CV (Pixabay)

Jika kamu sudah melamar kesana kemari tapi hanya beberapa kali dipanggil ke meja wawancara, atau bahkan tidak sama sekali, ada kemungkinan kamu melakukan kesalahan dalam menulis CV. Banyak pelamar kerja yang sibuk mempersiapkan diri untuk wawancara namun menulis CV secara asal-asalan, atau hanya mengambil contoh CV dari internet dan mengubah seadanya. Buat JB’ers yang mau melamar kerja, sebaiknya hindari 5 hal berikut ini dalam menulis CV.

1. Membuat CV terlalu panjang

CV (Jempolkaki)

CV yang terlalu panjang membuat peluang CV kamu dibaca semakin kecil. Jika terlalu panjang, yang membaca pun akhirnya jadi nggak fokus. Mungkin ada beberapa informasi penting di CV kamu ini, tapi karena akhirnya tidak dibaca oleh perekrut, akhirnya poin tersebut tidak tersampaikan. Sebaiknya CV yang kamu tulis dibuat informatif tapi tidak terlalu panjang dan banyak. Yang perlu kamu lakukan adalah menuliskan kemampuan dan pengalaman yang kamu miliki dan dapat digunakan untuk melaksanakan pekerjaan yang kamu lamar.

2. Memasukkan informasi yang tak relevan

CV (Waktuku)

Informasi lain yang tidak relevan tidak perlu dimasukkan, karena justru menghalangi perekrut untuk melihat informasi yang lebih penting. Informasi seperti dimana kamu sekolah SD, SMA, atau mata kuliah yang diambil tidak perlu dicantumkan di CV. Relevan itu artinya berhubungan dengan posisi yang kamu lamar. Misalnya, jika kamu melamar untuk jadi guru bahasa Inggris di pusat pembelajaran, informasi yang relevan dapat berupa kamu pernah magang praktik mengajar di sekolah, klub belajar yang kamu ikuti, atau pengalaman mengajar di tempat kursus lainnya.

3. Mengirim satu CV untuk berbagai lamaran

Kirim CV (Hidupsimpel)

CV yang ditulis untuk melamar sebagai guru tentu berbeda dengan CV yang ditulis untuk menjadi programmer. Persyaratannya berbeda, kualifikasi yang dibutuhkan berbeda, tentu saja informasi yang kamu berikan harus berbeda. Kesalahan yang paling fatal dalam menggunakan CV yang sama untuk berbagai instansi adalah kamu bisa lupa mengganti instansi yang kamu tuju di CV-mu. Yang lain perlu diperhatikan dalam mengirim CV adalah mengenai penamaan filenya. Pastikan pada saat akan dikirim, nama file-nya dibuat seprofesional mungkin. Nama yang paling aman adalah namamu diikuti CV di belakangnya seperti Susi Susanti CV.doc.

4. Fokus pada posisi atau jabatan, bukan prestasi

Ilustrasi mikir (Vemale)

Yang dimaksud posisi disini bukan posisi yang dilamar, tapi posisi kerja kamu sebelumnya atau kegiatan yang pernah kamu ikuti selama di kampus atau di sekolah dulu. Kebanyakan orang akan berfokus hanya pada posisi, misalnya dengan menulis pengalaman sebagai Ketua OSIS, Ketua BEM, atau Sales Officer. Yang dicari bukan posisi, melainkan prestasi selama kamu menjabat posisi itu. Pastikan juga prestasi ini terukur dengan angka. Contohnya sebagai ketua OSIS, kamu berhasil mendatangkan 2 ribu penonton dalam konser amal yang diselenggarakan sekolah.

5. Berbohong

Ilustrasi bohong (Merdeka)

Seperti yang dijelaskan pada poin sebelumnya, informasi yang ditulis harus relevan dengan posisi yang dilamar. Pertanyaannya, bagaimana jika kamu tidak punya pengalaman yang relevan? Apa yang harus ditulis? Salah satu solusi yang bisa diambil adalah menuliskan pengalaman lain yang walaupun tidak sama persis dengan posisi yang dilamar tapi cukup membantu dalam melakukan pekerjaan itu nantinya. Misalnya jika kamu melamar sebagai guru tapi belum punya pengalaman mengajar secara formal, tapi pernah menjadi relawan di panti asuhan, kamu bisa jelaskan pengalamanmu sebagai relawan dan membantu mendidik anak panti ini di CV. Yang jelas, jangan berbohong dengan menuliskan sesuatu yang tidak pernah kamu lakukan. Walaupun mungkin ini bisa mengantarkan kamu ke wawancara, pada saat wawancara mereka akan mengetahuinya.

Itulah hal-hal yang harus JB’ers hindari dalam menulis CV agar bisa diterima kerja. Selamat mencoba dan semoga beruntung. (tom)