Acara Marvel Creative Day Out, Binus University (Kompas)

Nama Marvel sudah cukup dikenal di dunia, termasuk di Indonesia. Marvel telah menelurkan berbagai judul film layar lebar bertema superhero, yang cukup laris di Indonesia. Rupanya, di balik kesuksesan Marvel ini, ada 4 orang Indonesia yang terlibat di dalamnya.

Empat ilustrator asal Indonesia yang kini sukses berkarier di Marvel Comics berbagi kisah mereka ketika kali pertama direkrut oleh perusahaan publishing ternama dunia itu. Mereka adalah Ario Anindito, Miralti Firmansyah, Yasmine Putri, dan Sunny Gho.

“Kaget sih sama sekali enggak disangka-sangka. Karena waktu itu pertama kali saya terima call itu waktu 2014. Waktu itu ada Indonesia Comic Con di Jakarta Utara┬ákalau enggak salah,” ujar Yasmine memulai ceritanya di sela acara Marvel Creative Day Out di Universitas Binus, Jakarta Barat, seperti dikutip dari Kompascom, Selasa (16/1/2018).

Editor in Chief Marvel Comics, CB Cebulski (baju merah), bersama para empat ilustrator Marvel Comics dari Indonesia (Kompas)

Dalam acara tersebut, Marvel mengadakan portofolio review untuk merekrut para komikus atau ilustrator. Yasmine kemudian mengirimkan karya-karyanya sekitar sepekan sebelum acara sesuai syarat.

“Setelah itu portofolio review pas hari H-nya. Kalau yang lolos, dipanggil dan kebetulan saya dipanggil. Terus ada satu seleksi lagi, lalu saya di-call via email. Terus abis itu ya udah jalan, Prosesnya cepat,” kata Yasmine.

Perempuan yang pernah menjadi art director di perusahaan periklanan itu kemudian bekerja sebagai cover artist untuk Marvel mulai 2015. Ia mengerjakan proyek-proyek di antaranya “Invicible Iron Man”, “The Amazing Spider-Man”, “Spider Gwen”, dan “Spider Women”.

Jalan yang sama juga ditempuh Miralti Firmansyah sebelum ia dipercaya Marvel menggarap proyek “Star Lord and Kitty Pride” serta “The New X-Men ’92”. Perempuan ini pernah mengikuti sesi portofolio review dalam comic con lokal.

“Saya masuk Marvel juga lewat portofolio review di salah satu lokal comic con. Begitu surprise dan bahagia saat saya terima email dari Marvel. I was like, really? He-he-he. That was my dream,” ujar Miralti.

CB Cebulski (Kompas)

Kemudian ada Ario Anindito yang bergabung dengan Marvel pada 2014 lalu. Proyek pertama alumnus Universitas Katolik Parahyangan ini adalah serial “Wolverine”. Sebagai penciller dan inker, Ario pernah bertanggung jawab atas ilustrasi Venom: Space Knight dan Agent of Shield. Saat dipilih oleb Marvel, ia menyebut impian masa kecilnya terwujud.

“Kalau saya senang, terharu, bangga, dan bahagia. Karena itu impian sejak kecil,” kata Ario singkat.

Sedikit berbeda dari ketiga rekannya, Sunny Gho merupakan salah satu ilustrator Indonesia pertama yang bekerja untuk Marvel Comics. Namun, Sunny baru memulai karier sebagai colorist profesional pada 2013 lalu.

“Saya join Marvel 2009. Ketika itu ditawarin ngewarnai buku kecil delapan halaman. Senang banget karena waktu itu belum ada orang Indonesia yang kerja di Marvel. Jadi tahun itu saya rasa I was one of the first yang bisa kerja di sana,” ucapnya.

“Enggak kebayang juga. Kalau terima email dari Amerika biasanya bacanya pagi bangun tidur. Bangu-bangun tuh, ‘Wah dapat kerjaan full print, oke yes he-he-he’. Habis delapan halaman itu baru diajakin bikin project yang lebih gede,” sambung Sunny.

Sunny sudah terlibat dalam berbagai proyek Marvel di antaranya “Civil War 2”, “Star Wars”, dan “Secret Empire”.

Jika memang sudah jalannya, kita akan menjadi apa yang kita impikan, dan nggak ada yang nggak mungkin. Sukses terus untuk mereka berempat. (tom)