Kamu pasti sering dengar kata â??Emansipasiâ?, kan? Emansipasi ya, bukan emansisapi. Apa sih pengertian emansipasi itu? Jadi, menurut KBBI, Emansipasi adalah istilah untuk usaha mendapatkan persamaan hak politik. Emansipasi erat hubungannya dengan perempuan. Emansipasi perempuan dihubungkan dengan proses persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Usaha menuntut hak ini dilakukan karena adanya ketimpangan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan akibat pengaruh budaya patriarki yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Budaya patriarki adalah budaya yang menempatkan posisi perempuan di bawah laki-laki, khususnya dalam hak-hak mereka. Perempuan menjadi pihak yang tertindas. Inilah yang mendasari mengapa perempuan Indonesia gencar melakukan gerakan emansipasi.

Pada zaman dahulu, aktivitas perempuan terbatas hanya pada aktivitas fisik di rumah. Perempuan tidak mempunyai kebebasan untuk melakukan aktivitas yang lebih kompleks di luar rumah karena aktivitas tersebut menjadi hak atau milik laki-laki. Lalu, di jaman modern seperti sekarang ini, masihkah ada perbedaan perlakuan antara laki-laki dan perempuan? Masih butuhkah emansipasi dilakukan? Hal itulah yang akan sama-sama kita bahas kali ini.

Pada era awal kemerdekaan, emansipasi perempuan memang menjadi sesuatu yang penting untuk diperjuangkan. Pada masa ini, hak para perempuan memang sangat dibatasi. Perempuan seolah-olah dipersiapkan hanya untuk menikah dan mengurus rumah. Keterampilan yang wajib mereka miliki terbatas hanya keterampilan memasak, mengurus anak, dan memuaskan suami. Di sisi lain, para perempuan pada dasarnya juga membutuhkan pendidikan yang tinggi agar tidak selalu bergantung pada orang lain. Berdasarkan hal tersebut, emansipasi perempuan memang patut diperjuangan.

Akan tetapi, di era yang sudah lebih modern seperti sekarang ini, masih butuhkah emansipasi perempuan? Jika kita melihat kenyataannya di tengah-tengah masyarakat, hak perempuan sudah lebih luas dibandingkan dengan zaman dahulu. Perempuan sudah bisa sekolah tinggi layaknya laki-laki. Beberapa pekerjaan untuk laki-laki juga sudah dikerjakan oleh perempuan. Bahkan, presiden Republik Indonesia juga pernah dipegang oleh perempuan. Lalu, pertanyaannya, masih butuhkah emansipasi di tengah zaman yang sudah modern seperti ini?

Makna emansipasi perempuan yang awalnya adalah usaha untuk memperoleh persamaan hak kini mulai bergeser menjadi semacam â??kedokâ? untuk membenarkan sikap diri yang melenceng. Batas antara hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan mulai kabur. Padahal, ada perbedaan antara hak dan kewajiban meskipun keduanya saling terkait. Para perempuan berhak untuk berprestasi di berbagai bidang tanpa batas tertentu. Akan tetapi, ia tetap memiliki kewajiban-kewajiban tertentu yang harus dipenuhi sebagai seorang perempuan. Banyak perempuan yang melalaikan kewajiban mereka dengan alasan emansipasi. Inilah yang ditakutkan dari pergeseran makna emansipasi di tengah-tengah era globalisasi ini.

Contoh kasusnya adalah jika ada anak-anak yang telantar karena orang tuanya teralu sibuk dengan karier atau urusan lainnya, para ibu membenarkan diri dengan alasan emansipasi. Padahal, mengurus anak tetap menjadi kewajiban para perempuan. Meskipun sang ibu sibuk dengan karier atau prestasinya di luar rumah, seharusnya ia tidak lupa akan kewajibannya mengurus buah hati. Akan lebih membanggakan lagi jika perempuan tak hanya berprestasi di luar, tetapi juga bisa membuat anak-anaknya menjadi pribadi yang juga berprestasi.

Dari uraian di atas, bisa disimpulkan bahwa kita memang harus lebih bijak dalam memaknai emansipasi. Jika para perempuan dibatasi haknya karena terlahir sebagai perempuan, kita tentu wajib membelanya. Akan tetapi, jika emansipasi digunakan sebagai kedok untuk melupakan kewajiban lahiriah dari seorang perempuan, kita tentu wajib mengingatkan. Pada intinya, kita harus tahu batas-batas antara hak dan kewajiban antara laki-laki dengan perempuan. (jow)