Suku Anak Dalam
Suku Anak Dalam

Kebanyakan dari kita pasti mengetahui bahwa Negara Indonesia adalah sebagai Negara kepulauan dengan ratusan suku bangsa yang didalamnya memiliki beraneka ragam kebudayaan yang dapat mencerminkan kekayaan bangsa yang sungguh sangat luar biasa sekali. Salah satunya adalah Jambi yang terletak di Pulau Sumatera tepatnya. Di daerah tersebut terdapat banyak sekali suku Bangsa baik itu pendatang ataupun penduduk asli setempat. Penduduk asli di Jambi yang lebih tepatnya adalah penduduk yang nenek moyangnya menetap di daerah Jambi pada zaman dahulu. Suku-suku tersebut adalah suku kubu (suku anak dalam), suku Bajau. Adapula Kerinci dan orang Batin. Terdapat pula orang Melayu Jambi yaitu orang Penghulu dan Suku Pindah yang kesemuanya adalah termasuk kategori penduduk asli yang memiliki ras Melayu.

Butet Manurung
Butet Manurung

Tak lengkap rasanya jika membicarakan suku yang sering kita dengar di daerah Jambi yakni suku kubu (suku anak dalam) tanpa membahas sedikit tentang sosok â??Butet Manurungâ??. Beliau adalah sosok perempuan yang dilahirkan di Jakarta pada tanggal 21 Februari 1972 dan beliau berasal dari keluarga berada yang mengabdikan dirinya pada dunia pendidikan, terlebih beliau lah yang mendirikan sebuah â??sekolah rimbaâ?? di daerah Jambi tersebut, khususnya bagi suku anak dalam pada waktu itu. Hal itu dikarenakan rasa cintanya akan alam dan juga dunia anak-anak sehingga beliau menginginkan agar seluruh anak-anak di Indonesia terlebih suku anak dalam semuanya mahir baca-tulis.

Sesungguhnya, suku kubu (suku anak dalam) ini adalah percampuran suku bangsa suku bangsa dengan suku Wedda atau yang disebut suku bangsa Weddoid oleh para anthropologi.  Kehidupan dari suku kubu (anak dalam) terkenal dengan kebiasaannya yang suka hidup terisolasi dari kehidupan dunia luar yang mengakibatkan rendahnya tingkat kebudayaan dan peradaban dari mereka. Hal tersebut terlihat dari bentuk rumah baik dari segi susunan dan bahan bangunannya, kebudayaan material suku Kubu (Anak Dalam) yang masih sangat sederhana, kemudian alat-alat rumah tangga yang mereka gunakan, alat-alat bercocok tanam dan berkebun, pakaian sehari-hari dan upacara yang mereka kenakan. Namun, suku Kubu (Anak Dalam) juga mengenal kebudayaan rohani yang meliputi kepercayaan akan setan-setan dan dewa-dewa, adat kelahiran, perkawinan, pelaksanaan kematian, pantangan atau tabu, hukum adat, kesenian dan bahasa yang memiliki cirri khas tersendiri dibandingkan dengan penduduk lainnya di daerah Jambi tersebut. Mereka masih menerapakan budaya berburu, sistem barter, dan juga bercocok tanam untuk kelangsungan hidup mereka dan mereka termasuk suku yang menganut sistem hidup seminomaden karena kebiasaan berpindah-pindah yang mereka lakukan.

Kebiasaan mereka dalam berburu dan bercocok tanam tersebut ternyata memiliki suatu hukum adat sendiri-sendiri. Dalam artian, suatu suku Kubu (Anak Dalam) tertentu terdiri dari suatu kelompok induk masyarakat terasing yang terdiri dari beberapa kelompok besar yang terbentuk karena sesama hubungan darah/saudara dan biasanya mereka berdiam di hutan rimba besar yang terpencil dari masyarakat dusun yang merupakan wilayah kekuasaan mereka dimana terdapat batas-batas tertentu yang ditentukan oleh bukit-bukit yang terdapat pada hulu anak sungai kecil yang mengalir ke sungai yang agak besar yang menunjukkan daerah kekuasaan mereka dalam berburu dan bercocok tanam. Jika terdapat suku Kubu lainnya yang memasuki wilayah tersebut yang tidak memiliki hubungan darah/saudara maka mereka akan dianggap melanggar daerah kekuasaan dan dapat dihukum secara adat yang berlaku di kalangan mereka atau lebih parahnya akan terjadi perkelahian.

Adapun kebiasaan yang harus kita hindari jikalau bertemu dengan suku Kubu (Anak Dalam) jika kita berkunjung ke daerah Jambi. Mereka terkenal tidak pernah â??mandiâ?? jadi hal terbaik jangan pernah menunjukkan gerakkan kalau kita merasa terganggu akan â??bau badanâ?? mereka. Karena jika kita atau mereka meludah ke tanah dan mereka menjilat ludah tersebut secara tidak langsung kita sudah menjadi bagian dari mereka (mereka memiliki ilmu gaib yang bisa dikatakan sakti). Percaya atau tidak percaya itulah kenyataan yang ada.

Sumber: â??Adat Istiadat Daerah Jambiâ??. {Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan}. 1977/1978.