Beberapa bulan terakhir publik di Tanah Air disibukkan dengan gaduh-gaduh toleransi dan kebhinekaan, imbas dari politik Ibu Kota. Namun, di Kampung Sawah yang terletak tidak jauh dari Ibu Kota, kegaduhan itu malah tidak terdengar.

Kampung Sawah terletak di dua Kelurahan yaitu Jati Warna dan Jati Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat. Masyarakat Kampung Sawah umumnya beretnis Betawi.

Namun berbeda dengan Betawi di daerah lain yang umumnya memeluk agama Islam, masyarakat Betawi di Kampung Sawah terdiri dari tiga pemeluk agama; Protestan, Katolik, dan Islam. Meski beragam, kisah kerukunan dan toleransi di kampung ini sudah melegenda sejak jaman dulu.

Di Kampung Sawah memang terdapat tiga rumah ibadah yang lokasinya berdekatan. Gereja Kristen Pasundan, Gereja Katolik St. Servatius, serta Masjid Agung Al Jauhar Yasfi. Ketiga titik tersebut membentuk kawasan yang dikenal dengan sebutan Segitiga Emas Kampung Sawah, simbol toleransi Kampung Sawah. Intergrasi nilai-nilai toleransi kedalam budaya sehari-hari merupakan kunci dari keberhasilan warga Kampung Sawah dalam merawat kebhinekaan.

Warga Kampung Sawah (Beritacenter)

â??Kampung sawah punya tradisi hidup berdampingan, istilahnya guyub. Guyub itu keseharian kami, sudah ada sebelum republik ini berdiri. Itu merupakan tradisi nenek moyang kami.â? kata Jacob Napiun, salah seorang tokoh Kampung Sawah yang giat meyiarkan pesan toleransi dan kebhinekaan, seperti dikutip dari Metrotvnewscom, Rabu (24/5/2017).

Dewan Paroki Gereja Santo Servatius Kampung Sawah, Bekasi, Matheus Nalih Ungin mengatakan, menjaga keharmonisan di sana dibentuk Komunitas Ngeriung Bareng. Ngeriung Bareng adalah kegiatan kumpul bersama-sama membicarakan setiap persoalan tanpa memandang suku, agama, jenis kelamin, maupun usia.

Salah satunya adalah Komunitas Suara Kampung Sawah dan Koran Kampung Sawah. “Orang-orangnya dari unsur lintas agama,” kata Nalih seperti dikutip dari Merdekacom.

Selain itu, kata Nalih, di sana ada filosofi selalu dijunjung warga Kampung Sawah, terutama bukan warga asli. Filosofi itu, siapa saja yang tinggal di Kampung Sawah, cari makan di Kampung Sawah, menata kehidupan di Kampung Sawah, dan minum air Kampung Sawah, harus jadi orang Kampung Sawah.

“Adat dan tradisi yang bukan Kampung Sawah boleh sejenak ditinggalkan. Kalau itu terjadi, maka kedamaian, kerukunan, dan ketenteraman pasti ada di Kampung Sawah,” ujar Nalih.

Matheus Nalih Ungin (YouTube)

Menurut Nalih, toleransi antarumat beragama harus meluas kepada toleransi antarmasyarakat. Sebab, sebelum ada sebutan toleransi antarumat beragama, warga sudah punya toleransi kehidupan bermasyarakat di Kampung Sawah. “Pada dasarnya toleransi dan kehidupan antarbermasyarakat itu sudah terbangun sejak nenek moyang kami,” lanjut Nalih.

Selain itu, setiap ada kegiatan keagamaan warga, umat agama lain saling membantu. Misalnya, pada perayaan Natal, warga muslim turut membantu melakukan pengamanan, dan menjaga kelancaran arus lalu lintas. Atau saat ada warga nonmuslim yang meninggal, maka warga yang beragama Islam tanpa komando menyiapkan tenda, kursi, dan mengabarkan ke warga lain. Malamnya, mereka duduk berdampingan dengan warga yang beragama Kristen untuk mengikuti misa arwah.

Semuanya berjalan natural seperti hari-hari biasa. Bahkan teman Kristiani juga akan selalu mengingatkan waktu salat bagi saudaranya yang muslim.

Kini, Pemkot Bekasi berencana menobatkan Kampung Sawah sebagai Kampung Pancasila. Namun, warga lebih memilih mengabadikan kampung itu sebagai Kampung Persaudaraan.

Berikut ini videonya.

(tom)