Beberapa waktu belakangan ini nama Afi Nihaya Faradisa mendadak viral di dunia maya. Hal ini lantaran status-status Facebooknya yang kritis dan berani telah menginspirasi banyak orang. Gadis yang lahir pada 23 Juli 1998 ini mengaku senang sekaligus tidak menyangka jika tulisannya yang semula sekadar curahan hatinya itu mendadak viral dan menarik perhatian banyak orang.

Faktanya, reaksi yang didapat pun beragam. Tak hanya reaksi positif dan penuh dukung, tapi banyak juga yang tidak suka dengan tulisan-tulisannya di media social itu. Bahkan, baru-baru ini akunnya sempat tidak bisa dibuka, lho. Dilihat JadiBerita, Facebook remaja asal Gambiran, Banyuwangi, yang baru lulus SMA itu sudah memiliki 387.267 Pengikut.

Berikut ini 5 status Afi yang menohok dan viral di media sosial.

1. Merenungi Pilkada.

“Sekarang bayangkan oleh Tuhan Anda dibuka semua kekurangannya. Anda dibuka semua aibnya, sehingga semua orang tahu segala kesalahan yang pernah Anda lakukan. Semua orang tahu betapa brengseknya Anda di masa lalu. Semua orang tahu betapa kacaunya kehidupan Anda di aspek-aspek tertentu. Semua dosa-dosa dan yang Anda tutup rapat selama ini, sekarang terbuka dengan begitu jelasnya.
Bayangkan hal itu beberapa detik saja.
Apakah Anda masih bernyali menjelek-jelekkan orang lain di ruang publik? Apakah Anda masih bernafsu untuk menunjukkan ketidaksukaan Anda pada Pak Ahok dan Pak Anies? Padahal tak satupun dari mereka yang kenal sama Anda.
Apakah Anda masih mau share postingan tertentu?
Tidak.
Selama ini Anda masih berani menulis status kebencian karena ‘borok-borok’ Anda sendiri masih tertutupi dengan rapi. Karena kekurangan Anda masih tersembunyi di sana sini.
Seandainya saya tahu betapa menyedihkannya kehidupan Anda, niscaya ketika Anda update, dalam hati saya akan berkata “Halah t*i :poop: !!!”
Jangan tertipu dengan sosial media, jangan terlaru larut dalam euforianya.
Sadarilah bahwa di sosial media, seseorang bisa jadi siapa saja.
Selama Anda belum sadar bahwa tampilan publik dan tampilan privat seseorang bisa sangat berbeda,
Maka Anda akan tetap menganggap dunia nyata sama berisiknya dengan dunia maya.
Nyatanya tidak.
Dan bukankah rugi sekali jika persaudaraan dan kedamaian hati kita sampai dirampok oleh hiruk pikuk yang dalam hitungan hari sudah tenggelam dan dilupakan.
Apa kabar Buni Yani?
Apa kabar Komik Marvel?
Dibelain ribut-ribut sampai darah tinggi untuk membahas hal yang dalam beberapa hari pasti ganti lagi.
Kewarasan kalah oleh ego. Persaudaraan jangka panjang tergadai oleh keriuhan yang sementara.
Ternyata benar bahwa teko hanya mengeluarkan isinya. Kekacauan yang keluar dari diri seseorang adalah refleksi dari penderitaan yang ada di dalam.
Selamat malam.
Tuhan merahmati”

2. Jumlah anak bodoh lebih banyak dari pada anak pintar.

Sebuah Catatan di Hari Pendidikan Nasional: MENGAPA JUMLAH ANAK BODOH JAUH LEBIH BANYAK DARIPADA JUMLAH ANAK PINTAR?
Ditulis oleh Afi Nihaya Faradisa

Jika sebuah kelas ditempati oleh 30 orang siswa, maka kelas tersebut akan memproduksi 10 anak pintar di peringkat atas dan 20 anak kurang pintar di peringkat bawah.
Di dunia ekonomi, pabrik yang menghasilkan lebih banyak “produk gagal” daripada “produk bermutu” akan dikategorikan sebagai kesalahan produksi, kemunduran suatu industri. Pabrik tersebut sudah selayaknya berbenah jika tidak mau mendulang kebangkrutan.

