bisa terjadi di wilayah lintang tinggi, lebih dari 23,5 derajat. “Awan yang menyebabkan juga berbeda. Kalau hujan es disebabkan oleh awan kumulonimbus, salju disebabkan oleh awan nimbus stratus,” ujarnya menjelaskan.

Salju bisa bertahan lama di permukaan tanah karena suhu daratan juga sangat rendah. Selain itu, faktor tekanan juga bermain.

Hujan es (Tribunnews)

Hujan dalam bentuk es disertai angin kencang merupakan dampak terburuk yang bisa terjadi akibat akumulasi awan kumulonimbus. Namun menurut Hary, hujan es bukan fenomena luar biasa. Yang harus dipersiapkan justru mengadapi potensi angin kencang yang bisa mengakibatkan pohon tumbang dan kerusakan beberapa bagian bangunan. (tom)