Dana Hartono (Kompas)

Terlahir dalam keterbatasan, bukanlah alasan untuk nggak melakukan sesuatu demi berkontribusi untuk negara. Justru dari keterbatasan itu, bisa digunakan sebagai “cambuk” untuk memacu semangat meraih apa yang dicita-citakan. Pikiran itulah yang selalu ada di benak Dana Hartono, seorang mahasiswa semester VII Jurusan Teknik Kelistrikan Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS).

Dulu, setelah lulus dari tempatnya menghabiskan masa SMA-nya, yaitu SMAN 1 Purwoharjo, ia bercita-cita menjadi seorang guru. Maka ia pun memulai langkahnya dengan mengikuti tes masuk ke sebuah universitas. Namun, keberuntungan belum menyertainya. Ia tidak lolos seleksi tersebut.

Perjalanan selanjutnya membawa Dana pindah ke Kalimantan. Di sana ia bekerja bersama pamannya sebagai petani dan pedagang sayur mayur di pasar tradisional setempat. Kenyataan tersebut tidak membuat Dana menyerah untuk menata masa depannya. Bahkan, di sana ia mendapat banyak pelajaran yang membuatnya semakin kuat dan tegar, ia menamainya sebagai “ilmu berani.”

“Kadang jalan hidup membawa kita ke tempat yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Selama menjadi petani dan pedagang sayur, Saya otomatis belajar cara berkomunikasi, bagaimana menawarkan produk, melakukan manajemen waktu dan prioritas, serta menyusun strategi untuk memecahkan suatu permasalahan,” ujar Dana seperti dikutip dari Kompascom, Kamis (4/1/2018).

Dana Hartono (Kompas)

Karena kecintaannya terhadap pelajaran fisika dan berbekal “ilmu berani” yang didapatkannya, Dana memantapkan langkah untuk melanjutkan pendidikan tinggi di kampusnya sekarang. Sifat tangguh dan keinginan untuk berinovasi itu pun yang mendorong Dana untuk melahirkan berbagai karya ilmiah yang bermanfaat bagi banyak orang.

Satu inovasinya yang bisa dibilang mengagumkan adalah sebuah sumber energi baru yang bernama Hyrector. Idenya lahir pada saat Dana menyadari fakta bahwa penerangan jalan umum (PJU) ternyata masih menggunakan energi listrik tidak terbarukan (bersumber dari bahan fosil).

Kelak, energi tersebut akan habis dalam kurun waktu tertentu. Selain itu, kenaikan harga tarif dasar listrik pasti akan menambah beban biaya yang harus dibayar. Hal tersebut akan berakibat pada besarnya pajak yang harus dibayar warga negara Indonesia untuk dapat menikmati fasilitas umum tersebut.

Beberapa penerangan jalan umum yang tersedia sudah memanfaatkan sinar matahari sebagai pembangkit daya. Namun ternyata panel surya yang ada masih bersifat statis atau tidak bisa mengikuti gerakan matahari.

“Untuk itu, saya berupaya mencari sumber energi lain untuk dapat menjadikan energi surya ini berfungsi sebagai energi listrik. Hyrector adalah upaya penggabungan kedua energi terbarukan tersebut. Prinsip yang dipakai adalah bahwa semakin cepat kendaraan melaju, maka akan semakin besar energi listrik yang bisa dihasilkan dari panel surya yang dinamis,” ujarnya.

Hyrector (Kompas)

Penelitian Dana membuktikan bahwa setiap 706 kendaraan yang melintas setiap jamnya dalam satu hari dapat menghasilkan energi listrik sebesar 22kWh, serta dapat menerangi 10 titik tiang PJU.

Selain investasinya yang lebih murah dibandingkan tenaga surya, biaya operasionalnya juga lebih terjangkau apabila dibandingkan dengan PJU yang berasal dari listrik PLN. “Hyrector bisa menjadi solusi untuk menghemat pemakaian listrik, sekaligus berfungsi sebagai suplai listrik PJU,” tambahnya.

Ke depannya, Dana bercita-cita untuk melanjutkan kuliah kelistrikan ke jenjang yang lebih tinggi dan berharap mendapatkan dukungan untuk merealisasikan proyek-proyek ilmiahnya secara nyata. “Saya terinspirasi untuk bisa terus mengembangkan potensi energi terbarukan untuk pembangunan di Indonesia,” ungkapnya.

Sukses terus untuk Dana, semoga impiannya bisa tercapai. (tom)