Mengenai pendidikan, saya sendiri tidak setuju dengan adanya sebutan anak bodoh dan anak pintar (pengecualian untuk yang memiliki kelainan otak).
Mengapa?
Otak manusia adalah komputer terhebat di dunia. Gali dan sadari kehebatannya.
Otak kita terdiri dari 1 triliun sel otak, dan diantaranya terdiri dari 100-200 miliar sel otak aktif (neuron) dan sisanya adalah sel-sel pendukungnya. Dan ada kabar yang menggembirakan kita bahwa menurut penyelidikan jumlah sel otak manusia normal, seperti kita, ternyata tidak berbeda jauh dengan sel otak manusia jenius, seperti Albert Einstein. Jumlahnya hanya berselisih beberapa juta saja, dan dibandingkan dengan 1 triliun jumlah sel otak kita, maka selisih tersebut tidak ada artinya. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa setiap manusia punya potensi JENIUS!
Bahkan Albert Einstein pun mengatakan bahwa didunia ini hanya ada 2 hal yang tidak terbatas, yaitu alam semesta dan otak manusia. Dia pun menyatakan bahwa kita semua terlahir dengan memiliki potensi jenius.
â??There is Genius in all of usâ? katanya.

Otak kita juga punya kapasitas penyimpanan informasi yang luar biasa banyaknya, bahkan TIDAK TERBATAS! berikut ini adalah beberapa ilustrasi untuk menggambarkan ketidakterbatasan kapasitas memori otak manusia. Menurut Prof. Marc Rosenweig, apabila dalam 1 detik saja kita bisa mengingat 10 informasi baru, dalam 100 tahun kita baru menggunakan kapasitas otak kita kurang dari 10% saja. Bahkan hasil penelitian yang lebih ekstrim lagi, yaitu oleh seorang pakar otak dari rusia, Prof. Pyotr Anokhin, dia mengatakan bahwa otak kita mempunyai kemampuan mengingat informasi sebanyak angka 1 yang diikuti angka 0 yang panjangnya 10.500.000 kilometer. Kapasitas ingatan otak manusia juga setara dengan 500 set buku ensiklopedia. Sangat mengagumkan bukan?

Namun ironisnya, menurut penelitian, rata-rata manusia baru mempergunakan kemampuan otaknya kurang dari 1% saja. Tentu angka ini juga mencengangkan bukan? Apa jadinya kalau manusia bisa mempergunakan kemampuan otaknya 10% saja, bisa dibayangkan seperti apa kemajuan teknologi dan kehidupan yang lebih baik yang bisa diciptakan manusia saat ini. Berikut ini adalah sedikit ilustrasi mengenai hal tersebut, menurut pakar otak, apabila Anda bisa mempergunakan 8 % saja dari seluruh kemampuan otak Anda, bisa menjadi seorang profesor di 8 cabang ilmu yang berbeda-beda, dan bisa menguasai 18 bahasa asing. WOW!
(Disadur dari Brain Management Series for Learning Strategy, Elex Media Komputindo 2011).

Seorang pakar pengembangan potensi otak, Dr. Tony Buzan berkata bahwa “Brain is like a sleeping giant”.
Otak kita ibarat raksasa yang sedang tidur karena potensinya yang sangat luar biasa. Sekarang tinggal tergantung kita bagaimana cara ‘membangunkannya’.

Kita pasti sepakat bahwa pelajaran sekolah itu sebenarnya sederhana jika dibandingkan dengan kapasitas otak manusia yang luar biasa. Jadi, jika seorang siswa kesulitan dalam menguasainya, patut dipertanyakan MENGAPA.

