Limbah kulit singkong biasanya dibuang karena dianggap tidak bermanfaat. Namun bisa bermanfaat di tangan Rafi Jaya dan Suprihatin, penemu muda asal Pati, Jawa Tengah.

Remaja asal Kayen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah membuat kreasi yang luar biasa. Dua remaja berhasil memanfaatkan bahan yang sebelumnya tidak memiliki nilai guna sekalipun menjadi sesuatu yang membanggakan. Bagaimana tidak, dengan kulit singkong mereka menciptakan bahan baku dari badan pesawat.

Bapak Suroto yang merupakan Kepala Sekolah kedua remaja dari SMA PGRI 2 Kayen ini mengungkapkan bahwa temuan yang kedua siswanya ini tidak didapatkan dengan mudah. Dalam proses penemuannya yang luar biasa, mereka membutuhkan diskusi yang panjang dan juga membaca banyak hal dari berbagai referensi.

Riset Bahan Pembuat Badan Pesawat (Koranmuria)

Rafi dan Suprihatin mengaku mendapatkan ide dari banyaknya kulit singkong tak terpakai, yang dibuang oleh warga setelah buahnya mereka olah menjadi bahan pembuatan tepung. Bahkan limbah kulit singkong di Kabupaten Pati mencatat 10 ton tiap bulannya, limbah tersebut kian hari kian menumpuk dan tidak ada yang mengolahnya.

“Ketertarikan saya mengubah limbah kulit singkong dan serat batang pisang ini, karena terdapat banyaknya limbag kulit singkong yang mencapai 10 ton di Kabupaten Pati, khususnya di Kecematan Margoyoso yang mencapai 10 ton bahkan lebih di setiap bulan,” ujar Rafi seperti dikutip dari Liputan6com, Selasa (16/5/2017).

Setelah melalui berbagai penelitian dan uji coba, mereka kemudian mendapatkan informasi bahwa kulit singkong ternyata mengandung serat yang cukup baik sebagai bahan komposit. Melalui proses selama satu tahun, akhirnya mereka berhasil menciptakan komposit yang tidak hanya terbuat dari kulit singkong, tetapi juga dari serat kulit pisang.

Serat kulit pisang dan kulit singkong (Doulospusat)

Ternyata pelepah pohon pisang masih jarang dimanfaatkan untuk industri selain sebagai bahan baku pembuatan uang kertas. Kulit pisang tersebut mereka kumpulkan dan diambil seratnya satu per satu dan setelah itu mereka potong sekitar dua milimeter.

Menurut Suprihatin, bahan yang digunakan selain kulit singkong dan serat kulit pisang adalah cairan H2SO4, aquades, paselin, resin dan juga katalis. Setelah diroses melaui pemanasan dengan suhu 300 derajat, maka akan menghasilkan komposit.

Remaja-remaja kreatif ini mencoba menggabungkan kulit singkong yang sudah dibuat karbon aktif dengan serat batang pisang. Hal tersebut dilakukan agar komposit atau bahan gabungan yang mereka ciptakan lebih tahan terhadap korosi. Kemudian dengan menggunakan bahan kimia resin. Ternyata gabungan antara karbon aktif dari kulit singkong, serat pohon pisang dan juga katalis mampu menaikkan kuat tekanan.

Apresiasi dari Bosch In Indonesia Untuk Suprihatin dan Rafi Jaya Sutrisna (Beritagar)

Komposit yang kedua remaja ini ciptakan dengan menggabungkan dua persenyawaan bahan baku ternyata dapat berperan sebagai pengganti besi pada pesawat ataupun industri otomotif. Bahkan hasil temuan mengatakan bahwa komoposit ini lebih kuat daripada besi. Apalagi komposit ini diklaim massanya lebih efisien, ringan, lebih awet dan juga tahan daripada besi. Sehingga bahan komposit ini dapat digunakan untuk industri secara luas.

Penghargaan Medali Emas di International Inventors Project Olympiad di Georgia (Manteb)

Riset yang mereka lakukan ini pada April 2016 lalu berhasil mendapatkan penghargaan berupa medali emas dalam ajang IYIPO (International Inventors Project Olympiad) di Georgia. Dari ajang tersebut mereka mengalahkan lebih dari 100 proyek ilmiah dari 35 negara di dunia seperti Amerika Serikat, Jerman, Slovakia, Bosnia, Denmark, dan beberapa negara lainnya. (tom)