ilustrasi plagiarism

Beberapa waktu lalu, nama Afi Nihaya Faradisa anak muda yang terkenal berkat status-statusnya yang dinilai menginspirasi menjadi viral. Semua tulisannya bertema kebangsaan, keberagaman dan situasi anak muda kekinian, langsung menjadi sorotan. Namun, siapa sangka, di tengah ketenarannya itu, ada sejumlah netizen yang menduga bahwa beberapa status remaja itu merupakan hasil plagiarisme. Hal ini tentu saja membuat gadis yang berusia 18 tahun itu sempat down.

Plagiat emang bukan suatu hal terpuji. Namun, sebenarnya, siapa saja bisa, lho terseret kasus plagiarisme seperti yang menyeret Afi. Baik secara sadar atau nggak, dan secara disengaja maupun nggak disengaja. Nah, makanya nih, buat kamu yang punya hobi menuangkan gagasan lewat tulisan atau karya lainnya sejak muda, harus tahu nih aturan biar karyamu gak kesandung masalah plagiarisme. Apa saja? Simak ulasan pentingnya berikut ini.

1. memahami terlebih dulu, apa itu plagiarisme?

dream.io

Guru Besar Universitas Indonesia Rhenald Kasali, seperti dikutip dari kompas.com, menyatakan plagiat atau tidak, hanya berlaku untuk karya ilmiah. Sepanjang kata-kata atau tulisan merupakan pendapat umum, hal itu tidak bisa dikategorikan sebagai plagiarisme. Menurut Rhenald Kasali, ada proses panjang untuk menentukan sebuah artikel dianggap plagiat atau tidak. Bahkan di ranah akademik, untuk memutuskannya harus melibatkan dewan guru besar dan dalam waktu yang tidak singkat.

Dia mencontohkan kata-kata populer dari Aa Gym yaitu ‘perubahan harus dimulai dari diri sendiri’, sebenarnya merupakan kutipan dari John Maxwell. Namun si pemilik kutipan asli tidak mempermasalahkan dan sekarang kutipan tersebut terkenal sebagai kutipannya Aa Gym, dan itu bukan merupakan plagiarisme. Berbeda dengan kasus yang pernah terjadi pada Anggito Abimanyu, salah satu akademisi di perguruan tinggi yang seharusnya paham dengan kaidah-kaidah penulisan, di mana tulisan yang terbit di Harian Kompas dinyatakan sebagai praktik plagiarisme. Dalam artikel yang ditulisnya, dia tidak menyebutkan sumber data yang dipakai untuk mendukung tulisannya.

2. Selalu menyantumkan sumber.

heypipit.com

Mengutip seluruh atau sebagian tulisan karya orang lain, sebenarnya sah-sah saja. Namun, seperti yang Rhenald Kasasi sebutkan di atas, maka agar sebuah karya tidak disebut plagiat, maka ‘si penulis ulang’ wajib memberikan keterangan dari mana informasi yang dituliskan didapat. Ini merupakan suatu keharusan bagi penulis muda sebagai bentuk apreasiasi terhadap sesama penulis maupun sebagai bentuk tanggung jawabmu. Kamu juga nggak mau kan, kalau idemu disalin, baik seluruh maupun sebagian, oleh orang lain?

3. banyak belajar tentang teknik penulisan.

en.uit.no

Dituliskan Okezone, tindakan plagiarisme dapat dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan niat pelakunya. Ada yang disebut inadventent plagiarism, yaitu penjiplakan secara tidak sengaja yang dilakukan akibat ketidaktahuan penulis terhadap standar penulisan ilmiah yang berlaku. Ada pula deliberate plagiarism, yaitu penjiplakan yang dilakukan dengan kesengajaan untuk dipublikasikan sebagai karya sendiri.

Nah, agar kamu terhindari dari jeratan plagiarisme di atas, kamu harus memperluas pengetahuan tentang teknik-teknik penulisan. Pada beberapa kasus, seseorang mungkin tidak bermaksud untuk menjadi plagiat, namun ketidaktahuan bisa menjebak mereka melakukan inadvendant plagiarism. Untuk itu pelajarilah terlebih dahulu aturan baku penulisan yang secara umum telah distandardisasikan, atau yang secara khusus telah dijadikan rujukan oleh institusi atau lembaga tempat tulisanmu akan diterbitkan. Gak susah, kan?

4. Menuliskan kembali dengan bahasa sendiri.

wikihow

Pengutipan secara keseluruhan memang sangat berpotensi terjadinya plagiarisme. Maka, tips agar kamu terhindar dari masalah ini adalah dengan mengungkapkan kembali suatu tulisan dalam bentuk susunan baru, sesuai dengan gaya bahasamu sendiri, tanpa bermaksud mengubah makna aslinya. Kegiatan ini kerap dikenal dengan istilah parafrase. Untuk dapat melakukan ini, kamu juga harus rajin membaca buku atau informasi secara cermat. Barulah setelah itu mencatat inti-inti yang sesuai dengan maksudmu, kemudian mengembangkannya menjadi pokok pikiran yang diuraikan menggunakan bahasamu sendiri. Tapi sekali lagi, sumber asli juga tetap harus dicantumkan ya!

5. cek dengan aplikasi anti plagiarisme.

plagiarismcheckerx.com

Dengan semakin berkembangnya teknologi, mengetahui apakah karyamu termasuk bentuk plagiat atau bukan, kamu bisa langsung mengeceknya di aplikasi anti plagiarisme. Ada beberapa situs atau aplikasi yang mendukung hal ini, misalnya gtPlagiarismTest atau plagiarism-checker. Penggunaan aplikasi atau situsnya pun tidak sulit kok, kamu hanya cukup copypaste-kan naskahmu di sana, lalu tulisanmu akan dibandingkan dengan tulisan-tulisan yang sudah terbit sebelumnya. Kemudian, kamu bakal tahu berapa persen tingkat kemiripan yang ditemukan. Mudah, bukan?