Wisata Asyik Taman Bacaan Masyarakat

Wisata Asyik Taman Bacaan Masyarakat

378

Dewasa ini, maraknya program aksi peningkatan minat baca masyarakat diwarnai dengan munculnya banyak Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di berbagai wilayah di Indonesia. Tercatat tidak kurang dari 5.000 TBM ada di Indonesia. Jumlah ini menunjukkan tingginya kepedulian masyarakat terhadap minat baca. TBM bisa dikategorikan sebagai perpustakaan masyarakat karena sasaran utamanya adalah warga masyarakat, terutama bagi masyarakat di daerah yang sulit dijangkau oleh perpustakaan kota maupun perpustakaan daerah. TBM hadir sebagai tempat baca dengan suasana yang sederhana dan lebih fleksibel. TBM terbuka bagi siapa saja yang mau memanfaatkannya. TBM didesain layaknya taman yang sarat dengan kehangatan susasana alam. Sehingga yang didapatkan oleh orang yang berkunjung ke TBM adalah pleasure, ketenangan dan kebahagiaan. Namun tampaknya ada yang silap, kemunculan TBM di masyarakat tidak dibarengi dengan pemahaman yang luas makna dari TBM. Akibatnya, masyarakat awam beranggapan bahwa Taman Bacaan Masyarakat (TBM) hanya sebatas pada tempat bacaan saja. Bahkan ada yang beranggapan sebagai gudang buku yang tidak terpakai.

TBM adalah hasil kretifitas sekaligus bentuk kepedulian masyarakat terhadap rendahnya minat baca yang ada di masyarakat. Dinamakan “taman bacaan” karena diharapkan orang yang berkunjung di sana serasa berada di dalam taman sesungguhnya yang sarat dengan keindahan alam. Juga taman yang dihiasi oleh berbagai bunga dan aliran air yang mengalir di sekelilingnya, sehingga orang yang berada di dalamnya menjadi kerasan  dan nyaman berada di sana. TBM adalah sosok perpustakaan yang humanis  dan ramah lingkungan. Jika selama ini kita sering mendengar istilah green library, maka TBM ini bisa dikategorikan ke sebagai green library karena pada dasarnya TBM hadir dengan konsep alam (lingkungan) yang dipadukan dengan konsep perpustakaan.

Selain desainnya yang sangat humanis, keberadaan TBM di masyarakat ternyata mempunyai peran yang sangat vital. Dalam hal ini TBM mempunyai fungsi sebagai salah satu agen informasi. TBM menjadi sumber sekaligus penyedia utama informasi di masyarakat. TBM menempati posisi yang strategis dalam mengatasi kesenjangan informasi di tengah-tengah masyarakat. Selama ini akses informasi dirasa mahal dan hanya bisa dinikmati oleh orang-orang yang berkapital. Namun  dengan adanya TBM, akses informasi menjadi lebih mudah dan murah. TBM memberikan informasi secara bebas dan gratis bagi siapa saja yang membutuhkan.

Fakta mahalnya biaya pendidikan, kini bukan menjadi kendala utama bagi masyarakat untuk tidak bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Anggapan bahwa pendidikan hanya bisa diperoleh di bangku sekolah harus segara diubah. Pendidikan bisa didapatkan di mana saja dan oleh siapa saja, termasuk di TBM. TBM tidak hanya berfungsi sebagai tempat berkumpulnya informasi, tetapi juga berfungsi sebagai tempat belajar yang tidak terbatas pada ruang dan waktu (long life education). Pendidikan di TBM terbuka bagi siapa saja dan bahkan bisa didapatkan secara bebas dan gratis. TBM menyediakan berbagai ilmu pengetahuan baik yang terdapat di bangku sekolah maupun yang tidak ada di bangku sekolah. TBM mendidik dengan mengajak masyarakat berkreatifitas melalui membaca. Karena dengan membaca bisa membuka jendela dunia dan bisa menjadikan manusia berfikir lebih bijaksana.

