Terompet tahun baru (Wartakota)

Seperti negara-negara lain di seluruh penjuru dunia, Indonesia juga memiliki tradisi saat menyambut pergantian tahun. Jika di beberapa negara Asia seperti Korea, Jepang, dan Tiongkok, masyarakatnya mengunjungi tempat ibadah untuk berdoa, berbeda dengan Indonesia yang memiliki tradisi meniup terompet saat menyambut pergantian tahun.

Sebelum membahas tentang terompet, mari kita bahas dulu mengenai asal usul perayaan tahun baru Masehi. Bagi orang modern, termasuk masyarakat di Indonesia, perayaan tahun baru mungkin hanyalah sebagai suatu momen untuk berpesta dan berhura-hura. Setelah sibuk sepanjang tahun, orang-orang merasa bahwa berpesta pora pada malam pergantian baru merupakan sesuatu yang wajar untuk melepas kepenatan. Namun, jika menilik sejarah, perayaan tahun baru tidaklah sekadar pesta biasa, tetapi sarat dengan berbagai tradisi keagamaan seperti kaum pagan, Kristen, dan juga Yahudi.

Meniup shofar (Wikipedia)

Sebelum berlakunya kalender Gregorian, bangsa Eropa di abad pertengahan umumnya menjadikan tanggal 25 Maret sebagai awal tahun baru. Mereka menyebut hari ini The Feast of Armounciarion, “Hari Raya Pemberitahuan”. Di dalam tradisi Kristen, tanggal ini dipercaya sebagai hari saat Bunda Maria didatangi Jibril yang memberitahukannya bahwa ia akan melahirkan seorang anak Tuhan.

Setelah diperkenalkan kalender Gregorian pada tahun 1582, secara bertahap kerajaan-kerajaan di Eropa merayakan tahun baru setiap tanggal 1 Januari. Kalender Gregorian ini disebut juga kalender Kristen karena menjadikan kelahiran Yesus sebagai tanggal pertama dari kalender tersebut. Meski demikian, kapan persisnya kelahiran Yesus masih menjadi perdebatan di kalangan umat Kristiani. Namun yang jelas, pembuatan kalender ini terkait dengan kepentingan religius di dalam agama Kristen. Sebagai contoh, penetapan hari Minggu (Sunday) sebagai hari libur. Hari ini merupakan hari khusus untuk berkhidmat kepada Tuhan dalam tradisi Kristen, menggantikan hari Sabtu yang lazim dalam tradisi Yahudi. Semenjak itulah mereka mengikuti kalender Julian yang berubah menjadi kalender Masehi alias kalender Gregorian.

Lalu, dari mana asalnya meniup terompet saat tahun baru? Tradisi meniup terompet ini pada mulanya merupakan cara orang-orang kuno untuk mengusir setan. Orang-orang Yahudi belakangan melakukan hal itu sebagai kegiatan ritual yang dimaknai sebagai gambaran ketika Tuhan menghancurkan dunia. Mereka melakukan ritual meniup terompet ini pada waktu perayaan tahun baru Yahudi, Rosh Hashanah, yang berarti “Hari Raya Terompet”, yang biasa jatuh pada bulan September atau Oktober.

Shofar atau serunia menyerupai terompet yang dipakai untuk merayakan tahun baru bangsa Yahudi (Wikipedia)

Terompet sendiri diperkirakan sudah ada sejak tahun 1500 Sebelum Masehi. Dahulu, alat musik jenis ini digunakan untuk militer terutama saat akan berperang dan keperluan ritual agama. Kemudian terompet dijadikan sebagai alat musik pada masa pertengahan renaissance hingga saat ini.

Selain untuk perayaan tahun baru, terompet juga dipakai oleh bangsa Yahudi memanggil masyarakatnya berkumpul untuk melaksanakan ibadah di tempat ibadah mereka yang bernama sinagoge. Artinya terompet tersebut merupakan syi’ar serta simbol keagamaan masyarakat Yahudi dalam merayakan malam tahun baru.

Setelah tahu bahwa meniup terompet merupakan tradisi bangsa Yahudi, apakah kamu tetap akan meniup terompet saat malam perayaan tahun baru? (tom)