Berbicara tentang wisata Indonesia pasti tidak akan terlepas dari Bali. Tak hanya terkenal di Indonesia, ketenaran Bali sebagai destinasi wisata favorit juga terkenal hingga ke mancanegara. Tak hanya artis-artis luar negeri yang sangat suka berlibur ke Bali, tokoh-tokoh ternama seperti Raja Salman dan Obama pun terpikat dengan kearifan lokal budaya Bali dan juga tempat-tempat wisatanya yang masih asri. Salah satu tempat yang sangat menarik untuk dikunjungi adalah desa wisata Penglipuran yang ada di Kecamatan Bangli.

Desa Penglipuran (hipwee.com)

Desa ini mendapat predikat sebagai desa terbersih dunia bersama dengan desa terapung Giethoorn di Overijssel Belanda dan desa Mawlynnong di India. Predikat ini diberikan oleh TripAdvisor pada tahun 2016 yang lalu. Sebelumnya desa ini pernah mendapat penghargaan Kalpataru sebagai desa terbersih di Indonesia pada tahun 1995 karena selain dianggap bisa melestarikan lingkungan setempat agar tetap asri dan bersih, desa ini juga masih mempertahankan adat budaya para leluhurnya hingga sekarang.

Bagian Depan Desa Penglipuran (serve.hipwee.com)

Nama sesa Penglipuran berasal dari kata Pengeling Pura yang artinya tempat suci untuk mengingat para leluhur. Masyarakat desa ini awalnya berasal dari Desa Bayung Gede dan Kintamani yang bermigrasi permanen ke desa Kubu Bayung yang akhirnya bernama desa Penglipuran. Desa Penglipuran awalnya adalah desa adat biasa yang berkembang menjadi desa wisata adat yang kini sangat ramai dikunjungi para wisatawan lokal dan mancanegara. Pada tahun 1990, ada seorang mahasiswa Udayana yang melakukan KKN (Kuliah Kerja Nyata) dan meninggalkan jejak berupa pembangunan taman-taman kecil dan penataan lingkungan di desa ini hingga pada akhirnya terus dikelola oleh masyarakat setempat hingga sekarang.

Bangunan Rumah di Desa Penglipuran (ganlob.com)

Desa yang berada di atas ketinggian 700 mdpl ini memiliki luas area sebesar 112 hektar dengan jalanan yang tidak diaspal tapi menggunakan batuan alam dengan badan jalan yang dipenuhi rerumputan hijau, pohon, dan bunga warna-warni di bagian kanan dan kirinya. Terdapat sekitar 200 rumah bergaya tradisional yang berderet dan berjajar rapi. Rata-rata arsitektur bangunan rumah-rumah tersebut terlihat sama padahal jika kamu lihat dengan jelas ada beberapa perbedaan dari segi ukuran, bentuk atap, dan warnanya. Meski demikian, bangunan yang ada di sana selalu ditempatkan secara konsisten alias tidak pernah dipindah-pindah. Misalnya saja bangunan suci harus terletak di hulu, perumahan di bagian tengah, sedangkan ladang usaha berada di pinggir atau hilir.

Bagian Depan Desa Penglipuran (kura2bus.com)

Masyarakat desa Penglipuran yang berjumlah sekitar 985 jiwa menganut sebuah falsafah Tri Hita Karana yang memiliki arti selalu menjaga keharmonisan dalam relasi sesama manusia, manusia dengan Tuhan, dan manusia dengan lingkungan. Maka tak heran jika saat memasuki area desa ini, kamu akan merasakan sejuk dan segarnya udara asri pedesaan karena setiap rumah harus menanam tanaman hijau. Kamu bahkan tidak akan menemukan satu pun sampah yang berada di pinggir jalan atau halaman rumah warganya karena sejak kecil mereka terbiasa untuk selalu membuang sampah pada tempatnya dan selalu menjaga lingkungan.

Penglipuran Tempat Sampah (www.mongabay.co.id)

Setiap bulannya, ibu-ibu PKK yang ada di desa ini selalu melakukan pemilahan sampah antara sampah organik dan non-organik. Sampah organik akan diolah menjadi pupuk sementara sampah non-organik akan dijual dan ditabung ke bank sampah. Di desa Penglipuran, kamu tidak boleh merokok sembarangan dan harus merokok di tempat yang sudah disediakan. Uniknya lagi, kendaraan bermotor tidak diperkenankan masuk ke jalan utama desa ini. Mobil dan motor harus ditaruh di garasi belakang rumah dengan jalur masuk yang berbeda dari jalur utama.

Desa Penglipuran (www.pegipegi.com)

Jadi penasaran ingin datang dan melihat langsung desa Penglipuran? Kamu bisa datang kapan saja ke desa ini, tapi waktu terbaik berkunjung ke sana adalah pada saat menjelang Hari Raya Galungan atau setelah Hari Raya Galungan karena di hari-hari tersebut kamu akan melihat jejeran penjor berupa pohon bambu panjang yang dihias dengan daun kepala seperti janur dan ditancapkan di setiap rumah di desa ini. Kamu juga bisa melihat gadis-gadis Bali yang berpakaian adat sambil membawa banten persembahan menuju Pura dan Ngelawang Barong yang hanya ada saat Hari Raya Galungan.

Ngelawang Barong di Bali (hindudamai.com)

Untuk dapat sampai ke desa Penglipuran, kamu cukup naik kendaraan selama kurang lebih satu hingga satu setengah jam karena jaraknya hanya 45 km dari Denpasar. Lokasinya tak jauh dari Gunung Batur dan Kintamani. Sementara untuk tiket masuknya, kamu hanya dikenakan biaya Rp 15.000 saja per orangnya. Sedangkan untuk turis asing Rp 30.000. Cukup murah bukan? Semoga desa wisata adat ini masih tetap terjaga kebersihannya serta adat istiadatnya hingga bertahun-tahun lamanya ya JBers. (jow)