Lebaran menjadi momen yang ditunggu-tunggu umat muslim di Indonesia, tak terkecuali bagi warga Jakarta. Selain bisa merayakan Lebaran di kampung halaman, warga ibu kota juga bisa rehat sejenak dan menikmati libur bersama keluarga.  Selain itu, momen Lebaran juga menjadi kebahagiaan tersendiri bagi warga Jakarta yang tak mudik, karena mereka bisa menikmati ruas jalanan ibu kota tanpa kemacetan.

Selain jalanan yang bebas macet di Jakarta beberapa hari lalu, ada lagi hal lainnya yang cukup menarik perhatian, yaitu kondisi langit Jakarta. Seorang pengguna Facebook bernama Amadeus Pribowo mengunggah foto yang menunjukkan perbedaan langit Jakarta sebelum, selama, dan setelah Lebaran. Foto tersebut rupanya mendapatkan respons positif dari netizen dan hingga kini sudah dibagikan lebih dari 2.000 pengguna Facebook.

“This is what happens to the sky of Jakarta before, during, and after Lebaran when most of the city’s inhabitants are on vacation. (Ini apa yang terjadi di langit Jakarta sebelum, saat dan sesudah Lebaran ketika banyak penduduk tengah berlibur),” tulis Amadeus.

Amadeus mengatakan memotret tiap perubahan langit Jakarta menggunakan kamera dari smartphone miliknya. Posisi ia memotret yakni dari balkon apartemennya yang berlokasi di daerah Jakarta Selatan.

“Saya ambil foto itu setiap pagi antara pukul 07.00 WIB sampai pukul 08.00 WIB dari balkon apartemen saya. Dari segi cuaca dan sebagainya, terus terang saya nggak bisa tentukan dengan pasti di H-1 benar-benar butek langitnya. Saya notice di H-2 langit Jakarta sudah abu-abu. Saya ngobrol sama teman saya dan bilang ya mungkin ini karena orang-orang sudah mulai mudik,” ujar Amadeus seperti dikutip dari Detikcom, Senin (3/7/2017).

Amadeus yang bekerja sebagai Wakil Rektor bidang penelitian di Indonesia International Institute for Life Sciences itu menerangkan, langit Jakarta di H-1 Lebaran terlihat berwarna abu-abu kemungkinan karena polusi udara.

“Di hari H-1, saya yakin bahwa langit Jakarta terlihat abu-abu memang karena tingginya tingkat polusi udara hari itu. Udaranya sendiri sudah bau polusi. Namun ada beberapa kemungkinan juga selain polusi kendaraan, bisa pula dari polusi industri. Saya tidak bisa pastikan 100 persen. Pas Lebaran kan industri shut down. Mungkin ada pengaruhnya juga,” kata Amadeus.

Netizen pun ikut memberikan komentar pada foto yang diambil sekitar jam 8 pagi setiap harinya itu.

“Coba tiap hari berasa kaya gini. Enak banget,” kata salah satu pengguna Facebook.

“Ampe keliatan gunung gitu, baru tau di Jakarta bisa liat gunung,” ujar pengguna lainnya.

“Jakarta tidak butuh Ahok atau Jokowi untuk mengatasi polusi dan macet, Jakarta hanya butuh Lebaran,” ungkap yang lainnya.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) ada faktor lain yang mempengaruhi kecerahan. Bisa saja cuaca langit sedang tidak cerah dikarenakan cuaca berkabut sehingga jarak pandang (visibility) terbatas.

“Setiap hari itu ada namanya kondisi cuaca terkini. Biasanya berkaitan dengan suhu dan kelembaban udara. Bisa saja dengan cuaca saat ini, kalau berkabut, sudah mengurangi jarak pandang biasanya,” ujar Kepala Bagian Humas BMKG Harry Tirto Djatmiko.

Harry mengatakan, jika ingin membandingkan kondisi langit di suatu tempat harus di jam yang sama setiap harinya. Sehingga, perbandingan secara visual atau kasat mata lebih akurat. “Kalau rentangnya misalnya diambil pukul 06.00 terus satu lagi pukul 07.00 ya nggak fair dong. Misalnya bisa jadi gambar yang diambil pukul 06.00 dengan kondisi berkabut,” imbuhnya. (tom)