Seorang dokter biasanya dibayar untuk mengobati pasiennya, namun tidak demikian halnya dengan dokter-dokter ini. Dokter Tanah Air ini rela hidup pas-pasan, asalkan pasiennya bisa terobati dan sembuh dari penyakitnya. Siapa saja mereka? Berikut kelimanya, seperti dilansir jadiBerita dari berbagai sumber.

1. Dokter Gamal Albinsaid

Dokter Gamal Albinsaid (Merdeka)

Dokter Gamal Albinsaid adalah salah satu dari pendiri Indonesia Medika. Tujuan dari didirikannya Indonesia Medika ini adalah membebaskan kaum miskin dari belenggu biaya kesehatan yang mahal. Salah satu program dari Indonesia Medika adalah Klinik Asuransi Sampah. Menurut Gamal dan kawan-kawan, sampah adalah benda yang paling tepat sebagai modal utama bagi seluruh masyarakat dengan kemampuan ekonomi terbatas. Akibat pengabdiannya tersebut, Gamal diganjar penghargaan oleh Pangeran Charles sebagai finalis Sustainable Living Young Entrepreneurs Awards di Istana Buckhingham, Inggris.

2. Dokter Ang Liana Sari

Dokter Ang Liana Sari (Twitter)

Dokter Ang Liana Sari bertugas di pedalaman Kalimantan Timur tepatnya Kecamatan Laham, Kabupaten Mahakam Ulu, sebagai tenaga kerja kesehatan. Dia sudah 7 tahun bertugas di daerah tersebut. Tentunya perjalanan yang dia lalui tak mudah, mulai dari tak ada pasokan listrik serta air bersih, hingga harus melewati 17 jam perjalanan darat dari Kota Balikpapan dan tiga jam perjalanan dengan menggunakan perahu cepat ke tempatnya bertugas, di Puskesmas Long Hubung. Program yang dia canangkan adalah Puskesmas keliling. Dengan program tersebut, dia berjalan menuju desa-desa yang tidak memiliki tenaga medis. Dalam satu hari dia mampu mengunjungi empat desa sekaligus.

3. Dokter Michael Leksodimulyo

Dokter Michael Leksodimulyo memeriksa pasiennya (Jawapos)

Dokter Michael adalah pendiri klinik keliling Yayasan Pondok Kasih. Sejak tahun 2009, dia memberikan layanan dan penyuluhan kesehatan gratis kepada warga yang tinggal di kantung kemiskinan di Kota Surabaya. Bahkan tanpa malu-malu, dia senang jika disebut sebagai ‘spesialis gelandangan’. Dia lebih memilih untuk melayani masyarakat daripada mempertahankan jabatannya sebagai wakil direktur Rumah Sakit Adi Husada Surabaya. Bagi Michael, profesi dokter adalah panggilan Tuhan. Menolong orang yang tidak punya biaya merupakan cara untuk membalas Tuhan. Sebagai pemeluk Katolik yang taat, arek Blauran itu tidak memandang perbedaan, karena semua orang meskipun berbeda agama bisa menjadi pasiennya.

4. Dokter Agus Harianto

Dokter Agus Harianto sedang memeriksa pasien anak-anak (Pontianakpost)

Setelah bertahun-tahun mengabdi di RSUD Tulehu, Ambon, Dokter Agus Harianto, SpB akhirnya memilih kerja prodeo. Dokter bedah itu mencurahkan tenaganya untuk membantu pasien di pulau-pulau kecil di Maluku. Sejak awal menjadi dokter, Agus memang tertarik mengabdi di daerah terpencil. Agus kemudian memutuskan untuk membentuk Sailing Medical Service (SMS) bersama rekan-rekannya. Hebatnya, dalam pelayanan, Tim SMS tidak memungut biaya sepeser pun kepada pasien alias gratis. Agus punya mimpi bisa memiliki kapal yang memadai untuk tugas pelayanan ke pulau-pulau terpencil. Kapal impiannya itu memiliki ruang operasi sendiri sehingga tidak perlu memindah-mindahkan peralatan medis.

5. Dokter Benediktus Andries

Dokter Andries (Detik)

Pria ini bekerja sebagai peneliti di Pusat Penelitian Malaria Timika di Kabupaten Mimika, Papua. Pusat penelitian tersebut adalah kerja sama antara Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Timika dengan Yayasan Pengembangan Kesehatan dan Masyarakat Papua (YPMKP). Meski Kota Timika sudah cukup ramai, namun daerah tersebut merupakan salah satu lokasi tempat sering terjadinya konflik. Namun itu tak menjadi hambatan bagi Andries untuk bekerja. Meski begitu, Andries mengaku tidak takut dan memilih untuk mendengar kata hatinya dibanding ketakutan pada tantangan yang ada. Ia menegaskan biarpun Papua jauh, tapi tetap masih bagian Indonesia dan seharusnya tidak dibeda-bedakan dengan daerah lainnya. (tom)