Apa yang salah selama ini sehingga manusia dengan kapasitas otak yang luar biasa tidak mampu menguasai pelajaran sekolah?

1. SISWA TIDAK MENGGUNAKAN KEDUA BELAH OTAKNYA
Siswa jarang memaksimalkan antara otak kiri dan kanan secara seimbang. Mengapa siswa lebih suka baca komik, main internet, atau main game daripada belajar? Sebab, kegiatan-kegiatan tersebut melibatkan kedua belahan otak (pelajari sendiri tentang fungsi, cara kerja, dan karakteristik kedua belahan otak), sehingga kegiatan tersebut terasa menyenangkan. Sedangkan kegiatan belajar di sekolah memaksa anak lebih dominan dalam menggunakan otak kiri saja (aspek bahasa/verbal dan logika).
Menggunakan otak kiri dan kanan dengan tidak seimbang menyebabkan para siswa:
– Tidak bisa konsentrasi
– Tidak kreatif
– Bosan belajar
– Mudah lupa
– Otak sudah merasa “penuh” padahal yang sebenarnya terjadi adalah otak sudah jenuh karena penggunaannya timpang/tidak seimbang.

2. SISWA TIDAK PERNAH BELAJAR CARA BELAJAR
Fenomena yang paling sering terjadi pada siswa (bahkan pada Anda sendiri saat di bangku sekolah) adalah cenderung lebih mementingkan:
– APA yang dipelajari, bukan BAGAIMANA cara mempelajarinya
– APA yang perlu dipikirkan, bukan BAGAIMANA cara berpikir yang terbaik dan paling kreatif

Pernahkah Anda diajarkan bagaimana cara belajar: teknik mencatat, teknik mengingat, teknik mempersiapkan ujian, teknik meringkas, dan sebagainya? Saya yakin dari TK sampai kuliah kita jarang sekali bahkan tidak pernah diajarkan semua itu oleh sekolah. Akibatnya kita tidak tahu bagaimana “cara belajar”, “cara belajar yang efektif dan efisien”, apalagi “cara belajar yang menyenangkan”.
Maka tidak mengherankan jika banyak anak yang stress ketika belajar. Ini adalah fenomena klasik.
Padahal pepatah lama mengatakan, “Jangan hanya memberi ikan, tapi ajarkan cara menangkap ikannya juga.”
Lagipula, memaksa siswa untuk selalu menambah waktu belajar dan materi pelajaran tanpa mengajarnya cara belajar yang menyenangkan justru akan membuat mereka frustasi dan pemahaman akan esensi pelajaran sangat minim.

Masing-masing siswa juga harus memahami gaya belajarnya; apakah visual, auditori, dan kinestetik.
Menurut Howard Gardner, tiap manusia memiliki kecerdasan yang menonjol. Misal, pada tes kecerdasan berganda, saya memiliki kecerdasan yang paling dominan yakni tipe kecerdasan intrapersonal. Tentu saja tipe kecerdasan Anda tidak harus sama dengan saya. Anda mungkin bertipe kecerdasan musikal sehingga Anda menyukai dan berbakat dalam bidang musik. Anda mungkin bertipe kecerdasan kinestetik sehingga Anda berbakat dalam bidang olahraga. Ada 9 tipe kecerdasan yang berbeda, tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk antar satu sama lainnya.
Tapi, sekolah umumnya hanya mengistimewakan tipe kecerdasan logika-matematika, verbal-linguistik, dan visual-spasial.
Hal itu menyebabkan siswa dengan tipe kecerdasan yang lain merasa “tidak diperhatikan”, “dikesampingkan”, “dianggap bodoh”, dan seterusnya.

Pada akhir tulisan ini,
Saya ingin menyampaikan bahwa sampai hari ini sejak saya pertama kali viral di tahun lalu karena tulisan tentang pendidikan juga,
Kesimpulan saya tidak pernah berubah:
“Sesungguhnya tidak ada siswa yang bodoh, yang ada hanya siswa yang tidak berkesempatan untuk belajar dengan benar.”

