OMAH KAPAL, Rumah Berbentuk Perahu

296

Pernahkah Anda berkunjung ke kota Kudus? Apa yang Anda ketahui tentang kota Kudus? Ya, ketika Anda berpikir tentang kota Kudus pasti yang muncul di benak anda hanyalah tentang sebuah kota kecil yang terkenal sebagai penghasil rokok terbesar di Indonesia.

Tapi tahukah Anda, sisi lain tentang kota kudus? Selain terkenal sebagai kota kretek, Kudus juga terkenal dengan kuliner khasnya berupa Soto dan Jenang Kudus.

Tapi tahukah anda bahwa di Kudus juga terdapat sebuah warisan sejarah yang begitu mengagumkan? Selain Menara Kudus, ada satu lagi sebuah warisan sejarah yang patut dikagumi dari kota Kudus, yaitu Omah Kapal. Begitu masyarakat Kudus menyebutnya. Tak banyak yang tahu tentang bangunan kuno ini.

Omah Kapal merupakan sebuah bangunan kuno yang dibangun pada zaman pendudukan Belanda di Indonesia. Omah Kapal terletak di Jl KHR Asnawi, kelurahan Damaran, Kota Kudus. Bangunan ini merupakan salah satu bangunan yang unik, dan mempunyai nilai arsitektur yang tinggi.

Menurut kisahnya rumah berbentuk kapal ini dibangun oleh seorang pengusaha rokok terbesar di Kudus pada masa itu, namanya M. Nitisemito. Kabarnya beliau terkenang pada perjalanan waktu naik haji ke Makkah dengan menggunakan kapal laut. Untuk mengenangnya, beliau membangun sebuah rumah berbentuk replika kapal yang persis dengan yang dia tumpangi sewaktu ke Makkah.

Rumah yang dibangun dalam gaya arsitektur “modernisme” dengan sedikit pengaruh dari gaya “Streamline modern” itu sangat ngetrend pada tahun 1930-an. Bangunan berbentuk kapal ini, gagah berdiri, dan pernah jaya pada zamannya, di tahun 1930-an bangunan semacam ini merupakan banguan yang sangat hebat dan menjadi daya tarik sendiri bagi masyarakat kota kudus dan sekitarnya.

Bangunan ini menjadi salah satu landmark kota kudus saat itu. Tapi sayang bangunan ini sekarang tak lagi terawat. Kondisi bangunannya sungguh memprihatinkan. Disekelilingnya ditumbuhi rumput ilalang yang menjulang tinggi, seakan terlihat sebagai icon mistis bagi setiap orang yang melewatinya. Bangunan yang dulunya berdiri kokoh sekarang kondisinya terlihat sangat rapuh. Entah sampai kapan warisan berharga ini dibiarkan begitu saja, menjadi sebuah sejarah yang lama kelamaan akan dilupakan. (iky)