Apakah kamu sering merasa perjalanan pulang terasa lebih cepat dibandingkan saat pergi? Padahal jarak yang ditempuh saat pulang dan pergi itu sama? Tenang, kamu tak sendirian merasakan hal seperti itu, karena hal itu memang wajar.

Para peneliti sudah lama mengamati hal ini dan mereka menyebutknya Return Trip Effect. Walau terasa cepat perjalanan pulang tidak benar-benar lebih cepat dari perjalanan pergi, faktanya itu semua hanya ada di dalam otak kita.

Ilustrasi perjalanan (Panoramio)

Dilansir dari Vox, Selasa (22/8/2017), saat dalam perjalanan pergi otak kita cenderung lebih fokus untuk mencerna rute yang ditemui sepanjang jalan, sedangkan saat pulang jika kita melewati jalan yang sama, otak kita sudah lebih familiar dan tidak perlu lagi bekerja keras untuk fokus sehingga presepsi kita terhadap waktu akan terasa menjadi lebih cepat.

Ketika otak sedang fokus, maka presepsi otak kita terhadap waktu juga akan terasa lebih lama. Hal ini sering dialami oleh murid SMA yang otaknya mencoba fokus pada pelajaran matematika di ruang kelas yang merasa waktu seperti tidak berhenti dan tidak pernah berjalan.

Sebuah penelitian di Selandia Baru, menemukan bahwa fenomena ini lebih sering terjadi ketika kita berpergian ke tempat baru yang belum dikenal. Karena otak kita mencoba lebih fokus sedangkan ke tempat yang lebih kita kenal atau sering dilalui fenomena ini lebih jarang terjadi.

Ilustrasi waktu (Mediacerita)

Nyatanya, saat di jalan pergi sering kali kita menemui banyak hal yang membuat kita khawatir sehingga kita terus mengecek target waktu kita dan membuat efek psikologis bahwa perjalanan jadi terasa lebih panjang, sedangkan saat perjalanan pulang, perjalanan terasa lebih pendek karena kita tidak lagi terbebani ekspetasi waktu kita untuk tiba.

Jadi, kini kamu tahu kenapa perjalanan pulang lebih cepat dibandingkan berangkat. (tom)