Saya capek-capek mengetik tulisan panjang yang tidak dibayar seperti ini semata-mata adalah karena saya peduli dengan pendidikan Indonesia, peduli dengan masa depan bangsa kita di tangan mereka; para siswa.

Selamat Hari Pendidikan Nasional!”

3. Balada Politik dan Tim Hore di Medsos.

Saya pikir kalau selesai pilkada, beranda bakalan adem lagi. Eh ternyata masih parah.
Tapi biasanya yang suka ‘berisik’ itu kehidupan pribadinya gak bagus-bagus amat kok.
Sebab, orang hanya bisa memberi yang ia miliki. Itu adalah koentji.
Hanya orang yang bahagia yang bisa memberikan kebahagiaan.
Sebaliknya, jika yang seseorang miliki dalam hatinya hanyalah penderitaan, maka secara tidak sadar hal itu akan terlampiaskan keluar melalui berbagai bentuk ujaran kebencian, nyinyiran, ejekan, perdebatan yang impulsif, dan sebagainya.
Tidak percaya? Buktikan saja 😉
Lagipula, beratnya menjadi muslim seperti yang dikatakan rasul: “Muslim ialah orang yang menyelamatkan orang lain dari gangguan lidah dan tangannya.”
Masih suka memprovokasi? Menghasut? Bergunjing? Mencaci? Memfitnah? Menyakiti orang lain dengan lidah dan tanganmu? Muslimkah engkau?”

4. “kau akan lebih memilih kerukunan kalian daripada sebuah kemenangan.”

Tapi, sayang, pada akhirnya kau akan lebih memilih kerukunan kalian daripada sebuah kemenangan.
Ya, kemenangan Ahok atau kemenangan FPI.
Kemenangan Patrialis Akbar atau kemenangan KPK.
Itu menjadi sama sekali tak penting manakala akhirnya kau menyadari bahwa hubungan kalian jauh lebih berharga daripada apapun yang kalian pertengkarkan.
Kemarin aku berdebat dengan seseorang tentang perbedaan tokoh, preferensi politik, apakah chatsex Rizieq asli, dan hal remeh temeh lainnya.
Tidak ada seorangpun diantara kami yang menang, tapi hubungan yang berharga terlanjur jadi taruhan. Aku terlambat menyadari bahwa mengesampingkan perbedaan di atas sebuah hubungan adalah hal yang krusial.
Bukankah kita semua selalu ingat untuk mendahulukan yang wajib daripada sunnah? Tapi kenapa kita seolah mendadak lupa untuk mendahulukan persaudaraan daripada perbedaan?
Kami menjadi begitu jauh hanya karena meributkan satu dua hal yang tidak menghasilkan apa-apa selain hanya merampas waktu dan kedamaian saja.
Mata kami menjadi buta memandang kebaikan orang sebab tertutupi oleh satu bintik ketidaksepahaman.
Padahal, dibandingkan semuanya, seorang manusia terdiri dari hal yang lebih kompleks daripada sekadar tim Ahok atau Pak Kiai, Islam militan atau moderat, NU atau tarikat.
Kami lupa untuk melihat lebih ‘dalam’ sebab termakan oleh reaksi yang serba spontan dan tentu saja minim perenungan.
Semua cahaya tiba-tiba jadi sirna saat api perbedaan dikobarkan melalui beragam perselisihan, melalui rentetan perdebatan.
Kupikir yang akan kudapatkan adalah rasa puas, ternyata hubungan baik yang jadi kandas.
Bagaimanapun, sayang, aku menulis agar kau tak perlu menyesal sepertiku. Menyesali diri yang tak pandai mengelola ego ini.”
– Afi

