Selama Perang Salib, ada satu tokoh Muslim yang cukup dikenal. Namanya pun tersebar luas hingga negara Barat. Dia adalah Shalahuddin Al-Ayubi, atau yang dikenal di dunia Barat sebagai Saladin. Berikut ini kisahnya hingga bisa menaklukkan Tentara Salib dan merebut Yerusalem, seperti dilansir jadiBerita dari berbagai sumber.

Saladin terlahir dari keluarga Kurdish di kota Tikrit (daerah utara Irak saat ini) pada tahun 1137, ketika ayahnya, Najmuddin Ayyub, menjadi penguasa Seljuk di Tikrit. Meski dikenal luas sebagai Saladin, namun nama tersebut sebenarnya hanya nama julukan saja. Nama aslinya adalah Yusuf bin Najmuddin al-Ayyubi.

Saat itu, baik ayah maupun pamannya, Asaduddin Syirkuh, mengabdi kepada Imaduddin Zanky, gubernur Seljuk untuk kota Mousul, Irak. Ketika Imaduddin berhasil merebut wilayah Balbek, Lebanon tahun 1139, Najmuddin Ayyub diangkat menjadi gubernur Balbek dan menjadi pembantu dekat Raja Suriah Nuruddin Mahmud. Selama di Balbek inilah, Saladin mengisi masa mudanya dengan menekuni teknik perang, strategi, maupun politik. Setelah itu, Saladin melanjutkan pendidikannya di Damaskus untuk mempelajari teologi Sunni selama sepuluh tahun, dalam lingkungan istana Nuruddin. Pada tahun 1169, Saladin diangkat menjadi seorang wazir (konselor).

Saladin (Thefamouspeople)

Di sana, dia mewarisi peranan sulit mempertahankan Mesir melawan penyerbuan dari Kerajaan Latin Yerusalem di bawah pimpinan Amalrik I. Posisi ia awalnya menegangkan. Tidak ada seorangpun menyangka dia bisa bertahan lama di Mesir yang pada saat itu banyak mengalami perubahan pemerintahan di beberapa tahun belakangan oleh karena silsilah panjang anak khalifah mendapat perlawanan dari wazirnya.

Sebagai pemimpin dari prajurit asing Syria, dia juga tidak memiliki kontrol dari Prajurit Shiah Mesir, yang dipimpin oleh seseorang yang tidak diketahui atau seorang Khalifah yang lemah bernama Al-Adid. Ketika sang Khalifah meninggal bulan September 1171, Saladin mendapat pengumuman Imam dengan nama Al-Mustadi, kaum Sunni, dan yang paling penting, Abbasid Khalifah di Baghdad, ketika upacara sebelum Salat Jumat, dan kekuatan kewenangan dengan mudah memecat garis keturunan lama. Sekarang Saladin menguasai Mesir, tetapi secara resmi bertindak sebagai wakil dari Nuruddin, yang sesuai dengan adat kebiasaan mengenal Khalifah dari Abbasid.

Selama berkuasa di Mesir, Saladin merombak kembali perekonomian Mesir, mengorganisir ulang kekuatan militer, dan mengikuti nasihat ayahnya, menghindari konflik apapun dengan Nuruddin, tuannya yang resmi, sesudah dia menjadi pemimpin asli Mesir. Saladin pun menunggu hingga Nuruddin meninggal untuk bisa memulai beberapa tindakan militer yang serius.

Yang ditunggu pun tiba. Nuruddin meninggal dunia pada tahun 1174, dan Saladin pun resmi menerima gelar Sultan di Mesir. Di sana dia memproklamasikan kemerdekaan dari kaum Seljuk, dan dia terbukti sebagai penemu dari dinasti Ayyubid dan mengembalikan ajaran Sunni ke Mesir. Dia memperlebar wilayah dia ke sebelah barat di Maghreb, dan ketika paman dia pergi ke Nil untuk mendamaikan beberapa pemberontakan dari bekas pendukung Fatimid, dia lalu melanjutkan ke Laut Merah untuk menaklukkan Yaman. Dia juga disebut waliullah yang artinya teman Allah bagi kaum muslim Sunni.

Saladin (Merdeka)

Sepeninggal Nuruddin, Saladin melebarkan sayap kekuasaannya ke Suriah dan utara Mesopotamia. Satu persatu wilayah penting berhasil dikuasinya, yaitu Damaskus (pada tahun 1174), Aleppo atau Halb (1138) dan Mosul (1186).

Sebagaimana diketahui, berkat perjanjian yang ditandatangani oleh Khalifah Umar bin Khattab dan Uskup Sophronius menyusul jatuhnya Antioch, Damaskus, dan Yerusalem pada tahun 636, orang-orang Islam, Yahudi dan Nasrani hidup rukun dan damai di Suriah dan Palestina. Namun kerukunan itu terpecah akibat hasutan dan fitnah yang digembar-gemborkan oleh seorang patriarch bernama Ermite, yang kemudian mengakibatkan Perang Salib pertama, yang membuat Yerusalem jatuh ke Tentara Salib pada tahun 1099.

Saladin melawan Tentara Salib (The NeoConservative Christian Right)

Pada tahun 1187, Saladin akhirnya mempimpin serangan untuk merebut kembali Yerusalem. Peristiwa ini dikenal sebagai Perang Salib kedua. Dalam pertempuran sengit di Hittin, Galilee pada 4 Juli 1187, Saladin berhasil mengalahkan Tentara Salib, dan merebut kembali Yerusalem.

Keberhasilan Saladin ini tak berlangsung lama. Dua tahun kemudian, tahun 1189, tentara Kristen melancarkan serangan balik, yang kemudian dikenal sebagai Perang Salib ketiga, dipimpin langsung oleh Kaisar Jerman Frederick Barbarossa, Raja Prancis Philip Augustus dan Raja Inggris Richard â??the Lion Heartâ??.

Selama perang ini banyak teladan Saladin yang bisa kita tiru. Di tengah suasana perang, ia berkali-kali mengirimkan es dan buah-buahan untuk Raja Richard, lawannya, yang saat itu jatuh sakit. Bahkan Saladin juga menawarkan pengobatan. Saat itu, ilmu pengobatan Muslim dikenal sudah maju.

Saladin memasuki Yerusalem (Historyhit)

Pada tahun 1192, Saladin dan Raja Richard menandatangani perjanjian damai yang bernama Perjanjian Ramla, yang isinya membagi wilayah Palestina menjadi dua, yaitu daerah pesisir Laut Tengah bagi orang Kristen, sedangkan daerah perkotaan untuk orang Islam. Namun demikian kedua-belah pihak boleh berkunjung ke daerah lain dengan aman.

Setahun kemudian, tepatnya pada 4 Maret 1193, Saladin menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ketika meninggal dunia di Damaskus, Saladin tidak memiliki harta benda yang berarti. Padahal beliau adalah seorang pemimpin. Tapi hal baik yang ditinggalkan oleh orang baik selalu akan menjadi bagian kehidupan selamanya. Kontribusinya buat Islam sungguh tidak pernah bisa diukur dengan apapun di dunia ini. (tom)