Timah panas menembus kaki kirinya, sementara pecahan granat tertancap di punggung kanannya. Tersungkurlah ia. Anak buahnya berusaha membopong dan menyelamatkan komandannya. Namun, dalam situasi seperti itu, ia memilih jalannya sendiri.

Itulah sekelumit kisah Kolonel Inf Agus Hernoto di buku “Legenda Pasukan Komando: Dari Kopassus sampai Operasi Khusus”.┬áBuku ini mengisahkan Agus Hernoto, anggota pasukan komando berkaki satu yang tetap memiliki semangat juang tinggi, menjiwai motto berani-benar-berhasil, bahkan setelah lama keluar dari Kopassus.

Buku Legenda Pasukan Komando (Tajuk)

Agus mengajukan diri ketika Benny Moerdani, atasannya, bertanya siapa yang siap ikut dalam pembebasan Irian Barat. Pada Operasi Benteng Ketaton di Irian, dropping pasukan terjun payung dilaksanakan dengan sasaran sebelah utara kota Fak-Fak. Para penerjun mendarat tersebar. Beberapa tersangkut di pepohonan, beberapa mendarat di tanah. Mereka yang berhasil mendarat terlibat kontak senjata dengan pasukan Belanda. Karena kekuatan tidak seimbang, maka pasukan menyusup ke hutan.

Pergerakan pasukan dilakukan dengan kondisi yang semakin lemah karena kehabisan bahan makanan. Terjadi kontak dengan pasukan Belanda yang menyebabkan tiga orang gugur yaitu Atjim Sunahyu, Suwito, Lestari, dan dua orang dari RPKAD. Adapun, Agus Hernoto dan beberapa anggota tertembak. Agus Hernoto ditinggalkan teman-temannya dengan harapan dirawat tentara Belanda yang memiliki satuan medis lebih lengkap. Selang beberapa hari setelah tertembak, Agus Hernoto ditemukan oleh pasukan Marinir Belanda yang melakukan pembersihan daerah pertempuran.

Diketahui bahwa luka-luka Agus sudah membusuk, bahkan sudah muncul belatung. Oleh pasukan Belanda, Agus dirawat hingga salah satu kakinya diamputasi. Agus dikenal sangat dekat dengan Benny Moerdani. Meski kakinya menggunakan kaki palsu, dia tetap dipercaya Benny Moerdani dalam Operasi Seroja, operasi masuknya TNI ke Timor Timur. Bahkan, Agus Hernoto pun dipercaya untuk menjabat sebagai ketua tim Intelstrat. Pada perjuangan integrasi Timor-Timur 1975, Agus Hernoto sering mengemudikan Jeep Willis terbuka seorang diri di Atambua.

Agus lalu dikeluarkan dari Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) karena cacat. Namun, dia lantas dibela oleh atasannya, Benny Moerdani. Akibatnya, Agus dan Benny malah dikeluarkan dari RPKAD.

Sekeluarnya dari Kopassus, Agus sempat bergabung dengan Resimen Tjakrabirawa atau Pasukan Pengawal Presiden RI Sukarno. Benny sendiri bergabung dengan Komando Cadangan Strategis Angkatan darat (Kostrad).

Agus dan Benny kemudian bergabung dengan Operasi khusus (Opsus) yang dipimpin oleh Ali Moertopo. Keduanya bertanggung jawab langsung kepada Presiden Soeharto. Di dalam Opsus Agus menjadi orang kepercayaan Ali dan Benny. Bahkan, siapa pun yang ingin bertemu dengan Ali dan Benny harus melalui dia sehingga muncul ungkapan “Agus itu Opsus. Opsus itu Agus”.

Setelah mendapat kesaksian akan keberanian Agus dari tentara Belanda yang menawannya, pemerintah memberikan penghargaan Bintang Sakti kepada Agus. Tak banyak prajurit meraih penghargaan tertinggi di militer ini. Hanya mereka yang menunjukkan sikap luar biasa dalam tugas negara yang pantas menyandangnya. Agus adalah salah satunya.

Agus Hernoto (YouTube)

Kisah Agus sendiri juga tetap diingat oleh Presiden kedua RI, Suharto, sehingga setiap kali bertemu, Suharto selalu menanyakan kondisi kaki Agus.

Selama hidupnya, Agus mengabdi kepada bangsa dan negara sejak masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan dalam Divisi Brawijaya di Malang. Dia kemudian bertugas di Batalion Andi Mattalatta di Makasar, Sulawesi Selatan, RPKAD (Kemudian menjadi Koppasus), Operasi Pasukan Khusus (Opsus) di bawah Kostrad, menjadi Opsus di bawah Bakin, dan terakhir di Pusintelstrat Hankam (kemudian bernama Bais ABRI).

Di dalam Opsus Agus bertugas menjadi semacam Komandan Detasemen Markas atau Dandenma) yang mengatur segala hal terkait operasi-operasi opsus. Ia juga terlibat dalam berbagai operasi Opsus di Irian Barat dan Timor Timur.

Yang menarik, ternyata kisah hidup Agus Hernoto beririsan dengan berbagai peristiwa dan tokoh besar di republik ini terutama di zaman Orde Baru. Mengikuti sosokya, kita bisa ikut mencermati sepak terjang tokoh Orde Baru, seperti Benny Moerdani maupun Ali Moertopo dari sisi Agus Hernoto.

Sosok Agus Hernoto merupakan salah satu jendela bagi kita untuk meneropong perjalanan awal Kopassus dan kiprah seorang prajurit Komando setelah tidak bergabung dengan Kopassus.

Lewat Agus, bisa dikatakan bahwa semangat juang dan identifikasi diri seorang anggota pasukan Komando tidak akan luntur, bahkan ketika tak lagi bertugas sebagai Kopassus. (tom)