Sejarah Green Canyon Pangandaran berawal dari petualangan 3 orang bule Swiss yang bosan dengan suasana pantai. Siapa sangka petualangan mereka kemudian membuat jembatan tanah yang ada di Sungai Cijulang itu jadi salah satu tempat wisata favorit di Pangandaran.

Kini, Green Canyon Pangandaran sudah dikenal sebagai salah satu obyek wisata di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Padahal, konon dulunya objek wisata Pangandaran ini dikenal sebagai tempat horror. 

Adalah Asep Kartiwa, seorang guide senior yang bisa dibilang awal sejarah Green Canyon Pangandaran. 

Asep bercerita, waktu itu dia masih bekerja di Hotel Sandaan Pangandaran. Asep bertemu dengan tiga turis asing asal Swiss yang memintanya menunjukkan wisata unik di Pangandaran.

Asep mengaku bingung saat itu, lantaran tempat wisata di Pangandaran adanya hanya pantai. Namun, Asep kemudian ingat tempat dirinya berburu ular dan buaya. Waktu itu penduduk setempat masih menamakannya cukang taneuh atau jembatan tanah kalau dalam Bahasa Indonesia.

Sebelumnya Asep memperingatkan 3 orang turis tersebut, jika tempatnya angker. Namun, sebaliknya, mereka malah makin tertarik dan antusias ingin segera pergi ke Cukang Taneuh.

Asep kemudian mengajak ketiga bule tesebut naik Bus jurusan Tasik-Cijulang, sesampainya di Cijulang, mereka menginap di hotel yang ada di objek wisata Pantai Batu Karas Pangandaran.

Pagi harinya, mereka memulai petualangan mereka. Mulai dari menyusuri sungai dari Desa Margacinta, tepatnya dari sungai Cijalu, lalu menuju Muara Bojong Salawe sampai akhirnya ke Sungai Cijulang.

Sepanjang menyusuri Sungai Cijulang tersebut, ketiga bula itu dibuat kagum dengan panorama sepanjang sungai. Airnya yang jernih, apalagi perpaduan air tawar dan air lautnya membuat warna air terlihat kehijau-hijauan. 

“Dari mulai hutan nipah, hutan bakau, sampai hutan tropis kami lewati saat itu. Bahkan ikan-ikan besar warna warni, waktu itu terlihat dengan jelas di bawah perahu,” kenang Asep, dikutip dari harapanrakyat.com.

Green Canyon via Harapanrakyat.com

Bahkan menurut Asep, dalam bahasa Perancis, ketiga bule tersebut tak berhenti mengucapkan kata ‘spektakuler’.

Pemandangan sepanjang sungai Cijulang menuju ke Cukang Taneuh memang indah. Hamparan hijau hutan tropis dan tebing dengan bebatuan stalagtit, ditambah kicau burung warna warni membuat suasana terasa sejuk dan asri.

Asep juga bercerita, dirinya sempat diperingatkan oleh nelayan yang membawa perahu mereka. Mereka dilarang terlalu lama di Cukang Taneuh, lokasinya memang dianggap anggker.

Selain itu, banyak warga yang berteriak meminta rombongan Asep untuk tidak masuk ke Cukang Taneuh, apalagi terlihat ada bule dalam rombongan tersebut.

Green Canyon via Harapanrakyat.com

Namun, teriakan tersebut tak digubris Asep, apalagi ketiga bule yang dibawanya tidak terlihat takut, mereka justru senang melihat air jernih dan ikan-ikan besar, sampai mereka tergoda untuk berenang di sana.

“Saat itu kami benar-benar berenang di sana. Mungkin kami orang-orang pertama yang berenang dekat Goa Cukang Taneuh itu,” tuturnya.

Saat menikmati keindahan alam Cukang Taneuh itu, Ketiga bule tersebut menyebut Cukang Taneuh di Sungai Cijulang itu sama indahnya dengan dengan Green Canyon yang ada di Amerika Serikat. 

Mereka juga menyebut, keindahan alam seperti itu hanya bisa mereka dapati di Amerika dan Pangandaran saja. Rupanya celotehan dari bule itulah yang membuat Cukang Taneuh di Sungai Cijulang ini, kini dikenal sebagai Green Canyon Pangandaran.

Guide Promosikan Green Canyon Pangandaran

Petualangan Asep Kartiwa bersama tiga bule turis di Cukang Taneuh tersebut, rupanya memberi ilham para guide lain. Mereka mulai memasarkan Cukang Taneuh dan mulai menyebutnya dengan Green Canyon Pangandaran.

Nama itu sukses menarik perhatian para wisawatan. Sampai tahun 1992, Green Canyon pun dikenal para wisawatawan luar dan dalam negeri. Hal ini mendorong sejumlah penduduk untuk menyediakan perahu sewaan. Perahu-perahu itu digunakan untuk mengantar para wisatawan yang ingin menyeberang menuju Green Canyon.

Green Canyon via Harapanrakyat.com

Pada tahun 1994, Pangandaran masih jadi bagian Kabupaten Ciamis, Pemkab Ciamis waktu itu melirik adanya potensi wisata di Green Canyon, sehingga dibangunlah dermaga perahu Green Canyon. Dari dermaga tersebut, hanya memerlukan waktu 5 menit untuk sampai ke Cukang Taneuh Sungai Cijulang.

Sekarang, trek sungai yang menjadi objek wisata Green Canyon ada di empat desa  yakni Desa Cijulang, Desa Batukaras, Desa Kertayasa Kecamatan Cijulang dan Desa Cimerak Kecamatan Cimerak. 

Usia objek wisata Green Canyon Pangandaran kini sudah berusia 30 tahun sejak Asep Kartiwa membawa tiga bule berpetualang di Cukang Taneuh.

Selain dibangunnya Dermaga, kinia Green Canyon makin dikenal dan fasilitasnya pun semakin lengkap, apalagi setelah Pangandaran resmi berpisah dari Kabupaten Ciamis dan jadi Kabupaten sendiri.

Bahkan para wisawatan bukan hanya sekedar bisa menikmati keindahan alam di sepanjang sungai Cijulang menuju Green Canyon dengan menggunakan perahu, namun bisa juga mencoba olahraga menantang body rafting di sungai Cijulang.

Body Rafting di Green Canyon Pangandaran bahkan jadi salah satu favorit wisatawan yang berkunjung ke objek wisata di Pangandaran ini. Apalagi sudah ada paket body rafting yang disediakan pengelola wisata Green Canyon Pangandaran. 

Dari awal mula sejarah Green Canyon Pangandaran ini, tempat wisata ini memang layak untuk dikunjungi. Luangkan waktu libur Anda untuk berwisata ke Green Canyonnya Indonesia ini ya. (jow)