Tidak bisa dipungkiri hari ini teknologi sudah sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari dan menjadi kebutuhan primer. Salah satunya adalah keberadaan smartphone yang seperti sudah menjadi bagian hidup sebagian orang. Namun sayangnya keakraban dengan smartphone tersebut memiliki dampak buruk bagi kesehatan mental yakni stres yang diakibatkan dari habisnya daya baterai. Bahkan Indonesia tercatat paling rentan terkena serangan ini bagi penggunanya.

Atas dasar alasan tersebut, mahasiswa asal Surabaya akhirnya menciptakan charger smartphone canggih. Bukan menggunakan listrik, namun charger ini menggunakan panas tubuh. Charger ini merupakan ciptaan dari tim yang terdiri dari Raja Bugatti, Luqyana Salsabila, Lendy Pradhana, Syahrul Munir, dan Vinda Aprilia. Kelimanya tercatat sebagai mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Proses percobaan Hand Charging (Unair)

Hasil inovasi mereka yang bernama “Hand Charging, Charge The World , Charge The Society” kemudian dituangkan dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Eksakta (PKM-PE) . Di bawah bimbingan dosennya, Supadi, M.Si., proposal ini lolos penilaian Dikti dan memperoleh dana penelitian program PKM Kemenristekdikti tahun 2017.

�Kami terinspirasi dari kalor yang ada di dalam tubuh manusia dengan memanfaatkan konsep-konsep termodinamika dan hukum seeback. Karena tubuh manusia itu memiliki ion yang membawa listrik dan menghasilkan panas, sehingga memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber pengisian daya bagi smartphone,� kata Raja Bugatti, ketua tim.seperti dilansir dari laman Unair, Senin (3/7/2017).

Dua anggota Tim PKM-KC melakukan percobaan-percobaan (Unair)

Sebenarnya, lanjut Raja Bugatti, inovasi charger portable itu sudah ada, yaitu power bank. Namun yang menjadi masalah adalah terbatasnya daya yang dapat disimpan oleh alat tersebut. Sehingga apabila daya pada penyimpanan habis, power bank tidak lagi bisa digunakan.

Lain halnya dengan inovasi Hand Charging yang tidak memiliki batas daya, mengingat daya yang didapat bersumber pada panas dari tangan si pengguna smartphone. Hand Charging dapat dipakai kapan dan di manapun. Hingga pada daerah yang tidak ada listrik sekali pun, Hand Charging menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan pengisian daya pada smartphone.

Semoga saja produk buatan mahasiswa Unair ini bisa diproduksi massal, sehingga masyarakat Indonesia tak perlu lagi khawatir akan kehabisan baterai smartphone-nya ketika dalam perjalanan. (tom)