Kita sering mendengar nama Prabu Siliwangi sebagai bagian dari sejarah Jawa, tepatnya di Sunda. Lantas siapakah Prabu Siliwangi, yang sosoknya melekat kuat dalam alam pikir masyarakat Sunda dan menjadi junjungan dalam cerita tutur, dan berjejak pada beragam jenis susastra Sunda?

Catatan awal mengenai Prabu Siliwangi samar-samar terekam dalam cerita pantun Langga Larang, Babakcatra, Siliwangi, dan Haturwangi. Keempat cerita pantun itu disebut dalam teks Siksa Kandang Karesian yang berbahasa dan beraksara Sunda Kuna, bertarikh 1518 M.

Namun, para peneliti kajian Sunda kehilangan narasi awal tersebut. Pasalnya, keempat cerita pantun itu lenyap tak berjejak. Kendati begitu, â??dengan bukti ini sudahlah jelas bagi kita, bahwa dalam tahun 1518 M Prabu Siliwangi sudah jadi tokoh cerita pantun,â? tulis Amir Sutaarga, filolog pada Museum Gajah (kini Museum Nasional) dalam Prabu Siliwangi, seperti dikutip dari Historiaid, Kamis (22/6/2017).

Amir Sutaarga (Kemdikbud)

Menariknya, sosok Prabu Siliwangi masih tampil di banyak karya sastra, terutama cerita pantun Sunda sekitar  akhir abad ke-16. Seorang linguis asal Belanda, Fokko Siebold Eringa, yang menggarap cerita pantun “Loetoeng Kasaroeng” sebagai objek disertasinya, berhasil menghimpun 37 judul cerita pantun yang dikenal luas masyarakat Sunda. Namun dalam banyak cerita pantun tersebut, Sang Prabu justru tak ditempatkan sebagai tokoh utama yang memiliki peran besar dalam cerita.

Sebaliknya, tulis Eringa dalam “Loetoeng Kasaroeng: Een Mythologisch Verhaal uit West Java” (1949), diterbitkan sebagai seri Verhandelingen van het Koniklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkekunde, (VKI), deel 8. 1949, tokoh utama yang tampil dalam cerita ialah para putranya: Jaka Susuruh, Guru Gantangan, dan Munding Laya Dikusuma.

Kaitan rekam jejak Sang Prabu dalam karya sastra abad ke-16 dengan kenyataan zaman pernah diungkap Jacobus Noorduyn, filolog asal Belanda yang menggeluti beragam naskah Sunda, mengambil pijakan dari teks Bujangga Manik yang memuat kekayaan detail topografi wilayah Jawa, Bali, dan berbagai lokasi di tanah Sunda yang dilalui Bujangga Manik, pujangga kelana asal Pakuan.

Lukisan Prabu Siliwangi (Kumpulansejarah)

Sesaat akan menyeberangi perbatasan Sungai Ci-Pamali (sungai di Brebes), batas wilayah Sunda, Bujangga Manik terlebih dulu singgah di wilayah Arega Jati dan Jalatunda, keduanya tak dikenali. Teks itu menghubungkan Jalatunda, yang biasanya mengacu pada tempat pemandian (patirthan), sebagai tempat melestarikan kenangan (sakakala) terhadap Siliwangi. Potongan kecil informasi dalam teks Bujangga Manik menunjukkan bahwa Siliwangi telah menjadi tokoh historis saat teks itu ditulis.

â??Kisahnya sudah dikenal pada masa itu, serta suatu peristiwa penting dalam hidupnya pasti telah terhubung dengan Jalatunda atau area yang lebih spesifik,â? tulis J. Noorduyn dalam â?Journeys through Java: Topographical Data from an Old Sundanese Sourceâ?, Bijdragen tot de taal, land- en volkenkunde 138, 1982.

Narasi agak lengkap mengenai laku hidup Prabu Siliwangi terdapat dalam beberapa manuskrip yang digubah pada abad ke-19, yaitu “Tjerita Prabu Anggalarang”, “Babad Pajajaran”, “Babad Siliwangi”, dan “Wawatjan Tjarios Prabu Siliwangi”. Namun muatan teks manuskrip-manuskrip tersebut, â??kurang artinya sebagai sumber sejarah, tetapi lebih banyak merupakan karya sastra yang ditulis dalam bentuk tembang,â? ujar Sutaarga.

