Kita pasti sering atau paling tidak pernah tertawa dalam sehari. Kemungkinan besar kamu melakukan ekspresi tersebut tanpa pikir panjang mengenai bagaimana dan mengapa tawa terjadi. Namun, lebih dari sekadar suara maupun bentuk mulut, tertawa adalah sebuah misteri yang mendalam bagi dunia sains.

Menurut sains, tawa dapat dikategorikan menjadi berbagai macam tipe, mulai dari yang asli dan spontan, hingga disimulasi (tawa palsu), terstimulasi (misalnya karena tergelitik), dan dibuat (oleh obat-obatan).

Lynne A Barker, seorang pakar neurosains kognitif di Sheffield Hallam University berkata bahwa selain manusia, kelompok primata juga bisa tertawa. â??Hal ini (tertawa) kemungkinan besar adalah hasil evolusi yang membantu mereka untuk bertahan hidup,â? tulisnya dalam The Conversation.

Ilustrasi tertawa (Fourlook)

Melalui tawa, manusia dan primata dapat meningkatkan kedekatan satu sama lain, menghindari konflik, dan mengurangi stres. Namun, semua manfaat tersebut hanya bisa didapatkan bila tawa dilakukan bersama-sama. Sebaliknya, tertawa sendiri memiliki konotasi yang buruk.

Walaupun kita telah memiliki pengetahuan yang cukup lengkap mengenai peran otak dalam menciptakan ekspresi wajah, menelan, dan menggerakan mulut serta lidah, para ilmuwan masih bertanya-tanya mengenai proses perubahan dari emosi bahagia menjadi tawa.

Untungnya, beberapa penyakit dan kondisi dapat menjawab hal ini. Sindrom pseudobulbar affect atau inkontinensia emosi misalnya. Kondisi yang sering diasosiasikan dengan trauma pada otak, penyakit Alzheimer, parkinson, dan stroke ini membuat penderitanya tidak dapat mengontrol emosi, dan menjadi sering tertawa atau menangis.

Kondisi tersebut disebabkan karena putusnya hubungan antara syaraf depan pada batang otak yang bertugas mengontrol emosi dengan syaraf yang mengatur ekspresi wajah dan emosi. Sebuah studi yang dipublikasikan pada tahun lalu, bahkan, menemukan bahwa tawa di saat-saat yang tidak tepat bisa menjadi gejala awal dementia.

Ilustrasi tertawa (Netralnews)

Menariknya, syaraf depan otak kita juga berfungsi untuk menginterpretasikan bahasa dalam konteks sosial dan emosional. Kemampuan ini membantu kita mendeteksi sarkasme dan tertawa karenanya.

Walaupun memiliki sisi gelap, tidak dapat dimungkiri bahwa tawa juga bisa menimbulkan emosi yang positif. Tertawa bersama orang lain, bukan menertawakan orang lain, bahkan dapat membuat diri kita lebih bahagia. Sebab, otak kita beranggapan bahwa orang yang bisa kita ajak tertawa bersama lebih dekat secara emosi dan menerjemahkan respons sosial tersebut menjadi lebih menyenangkan. Oleh karena itu, tidak heran bila terapi tawa menunjukkan efek yang luar biasa.

Selain memiliki manfaat baik seperti memperkuat otot jantung, sistem pertahanan tubuh, dan sistem endokrin; tawa juga berfungsi seperti obat anti-depresi yang menaikan tingkat serotonin pada otak. Hormon tersebut merupakan syaraf penting untuk perasan damai.

Jadi, berapa kali kamu telah tertawa hari ini? (tom)