Selain itu, TBM juga menyediakan berbagai kegiatan-kegiatan atraktif yang bisa meningkatkan kreatifitas masyarakat. Misalnya pengenalan kepada kebudayaan lokal yang semakin hilang karena kalah dengan permainan modern yang lebih canggih. Lebih daripada itu, TBM juga menyediakan kegiatan peningkatan soft skill baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. Hal ini dilaksanakan agar mereka bisa mempraktekkan secara langsung apa yang didapatkan dari membaca. Dengan begitu mereka akan mengerti betapa pentingnya membaca.

Wisata keluarga

TBM selain berfungsi sebagai pusat informasi dan pendidikan, juga sebagai tempat wisata keluarga yang asyik. TBM bersifat fleksibel dan humanis. Artinya, TBM memanjakan pengunjungnya yang ingin datang. Berkunjung ke TBM tidak perlu bersepatu dan berbaju krah. Pengunjung bebas datang ke TBM dengan memakai pakaian apapun asalkan sopan dan nyaman. Di TBM, pengunjung bebas bermain asalkan masih dalam kondisi membaca. Ada beberapa TBM yang juga menyediakan permainan tradisional. Hal ini sebagai wujud kepedulian untuk melestarikan kesenian-kesenian daerah yang sekarang kurang diminati. Bagi orang tua yang ingin mengenalkan anak-anaknya dengan kesenian lokal, maka TBM adalah salah satu solusi yang tepat. Dengan mengajak anak-anak ke TBM, sebenarnya telah mengajari anak-anak untuk cinta baca. Dan hal itu menjadi bekal yang berharga bagi masa depan anak-anak nantinya.

TBM menawarkan berbagai wahana wisata yang bisa dinikmati. Di antaranya adalah wahana mewarnai gambar. Di dalam wahana ini, anak-anak diajari untuk mewarnai gambar sesuai dengan kreatifitas masing-masing. Selanjutya adalah wahana story telling. Di dalam wahana ini, anak-anak diajak untuk mendengarkan cerita-cerita edukatif yang dikemas secara menarik. TBM juga menyediakan wahana watching movie. Kegiatan ini bisa dinikmati bersama keluarga, teman dan warga masyarakat. Film yang diberikan tentunya film yang mempunyai nilai edukatif dan bisa memotivasi. Selain itu, di TBM ada wahana tulis-menulis. Di sini diajarkan bagaimana cara dan praktek menulis. Di antaranya adalah menulis mimpi, menulis kekayaan desa ataupun pengalaman pribadi. Dan masih banyak wahana lain yang bisa dinikmati di TBM.

Nongkrong pun bisa di TBM. Nongkrong bareng dengan keluarga, teman dan tetangga, sehingga rasa kekeluargaan antar warga bisa terjalin secara harmonis. Ada beberapa TBM yang sengaja membuka jam layanannya sampai dengan 24 jam sehingga pengunjung bebas ingin datang kapan saja. Semua wahana yang disediakan TBM bersifat gratis. Pengunjung cukup datang dan kemudian bebas menikmati segala fasilitasnya.

Kegiatan-kegiatan di atas adalah salah satu bentuk kreatifitas TBM dalam upaya meningkatkan minat baca masyarakat. Dan diharapkan dengan adanya program-program kreatif di TBM mampu mengoptimalkan gerakan cinta baca di masyarakat. Sebuah harapan yang mengandaikan adanya program-program kreatif yang lebih unik di setiap TBM. (iky)

Apa Komentarmu?

Moh. Mursyid
Moh. Mursyid; lahir di Pati, 12 Oktober 1990. Mahasiswa Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sekarang menjadi Tim Kreatif TBM Cakruk Pintar di daerah Nologaten, Catur Tunggal, Sleman. Selain aktif di TBM Cakruk Pintar, ia juga menjadi tenaga shelving di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2011. selain itu, ia juga menjadi editor majalah BEM-J Ilmu Perpustakaan "SAHIFA". Tulisannya yang berjudul Wisata ke Perpustakaan? Why Not?! Pernah dimuat di dalam buku karya bersama dengan judul "The Key Word Perpustakaan di Mata Masyarakat" (Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, Perpustakaan Kota Yogyakarta dan Blogfam.com. Yogyakarta: 2011) Beberapa penulis di dalam buku tersebut adalah: KH. A Mustafa Bisri (Gus Mus), Herry Zudianto (Walikota Yogyakarta), Muhsin kalida (Ketua FTBM Yogyakarta)..[dkk].