Saat berpuasa, pola makan umat Muslim menjadi berbeda dibandingkan hari-hari biasanya. Hal ini tentu saja memicu banyak perubahan pada tubuh, mulai dari otak hingga sistem pencernaan.

Meski demikian, puasa diyakini namun juga bermanfaat pada kesehatan tubuh, khususnya proses regenerasi dan fungsi otak. Hal itu disampaikan oleh spesialis senior pada Divisi Neurobiologi di Universitas California, Irving, Amerika, Taruna Bakti.

Taruna mengatakan otak adalah struktur yang sangat terorganisasi, terdiri atas ratusan miliar sel saraf (neuron) yang berhubungan. Jumlah jejaringnya ribuan triliun sel saraf (sinaps). Banyak faktor memengaruhi fungsi otak, antara lain faktor genetik, psikologi/kejiwaan, lingkungan, makanan, dan minuman.

Menurut Taruna, secara khusus, dalam ilmu saraf dikenal istilah plastisitas otak. Plastisitas otak mengacu pada kapasitas sistem saraf untuk mengubah struktur dan fungsinya sebagai reaksi terhadap keragaman lingkungan.

Ilustrasi otak (Beritaprima)

â??Tiga bentuk utama dari plastisitas jaringan otak yang dapat dijelaskan adalah plastisitas sinaptik, neurogenesis, dan fungsional kompensasi,â? ujar peneliti yang juga jebolan Departemen Neuorologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar itu, seperti dikutip dari Beritaprimacom, Kamis (1/6/2017).

Dia menjelaskan plastisitas sinaptik adalah ketika otak terlibat pembelajaran dan pengalaman baru, akan terjadi interaksi dan jejaring baru pada hubungan sel-sel saraf di otak.

Sementara itu, neurogenesis merupakan proses kelahiran dan pengembangbiakan neuron baru di otak. Sel-sel saraf baru ini akan bermigrasi ke sejumlah daerah di otak saat mereka dibutuhkan merehabilitasi atau menggantikan sel-sel yang rusak atau mati.

Sedangkan fungsional kompensasi yaitu, pada saat seseorang menua, plastisitas otak menurun. Namun, tak semua orang yang lebih tua berkinerja lebih rendah. Bahkan ada yang mengalami pencapaian kinerja lebih baik dibandingkan dengan yang lebih muda.

Ilustrasi otak (Weriau)

Taruna mengatakan, dari sisi biologi, puasa bisa mendorong kesehatan. Selama tidak makan dan minum 14 jam, maka menurutnya, sepanjang itu tubuh mengalami proses metabolisme, yaitu makanan didaur ulang sekitar delapan jam.

Rinciannya yaitu, empat jam makanan disiapkan dengan keasaman tertentu dibantu asam lambung dan dikirim ke usus. Empat jam kemudian, makanan diubah jadi sari-sari makanan di usus kecil, lalu diserap pembuluh darah dan dikirim ke seluruh tubuh. Sisa waktu enam jam adalah waktu ideal bagi sistem pencernaan untuk istirahat.

â??Penelitian plastisitas dan neurogenesis (kelenturan dan perkembangan otak), pada dasarnya sinapsis (jaringan otak) dapat berkembang berdasarkan faktor lingkungan, kejiwaan, dan makanan yang dikonsumsi,â? kata dia.

Taruna mengutip hasil penelitian dari peneliti Johansen-Berg dan koleganya, yang diterbitkan dalam jurnal Neuron Journal, menunjukkan sinapsis di otak bisa berubah selama 24 jam, yang mana terekspos pembelajaran dan latihan.

Ilustrasi otak (Starberita)

â??Lewat puasa sebulan penuh, berdasarkan plastisitas, neurogenesis, dan fungsional kompensasi, jaringan otak diperbarui. Terbentuk rute jaringan baru di otak, yang berarti terbentuk pribadi atau manusia baru secara biologis, psikologis dan fungsional,â? kata dia.

Taruna mengatakan, secara fisik, puasa mengurangi potensi stroke dan jantung koroner serta menjadikan manusia dengan pikiran lebih baik. â??Dengan demikian fungsi dan manfaat puasa bagi kesehatan pada umumnya, dan fungsional otak pada khususnya, sangat besar. Sehingga dengan manfaat di atas,â? tutupnya. (tom)