Semua orang pasti pernah bermain layang-layang, dari anak-anak, bahkan hingga orang dewasa. Tapi pernahkah kita bertanya, kapan pertama kali layang-layang muncul?

Sebuah bukti autentik menemukan, layang-layang pertama berasal dari bangsa Tiongkok sekitar 16 abad yang lalu. Sosok yang pertama kali memperkenalkan layang-layang adalah dua filsuf Tiongkok, yaitu Mo Di dan Gongshu Ban, sekitar abad ke-5 Masehi.

Layang-layang (Eventsid)

Layang yang mereka terbangkan tak seperti layang-layang yang kita lihat saat ini yang terbuat dari kertas, tapi terbuat dari daun. Di Tiongkok, layang-layang juga kemudian digunakan untuk mengukur jarak, mengetes angin, serta mengirim sinyal komunikasi operasi militer. Dari Negeri Tirai Bambu itu, layang-layang kemudian menyebar ke Indocina, India, Nusantara, juga Eropa dan Amerika, hingga akhirnya menyebar ke segala penjuru bumi, termasuk Jepang dan Malaysia.

Saat ini hampir setiap negara di dunia memiliki budaya pembuatan layang-layang dengan beragam bentuk dan kegunaannya. Salah satu yang paling terkenal adalah saat Benyamin Franklin tahun 1750. Mantan Presiden Amerika Serikat itu mencoba aliran listrik menggunakan layang-layang yang diterbangkan ketika terjadinya badai. Dan uji coba ini kembali diulang oleh seorang Perancis Thomas Francois Dalibard 2 tahun kemudian.

Lukisan yang menggambarkan percobaan Thomas Francois (Karl-heinz-hentschel)

Menurut hasil penelitian Arkeolog Nasional tahun 1981, 1986, dan 1991, layang-layang di Indonesia pertama kali ditemukan di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Layang-layang tersebut berasal dari daun gadung yang dirajut dan dibentuk seperti layang-layang. â??Awalnya masyarakat Sulawesi Tenggara menggunakan layang-layang tersebut untuk mencari keberadaan Tuhan di langit,â? tutur Asep Irawan, pemandu Museum Layang-layang yang berlokasi di Jalan Haji Kamang Nomor 38, Pondok Labu, Jakarta Selatan.

Museum Layang-layang di Pondok Labu (Kompas)

Sekarang ini, kebanyakan layang-layang hanya digunakan sebagai sarana rekreasi walaupun ada juga yang digunakan untuk perlombaan dan balet udara. Di Indonesia, layang-layang juga digunakan untuk beragam kepentingan. Di Kepuluan Seribu, DKI Jakarta, misalnya. Di sana, banyak nelayan yang mengunakan layang-layang, yang kadang-kadang dibuat dari daun jati, untuk memancing ikan cendro (Tylosurus crocodilus). Di kalangan nelayan, teknik ini biasa disebut ngoncer. Layang-layang juga kerap dilombakan di Indonesia, terutama ketika musim lomba 17 Agustus datang atau event tertentu. Sayangnya sejak 10 tahun belakangan lomba layang-layang sudah mulai meredup di Indonesia. (tom)