“Nyepi” sudah tidak asing lagi terdengar di kuping masyarakat kita.Mungkin bagi masyarakat yang tidak merayakannya hanya mengenal sesosok kata nyepi saja tanpa mengetahuinya lebih dalam,apa dan bagaimana sebenarnya Nyepi tersebut.Mari simak serba-serbi Nyepi yang dibahas berikut ini.

Hari Raya Nyepi adalah hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap tahun Baru Saka. Hari ini jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (IX) yang dipercayai merupakan hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudera yang membawa intisari amerta air hidup. Nyepi sendiri berasal dari kata sepi.Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan  kalender caka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi.

Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktifitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandar Udara Internasional pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit.Nah, Bandara Internasional Ngurah Rai pun kabarnya akan ditutup besok,Jum’at,23 Maret 2012.

Melis atau Mekiyis. Sudah pernah kah mendengar sebutan tersebut?

Melis atau disebut juga dengan Mekiyis adalah saat dimana umat Hindu melakukan Penyucian dengan melakukan upacara Melasti yang dilakukan Tiga atau dua hari sebelum Nyepi. Pada hari tersebut, segala sarana persembahyangan yang ada di Pura (tempat suci) di arak ke pantai atau danau, karena laut atau danau adalah sumber air suci (tirta amerta) dan bisa menyucikan segala leteh (kotor) di dalam diri manusia dan alam.

Setelah selesai melakukan Melis,masih ada ritual lagi  sebelum memasuki Hari Raya Nyepi ini. Yaitu “tilem sasih kesanga” yang artinya bulan mati yang ke-9.  Sehari sebelum Hari Raya Nyepi,umat Hindu melaksanakan upacara Buta Yadnya di segala tingkatan masyarakat,mulai dari masing-masing keluarga,banjar,desa,kecamatan dan seterusnya, dengan mengambil salah satu dari jenis-jenis caru (semacam sesajian) menurut kemampuannya. Buta Yadnya itu masing-masing bernama Pañca Sata (kecil), Pañca Sanak (sedang), danTawur Agung (besar). Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisuda Buta Kala, dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya. Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari nasi manca (lima) warna berjumlah 9 tanding/paket beserta lauk pauknya, seperti ayam brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. Buta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Buta Raja, Buta Kala dan Batara Kala, dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu umat.

Mecaru diikuti oleh upacara pengerupukan, yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Buta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar. Khusus di Bali, pengrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Buta Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir Buta Kala dari lingkungan sekitar.

Seteah upacara seperti yang disebut diatas telah selesai dilaksanakan,tibalah Hari Raya Nyepi sesungguhnya yaitu pada  yaitu pada pinanggal pisan,sasih Kedasa (tanggal 1,bulan ke-10). Pada hari ini suasana seperti mati. Tidak ada kesibukan aktifitas seperti biasa. Pada hari ini umat Hindu melaksanakan “Catur Brata” Penyepian yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Serta bagi yang mampu juga melaksanakan tapa,brata,yoga dan semadhi.

Demikianlah untuk masa baru, benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Untuk memulai hidup dalam tahun baru Caka pun, dasar ini dipergunakan, sehingga semua yang kita lakukan berawal dari tidak ada,suci dan bersih. Tiap orang berilmu (sang wruhing tattwa jñana) melaksanakan brata (pengekangan hawa nafsu), yoga ( menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadi (manunggal kepada Tuhan, yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin)Semua itu menjadi keharusan bagi umat Hindu agar memiliki kesiapan batin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan di tahun yang baru.

Masih ada yang menarik di perayaan Hari Raya Nyepi ini ! Yaitu Ngembak Geni atau disebut juga dengan Ngembak Api yang “pinanggal ping kalih” (tanggal 2) sasih kedasa (bulan X). Pada Ngembak Geni ini,Umat Hindu melakukan Dharma Shanti dengan keluarga besar dan tetangga, mengucap syukur dan saling maaf memaafkan (ksama) satu sama lain, untuk memulai lembaran tahun baru yang bersih. Inti Dharma Santi adalah filsafat Tattwamasi yang memandang bahwa semua manusia diseluruh penjuru bumi sebagai ciptaan Ida Sanghyang Widhi Wasa hendaknya saling menyayangi satu dengan yang lain, memaafkan segala kesalahan dan kekeliruan.

Nah,itu dia serba-serbi Nyepi !

Indonesia selaku negara yang memiliki banyak budaya, sudah patutnya warga negara Indonesia saling menghormati budaya dan perayaan agama dari budaya-budaya dan agama-agama yang ada di Indonesia.

Lebih menariknya lagi,silahkan kunjungi Bali pada saat-saat mendekati Hari perayaan Nyepi. Untuk dapat menyaksikan langsung upacara-upacara yang dilakukan umat Hindu disana.  Bagi anda umat Hindu,tidak ada salahnya untuk dapat merayakan Hari Raya Nyepi di Bali.