5. Warisan

“Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam. Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak.
Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan.
Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan.
Untungnya, saya belum pernah bersitegang dengan orang-orang yang memiliki warisan berbeda-beda karena saya tahu bahwa mereka juga tidak bisa memilih apa yang akan mereka terima sebagai warisan dari orangtua dan negara.
.
Setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan agama, ras, suku, dan kebangsaan kita. Setelah itu, kita membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri.
.
Sejak masih bayi saya didoktrin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Saya mengasihani mereka yang bukan muslim, sebab mereka kafir dan matinya masuk neraka.
Ternyata,
Teman saya yang Kristen juga punya anggapan yang sama terhadap agamanya. Mereka mengasihani orang yang tidak mengimani Yesus sebagai Tuhan, karena orang-orang ini akan masuk neraka, begitulah ajaran agama mereka berkata.
Maka,
Bayangkan jika kita tak henti menarik satu sama lainnya agar berpindah agama, bayangkan jika masing-masing umat agama tak henti saling beradu superioritas seperti itu, padahal tak akan ada titik temu.
Jalaluddin Rumi mengatakan, “Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu,
memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh.”
.
Salah satu karakteristik umat beragama memang saling mengklaim kebenaran agamanya. Mereka juga tidak butuh pembuktian, namanya saja “iman”.
Manusia memang berhak menyampaikan ayat-ayat Tuhan, tapi jangan sesekali mencoba jadi Tuhan. Usah melabeli orang masuk surga atau neraka sebab kita pun masih menghamba.
.
Latar belakang dari semua perselisihan adalah karena masing-masing warisan mengklaim, “Golonganku adalah yang terbaik karena Tuhan sendiri yang mengatakannya”.
Lantas, pertanyaan saya adalah kalau bukan Tuhan, siapa lagi yang menciptakan para Muslim, Yahudi, Nasrani, Buddha, Hindu, bahkan ateis dan memelihara mereka semua sampai hari ini?
.
Tidak ada yang meragukan kekuasaan Tuhan. Jika Dia mau, Dia bisa saja menjadikan kita semua sama. Serupa. Seagama. Sebangsa.
Tapi tidak, kan?
.
Apakah jika suatu negara dihuni oleh rakyat dengan agama yang sama, hal itu akan menjamin kerukunan? Tidak!
Nyatanya, beberapa negara masih rusuh juga padahal agama rakyatnya sama.
Sebab, jangan heran ketika sentimen mayoritas vs. minoritas masih berkuasa, maka sisi kemanusiaan kita mendadak hilang entah kemana.
.
Bayangkan juga seandainya masing-masing agama menuntut agar kitab sucinya digunakan sebagai dasar negara. Maka, tinggal tunggu saja kehancuran Indonesia kita.
.
Karena itulah yang digunakan negara dalam mengambil kebijakan dalam bidang politik, hukum, atau kemanusiaan bukanlah Alquran, Injil, Tripitaka, Weda, atau kitab suci sebuah agama, melainkan Pancasila, Undang-Undang Dasar ’45, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Dalam perspektif Pancasila, setiap pemeluk agama bebas meyakini dan menjalankan ajaran agamanya, tapi mereka tak berhak memaksakan sudut pandang dan ajaran agamanya untuk ditempatkan sebagai tolok ukur penilaian terhadap pemeluk agama lain. Hanya karena merasa paling benar, umat agama A tidak berhak mengintervensi kebijakan suatu negara yang terdiri dari bermacam keyakinan.
.
Suatu hari di masa depan, kita akan menceritakan pada anak cucu kita betapa negara ini nyaris tercerai-berai bukan karena bom, senjata, peluru, atau rudal, tapi karena orang-orangnya saling mengunggulkan bahkan meributkan warisan masing-masing di media sosial.
Ketika negara lain sudah pergi ke bulan atau merancang teknologi yang memajukan peradaban, kita masih sibuk meributkan soal warisan.

Kita tidak harus berpikiran sama, tapi marilah kita sama-sama berpikir.”

Status ini yang bikin akun Facebook Afi dinonaktifkan oleh Facebook.