Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan manusia mencapai sesuatu yang tidak terpikirkan sebelumnya, termasuk dalam segi kesehatan. Berkat kemajuan teknologi ini, dalam 10 tahun ke depan, manusia kemungkinan tidak lagi membutuhkan obat untuk mengatasi penyakit pada level tertentu.

Yuyus Kusnadi Ph.D, Principal Investigator Stem Cell and Cancer Institute mengatakan, dunia kesehatan saat ini tengah mengembangkan pengobatan dengan menggunakan sel punca (stem cell). Sel punca merupakan sel yang memiliki kemampuan memperbarui atau meregenerasi serta bisa berkembang menjadi sel apapun.

Penyakit degeneratif seperti gagal ginjal dan pelemahan otot jantung pada masa depan bisa diatasi dengan menginjeksi sel punca ke tubuh pasien.

Ilustrasi sel punca (Viva)

Sel punca dapat diambil dari darah tali pusat, jaringan tali pusat, sumsum tulang belakang, dan lemak. Namun, lemak dan sumsum tulang belakang akan mengalami penurunan kualitas sepanjang pertambahan usia.

Pengobatan berbasis sel punca saat ini sudah ada tetapi belum berkembang pesat karena keterbatasan teknologi dan pembiayaan.

Yuyus mengatakan, dalam konteks Indonesia, sementara ini pasien yang diizinkan menggunakan sel punca adalah pasien yang tidak memiliki pilihan lain. “Stem cell sementara ini yang mengerjakan subyektif dokter. Dokternya yang approve boleh pakai stem cell apa tidak,” kata Yuyus seperti dikutip dari Kompascom, Selasa (23/5/2017).

Ilustrasi sel punca (Liputan6)

Untuk pasien yang sudah tidak memiliki pilihan pengobatan lain, sel punca biasanya diambil dari darah atau lemak. Manipulasi di laboratorium akan dilakukan untuk menguatkan sel punca tersebut.

Selain itu, sel punca juga bisa diambil dari tali pusar kerabat yang baru melahirkan. Sebagai persiapan, siapa pun bisa menyimpan tali pusatnya di bank darah untuk digunakan sewaktu-waktu. “Ke depan itu bisa juga digunakan untuk orang lain,” kata Yuyus.

Meski sekarang belum matang, pengobatan sel punca akan populer pada masa depan. “Tunggu 5-10 tahun lagi,” ungkap Yuyus.

Pengobatan sel punca menjadi jawaban bagi kelemahan penyembuhan berbasis obat saat ini. â?Obat selama ini hanya menghentikan gejala, bukan memperbaiki yang sakit,” kata Yuyus.

Perkembangan terapi sel punca (Beritagar)

Pasien dengan sumbatan di jantung misalnya, tidak sembuh karena obat. Obat yang diberikan adalah pengencer darah. Jika lebih encer, darah bisa menerobos lewat celah yang sempit diantara sumbatan.

Pengobatan sel punca tak akan murah. Menurut Yuyus, pengobatan sel punca dapat merogoh kocek pasien dari belasan hingga ratusan juta rupiah.

Saat ini, baru terdapat sebelas rumah sakit yang diizinkan melakukan terapi sel punya di Indonesia. Hak sejumlah rumah sakit untuk menyediakan terapi sel punca diatur dalam Peratusan Menteri Kesehatan raturan Menteri Kesehatan (Permenkes) nomor 32 tahun 2014 tentang “Penetapan Rumah Sakit Pusat Pengembangan Pelayanan Medis Penelitian dan Pendidikan Bank Jaringan dan Sel Punca.” (tom)