Setelah ‘Om Telolet Om’, frasa ‘Eta Terangkanlah’ tengah ramai di media sosial. Ketenaran frasa berbahasa Sunda tersebut tampak dari seringnya digunakan warganet dalam berbagai postingan atau komentar mereka di media sosial. Sebenarnya, dari mana asal kata-kata yang merupakan lirik lagu tersebut?

Ternyata, kata-kata ‘Eta Terangkanlah’ merupakan lirik parodi dari lagu “Khusnul Khotimah” karya musisi religi Opick. Aslinya, liriknya berbunyi seperti ini:

“Terangkanlah.. terangkanlah..
jiwa yang berkabut langkah penuh dosa
bila masa tlah tiada
kereta kencana datang tiba-tiba.”

Namun lirik tersebut berubah menjadi seperti ini:

“Hiji dua hiji dua tilu
Eta terangkanlah… Eta terangkanlaahhh…
Eta jiwa yang berkabut
Eta yang penuh dosa
Ampunilah… ampunilaaah…
Ampunilah zikiri dosa mas Tono.”

Opick sendiri tidak mempermasalahkan lagunya kemudian menjadi parodi yang viral di media sosial. Dia mengaku sudah melihat juga beberapa versi parodinya. “Enggak apa-apa, bagus-bagus saja. Ini namanya bentuk ekspresi,” ucap Opick seperti dikutip dari Detikcom, Rabu (9/8/2017).

Opick (Liputan6)

Lagu berlirik ‘eta terangkanlah’ itu pertama kali viral lewat video seorang pria yang berjoged sendirian. Belum diketahui siapa dan di mana pria itu, termasuk apakah lagu ‘eta terangkanlah’ itu memang diputar saat si pemuda berjoged atau ‘ditempel’ saja.

Budayawan Sunda dari Universitas Pasundan menjelaskan soal fenomena itu. Secara harfiah, kata ‘eta’ berasal dari bahasa Sunda yang berarti ‘itu’. “Sebetulnya, kalau saya lihat di YouTube itu kan pelesetan dari lagu Opick, ada kata ‘terangkanlah’ kan di lagunya. Saya nggak tahu siapa yang melesetin kenapa jadi viral,” kata budayawan Sunda, Hawe Setiawan.

Ia mengatakan kata ‘eta’ di dalam kalimat ‘eta terangkanlah’ dianggap sebagai verbal intensifiers, yaitu semacam kata bantu penguat kata kerja di depannya sehingga tidak ada artinya. Hal ini berkaitan dengan kebiasaan orang Sunda yang menambahkan kata bantu sebagai penguat kata kerja di depan kata.

Hawe Setiawan (Jurnalpos)

“Tapi dalam kesehariannya, kata ‘eta’ dapat dianggap sebagai penghantar penunjuk sesuatu. Di bahasa Sunda, ada sesekali verbal intensifiers, semacam penguat kata kerja. Misalnya, saya kasih contoh misalnya, ‘diuk’ artinya ‘duduk’, sebelum ada kata duduk biasanya ada awalan kata di depannnya, ‘gek’. Jadi ‘gek diuk’,” kata Hawe.

“Contoh lainnya, kalau mau pakai kata ‘berdiri’ dalam bahasa Sunda disebut ‘nangtung’. Sebelum ada kata ‘nangtung’, harus ada kata ‘jung’. Jadi itu harus dihafal, itu kebiasaan di bahasa Sunda. Di penutur bahasa Sunda selalu dipakai tidak punya arti tapi punya fungsi,” ucapnya.

Berikut ini video lagu aslinya.

(tom)