Karpet merah di ajang Oscar (Time)

Dalam ajang penghargaan bergengsi dunia, entah itu Academy Awards alias Oscar atau Grammy Awards, selalu terlihat karpet merah sebelum para artis memasuki gedung tempat penyelenggaraan ajang penghargaan itu. Sebenarnya apa alasannya? Kenapa bukan warna lain?

Rupanya, penggunaan karpet merah ini sudah terjadi sejak zaman Yunani Kuno. Pada zaman tersebut, karpet merah memang udah identik dengan yang namanya penghormatan. Dalam sebuah drama berjudul “Agamemnon” karya Aeschylus, ada adegan di mana istri raja menyambut suaminya dengan karpet merah.

Raja melewati karpet merah (Wikimedia)

Diceritakan bahwa Clytemnestra, istri raja yang menaruh dendam kepada suaminya mempersiapkan karpet merah untuk menyambut kembalinya suaminya dari perang Troya. Namun, sang raja merasa ragu-ragu untuk berjalan di atas “jalan merah” yang disediakan untuk dirinya itu, karena menurut sang raja dia adalah “manusia biasa yang nggak abadi” dan bukannya dewa.

Dalam karya-karya seni Renaissance, karpet merah juga sering kali muncul, biasanya dalam bentuk permadani dari Timur dan dengan pola yang sangat rumit. Hal ini bisa dilihat di dalam lukisan-lukisan tentang para dewa, orang suci dan kerajaan.

Kenapa harus karpet berwarna merah? “Merah adalah warna yang sudah sejak lama diasosiasikan dengan gengsi, keluarga kerajaan dan aristokrasi,” kata Sonnet Stanfill, kurator senior di Museum Victoria & Albert. “Warna merah gelap merupakan pewarna paling dihargai karena sulit untuk dibuat dan paling mahal,” lanjutnya.

Pewarna atau sepuh Cochineal yang berwarna merah gelap dahulu hingga kini dibuat dari serangga kecil bernama cochineal dan dipergunakan pada abad 15 oleh orang-orang Aztec dan Maya di bagian utara dan tengah Amerika untuk mewarnai kain. Pada abad 17 pewarna cochineal menjadi barang ekspor dengan nilai tinggi. Karena itu karpet merah melambangkan status tinggi.

Karpet merah di ajang Oscar (Thehollywoodreporter)

Di Georgetown, Carolina Selatan, pada tahun 1821, kedatangan presiden Amerika Serikat James Monroe ditandai dengan diletakkannya karpet merah untuk menyambutnya di darat ketika ia tiba di sana dengan menaiki sebuah kapal. Sejak saat itu karpet merah menjadi standar dalam penyelenggaraan acara-acara penting yang melibatkan para pemuka politik.

Baru pada sekitar tahun 1920-lah, karpet merah dan Hollywood menjadi satu kesatuan tunggal. Tahun 1922 karpet merah panjang dibentangkan di depan Egyptian Theatre untuk menyambut pertunjukan perdana film “Robin Hood”, yang diperankan oleh Douglas Fairbanks. Dan dalam dasawarsa-dasawarsa berikutnya, karpet merah menjadi salah satu dari sedikit tempat di mana masyarakat umum dapat melihat sekilas bintang-bintang karismatik.

Lalu, pada tahun 1961 karpet merah juga dipasang di acara Piala Oscar atau Academy Awards di Santa Monica Civic Auditorium. Beberapa tahun kemudian, para penyiar upacara ini memilih untuk juga memfilmkan keadaan di luar gedung, dengan menunjukkan suasana saat para tamu berdatangan dengan mobil limosin mereka. Dari sinilah karpet merah itu identik dengan acara penghargaan.

Jennifer Lopez di acara Oscar (Thenational)

Sejak tahun 1964, karpet merah diakui secara global sebagai titik fokus bagi para aktor dan aktris ketika mereka tiba dengan segala kegemparan dan mempertontonkan diri di acara Piala Oscar. Mempertunjukkan diri memang inti dari karpet merah Hollywood, dan penampilan di atas karpet merah yang masuk dalam sejarah cenderung berupa momen-momen berani, penampilan yang gemerlapan dan penuh gaya, yang kesemuanya menunjukkan rasa percaya diri serta kemewahan.

Itulah alasan kenapa selalu ada karpet merah di acara penghargaan, bukan karpet warna lain. Selamat, kini kamu jadi tahu. (tom)