Indonesia, Sampah dan Berkah

168

“Sambil kerja ya pa…” sapa saya… click..!

Merekapun tersenyum sambil berkomentar.. entah apa saya lupa. Hari itu. Kami berkeliling dengan mobil ambulan puskesmas, mengambil gambar tentang lingkungan kumuh yang ada di Kecamatan Bantargebang. Yap tidak ada yang spesial dari gambar itu. tadinya saya hanya ingin mengambil objek pasifnya, tapi saya menemukan mereka tengah beraktifitas memilah dan mengarungi sampah, menarik tampaknya dan mereka pun ternyata ramah dan welcome.

Begitulah mata pencaharian mereka, memilah sampah dari TPA Bantargebang lalu dikumpulkan pada suatu tempat, kemudian dikarungi lalu dikirim ke panampung, plastik keresek dan botol-botol plastik biasanya menjadi sasaran utama mereka. Mereka rela berbagi tempat dengan lalat dalam panas dan bau tekadang mereka juga harus berbagi dengan mesin beko raksasa yang bisa mengancam nyawa mereka, yap semua itu mereka lakukan untuk menghidupi kebutuhan mereka. Mereka tampaknya berani menempuh hidup dengan penuh resiko, yang pasti agar kehidupan mereka bisa lebih sejahtera. Itulah hidup keterpaksaanlah yang membuat mereka seperti itu mencari peruntungan agar hidup mereka bisa lebih “layak”. Entahlah standar kelayakan seperti apa yang mereka cari. Mungkin tidak untuk disini di Bantargebang ini, tapi untuk dikampung halaman mereka.

Lingkungan tempat tinggal mereka jauh dari sehat.. hanya beradius beberapa meter saja dari TPA, Tuhan Maha Adil.. mereka terbukti tampak sehat-sehat saja, yap terlihat sehat-sehat saja entahlah mereka seperti tidak pernah mengeluh, atau mungkin bingung harus mengeluh kepada siapa. Tempat tinggal mereka hanya bedeng-bedeng kayu minim akses sanitasi itupun mereka menyewa, biasanya dalam satu komunitas hanya ada 2 bahkan 1 MCK itu pun jauh dikatakan layak. Untuk buang air terkadang mereka harus berebut tempat mungkin.. sisanya entah dimana. Faktanya memang seperti itu.. terkadang saya iseng bertanya kepada ketua wilayah stempat dimana kaum urban tinggal.. Kemana sisanya mereka buang air.. pa rt pun menjawab.. sisanya di TPA atau lahan-lahan kosong terkadang ada yang diparit dan saluran-saluran air. entahlah saya pun belum pernah melihatnya langsung.

Begitulah kondisinya, mereka adalah kaum urban dengan mobilitas tinggi, ketika saya bertanya kepada kelurahan apakan mereka terdata, tidak… mereka dianggap pendatang dan tidak terdata, tapi ada warga urban yang sudah memilki KTP Bekasi.. itu tandanya dia terdata di kelurahan dan statusnya di akui. selamat. selamat. akibatnya dari mereka banyak yang tidak mendapat kompensasi.

Ditengah amat kesederhanaan mereka hidup, ditengah sesaknya bau metan mereka coba bernafas, ditengah buruknya sanitasi mereka berusaha untuk bisa hidup bersih, ditengah mesin-mesin beko nyawa mereka dipertaruhkan, dan ditengah sampah-sampah ibu kota mereka mengais segenggam berlian. tidak ada yang bisa disalahkan.. karena itu adalah pilihan. tapi tetap bahwa kita harus berterima kasih.. setidaknya mereka sangat bermanfaat dalam mengurangi intensitas sampah.. entah berapa ton sampah dari TPA yang bisa berkurang setiap harinya akibat aktivitas mereka. bayangkan jika mereka tidak ada.. Sampah semakin menggunung.. terus… menggunung bahkan mungkin hingga bisa mencakar langit. Tapi mereka tanpa sadar telah mencegah TPA menjadi gunung gunung pencakar langit, menghambatnya membumbung semakin tinggi, tanpa sadar mereka pelan-pelan menyelamatkan kita. Jazakumullah. khoirin katsiron..

Untuk sesuatu yang tidak bisa kita kerjakan… dan hanya merekalah yang mampu dan bisa.. bahwa kita hanya bisa mengucapkan terima kasih…. Terima kasih … dan Terima kasih.. Semoga Allah senantiasa melindungi kalian.. dalam kesehatan, keselamatan dan keberkahan… (jow)

Bekerja sebagai Sanitarian di Puskesmas Bantargebang Motto "Dalam takut yang tampak adalah hambatan, dalam yakin yang tampak adalah kesempatan"