Alun-alun Regol (Humasbdg)

Pemerintah Kota Bandung kembali menambah koleksi tamannya dengan meresmikan Taman Cikapundung Regol, kadang disebut juga dengan nama Alun-alun Regol atau cukup Taman Regol, pada tanggal 7 Februari lalu. Taman itu terletak di bibir Sungai Cikapundung di wilayah Kecamatan Regol.

Bandung sedari dulu memang sudah terdapat beberapa taman kota. Di era kepemimpinan Ridwan Kamil, beberapa taman yang sudah ada disulap menjadi lebih cantik agar lebih bersahabat dengan warganya, seperti misalnya Taman Dewi Sartika, Taman Lansia, dan taman lainnya, termasuk Taman Regol ini.

Alun-alun Regol tampak atas (Kaskus)

Yang unik dari taman ini adalah panjangnya. Jika biasanya sebuah taman nggak terlalu besar, maka beda halnya dengan Taman Regol ini. Taman Regol memiliki panjang 1 km, dan menjadikannya taman terpanjang di Bandung.

Warga jelas menyambut baik keberadaan ruang publik baru itu. Sebab, semula bantaran Sungai Cikapundung di kawasan Pasirluyu rimbun oleh semak belukar. Lalu, apa saja fasilitas yang ada di Taman Regol?

Pertama ada hamparan bunga warna-warni menghias sepanjang taman. Bunga-bunga kecil berwarna merah, hijau dan kuning tertanam rapi di sepanjang bantaran Sungai Cikapundung.

Pengunjung pun tampak asyik berswafoto dengan latar bunga-bunga cantik itu. Bunga yang tertata rapi berkolaborasi dengan puluhan pohon besar yang membuat suasana taman kian teduh nan sejuk. Suara aliran air di Sungai Cikapundung kian membuat pengunjung betah berlama-lama di sana.

Bunga berwarna-warni tertata rapi (Humasbdg)

Di taman ini juga ada kolam air dangkal. Keberadaan kolam air dangkal untuk rekreasi anak mulai menjadi identitas taman di Bandung. Seperti di Taman Sejarah dan Taman Dewi Sartika, kolam dangkal juga hadir di Taman Cikapundung Regol. Ada lima kolam dangkal yang disediakan sebagai tempat rekreasi murah bagi warga yang ingin menikmati asrinya taman sambil membawa buah hati.

Kolam dangkal di Alun-alun Regol (Kompas)

Berikutnya ada Jembatan Cinta. Jembatan ini sekaligus menjadi penghubung wilayah Regol dan Lengkong. Tedi Setiadi, Kepala Bidang Pemeliharaan Dinas Pekerjaan Umum Kota Bandung mengatakan, nama Jembatan Cinta merupakan usulannya. Tedi mengatakan, seperti namanya, jembatan dan taman secara keseluruhan diharapkan dapat menumbuhkan cinta, baik hubungan keluarga maupun dengan lingkungan, kepada warga Bandung.

Jembatan Cinta (Kompas)

Yang terakhir ada tempat untuk duduk-duduk. Tempat duduk-duduk ini dilengkapi dengan lampu taman, sehingga meskipun malam hari, taman ini masih bisa dikunjungi. Sambil menikmati temaram lampu taman, pengunjung juga bisa duduk di hampir seluruh area taman. Meski nggak disediakan kursi khusus, pengunjung tetap bisa bersantai dengan nyaman di tembok-tembok taman. Namun, warga yang ingin berkunjung pada malam hari, harus lebih hati-hati sebab taman itu belum memiliki pagar pembatas sungai.

Bola batu dan area parkir (Humasbdg)

Taman Regol ini didirikan untuk membuat masyarakat betah. Kini tinggal bagaimana warga dapat menjaga ruang publik tersebut. Sebagai warga yang baik, sudah menjadi tanggung jawab kita untuk bisa menjaga fasilitas umum agar nggak dirusak tangan-tangan jahil. Semoga fasilitas ini tetap bisa terlihat indah sampai kapan pun. (tom)