Prabu Siliwangi tidak hanya hidup dalam teks dan rangkaian cerita. Namanya pun kerap digunakan sebagai legitimasi politik para bupati dan bangsawan Sunda. Menurut Sutaarga, dalam berbagai naskah yang kebanyakan ditulis abad ke-19, nama Prabu Siliwangi dimuat untuk memenuhi kebutuhan para bupati yang berkuasa di berbagai kabupaten di Jawa Barat, khususnya Priangan. Mereka ingin mengaitkan hubungan keturunannya dengan Prabu Siliwangi lewat babad-babad keluarga yang memuat pohon kekerabatan.

Dalam “Carita Purwaka Caruban Nagari”, sebuah manuskrip yang digubah di bawah lindungan Pangeran Arya Carbon dari Cirebon dan selesai ditulis tahun 1720, tokoh Prabu Siliwangi disebut sebagai raja Sunda yang beribukota di Pakuan-Pajajaran. Informasi serupa didapat dalam banyak manuskrip yang berasal dari pertengahan abad ke-19. Apakah realitas teks yang menghubungkan Prabu Siliwangi dengan salah seorang raja Sunda adalah realitas historis?

Hasan Djafar, ahli epigrafi, mengatakan Prabu Siliwangi tidak pernah disebut dalam sumber-sumber primer yang berasal dari prasasti dan naskah Sunda Kuna yang muatannya dapat dipercaya. Dari 23 prasasti dari masa kerajaan Sunda yang telah diteliti, 11 prasasti menyebut nama raja-raja Sunda tapi tak satu pun menyebut nama Prabu Siliwangi. Menurut Hasan Djafar, hal itu dikarenakan Prabu Siliwangi bukan nama seorang raja dan nama gelar seorang raja, tetapi julukan bagi salah satu di antara deretan raja-raja Sunda.

Lukisan Prabu Siliwangi (Sportourism)

Sejatinya, terdapat dua arus besar pendapat dari para ahli Sunda mengenai identifikasi Prabu Siliwangi. Pendapat pertama dilontarkan Ayatrohaedi, arkeolog Universitas Indonesia, yang mengidentifikasi Prabu Siliwangi dengan tokoh Raja Sunda Niskala Wastukancana. Hal itu disampaikannya dalam â??Tunas Bersemi di Bumi Suburâ?, dimuat Proceedings Seminar Sejarah dan Budaya II Tentang Galuh. Menurutnya, Siliwangi berasal dari kata â??silihâ? yang berarti â??gantiâ?, sedangkan â??wangiâ? berarti â??harumâ?; atau bermakna menggantikan seseorang yang harum atau tersohor namanya.

Raja yang harum dan tersohor namanya, menurut Ayatrohaedi, adalah Prabu Maharaja yang gugur di tanah lapang Bubat. Walau tahta kerajaan sementara sempat diisi Buni Sora selama enam tahun, Ayatrohaedi memandang Niskala Wastu Kancana merupakan raja pengganti Prabu Maharaja yang berjasa besar membangun kerajaan Sunda. Masa bertahtanya pun cukup lama, 104 tahun (1371-1357), hingga mangkat di Nusalarang.

Pendapat berbeda dikemukakan Amir Sutaarga dalam Prabu Siliwangi dan Saleh Danasasmita dalam “Tokoh Prabu Siliwangi dalam Perspektif Sejarah”. Kedua ahli itu mengidentifikasi Prabu Siliwangi sebagai Sri Baduga Maharaja, cucu Niskala Wastu Kencana, yang bertahta pada 1482-1521 dan memindahkan pusat kekuasaan ibukota di Pakuan-Pajajaran. Pada masanya kerajaan Sunda mencapai puncak kejayaan.

Prasasti Batu Tulis di Bogor (Tropenmuseum)

Terkait perbedaan pendapat itu, kemunculan sosok Prabu Siliwangi dapat dibaca sebagai sebuah fenomena zaman, gejala peralihan antara tatanan lama dan tatanan baru. Menurut Hasan Djafar, fenomena ini mirip dengan sosok Brawijaya yang dalam “Babad Tanah Jawi” disebut sebagai raja Majapahit akhir sebelum ditundukkan Demak.

Jadi, kesimpulannya, masih belum jelas apakah sosok Prabu Siliwangi memang benar pernah hidup atau hanya mitos belaka. (tom)