Menulis adalah kegiatan paling menggoda bagi siapapun yang hobi membaca, dan dia yang tahu betapa besar jumlah rupiah yang bisa didapatkan dari “pekerjaan” ini. Bagaimana tidak, saat kita menikmati hasil lukisan imajiner dari kombinasi warna indah yang diciptakan penulis dengan mengeluarkan beberapa lembar uang kita untuk sekedar menilik bila lukisan itu seindah berita yang mengirinya, sang penulis sedang menikmati pundi – pundi hasil kerja keras atau sebagian hasil rasa cintanya untuk berbagi apa yang telah ia lewati.

Silahkan hitung sendiri, jika satu eksemplar saja “harry potter and the deathly Hollows” terjual dengan harga Rp,325,000 – Rp,275,000,- (hingga tahun ketiga penerbitannya) dengan jumlah 180 negara dan di indonesia saja bisa terjual lebih dari 300,00o, maka berapa keuntungan yang bisa anda dapat…? Ingat ini hanya satu seri buku, masih ada enam buku lainnya yang jumlah terbitannya tidak kalah menggiurkan.
Inilah yang membuat beberapa pembaca, kemudian beralih dengan mencoba menjadi penulis. Tentu saja, kenikmatan materi tidak bisa ditampik, tapi kebahagiaan dan kebanggaan ketika karya kita dibaca dan menjadi inspirasi bagi orang lain tentu saja hal itu menjadi sesuatu yang berbeda.
Tapi sayangnya, menulis jauh lebih sulit dari sekadar membaca dan menekan tombol “on” pada saklar imajinasi kita. Seorang penulis tidak hanya harus memuaskan dirinya sendiri saat menuangkan apa yang telah dilaluinya dan apa yang ia rasakan, kemampuan pengungkapan adalah penentu akan berhasil atau tidaknya tulisan tersebut merebut perhatian dan, bila dimungkinkan, merebut hati orang yang membacanya.
Lebih lanjut lagi, Kemampuan pengungkapan bukanlah hambatan satu – satunya dan tersulit yang bisa dihadapi oleh calon penulis. tapi, “apa yang akan kita tulis” lah yang kemudian menjadi kerikil tertajam yang bisa menghentikan langkah, niat, dan rencana kita dalam menulis. Tidak sedikit para calon penulis yang kemudian mundur dan berhenti menulis karena stuck atau “buntu” ketika tidak bisa lagi mengembangkan tulisannya.
Anda merasa bukan penulis..? Tenang, kita sama – sama tahu bukan bila J.K.Rowling membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk menelurkan buku pertamanya,”harry potter and the sorcerer stone (dalam versi Britania “Harry Potter and the Philosopher stone”)” tentu dengan proses penolakan dari penerbit yang juga tidak sedikit. Tapi JK tahu bahwa menulis itu menyenangkan dia, dan dia tidak berhenti hingga kemudian hasilnya sama – sama bisa kita lihat saat ini.

Bagaimana dengan dua nama lainnya yang saya sebutkan di atas..? Andrea Hirata dan Hibiburrahman El shirazhy..? siapa yang tidak mengakui kisah – kisah yang mereka ciptakan adalah beberapa dari sekian banyak karya sastra terbaik Tanah Air. lalu apakah reputasi mereka kalah dari JK.Rowling..? tidak, saat ini mereka telah menembus pasar Internasional.
Lalu apa yang harus kita tulis untuk dapat mengikut jejak mereka..?
Perhatikan tokoh Ikal atau Fahri…? Mereka berdua adalah representasi dari pengalaman Andrea dan “kang abik” (habiburrahman el shirzy), dalam masing – masing kisahnya. Belitong maupun Kairo merupakan tempat nyata yang pernah mereka singgahi, lalu bagaimana deskripsinya..? Sempurna..
Bukankah selalu menarik membaca buku harian seseorang..? Kita melihat hal yang tidak pernah terungkap dalam diri orang itu menjadi begitu gamblang dan penuh sentuhan perasaan di dalamnya.. lalu mengapa kita tidak mencoba..? Bukankah diri kita adalah objek yang paling kita kenali, dan apa yang telah dilewatinya adalah peristiwa yang akrab bagi kita..? Lebih dari itu, menulis bukan hanya sekedar menderetkan pilihan kata, tapi berbagi cerita yang mengisi ruang kosong dalam diri seseorang.
Mari menulis…(rei)
Tags Berita ini adalah berita yang di kirimkan oleh aktivis jadiBerita.com, bagikan berita ini ke Timeline Facebook dan Twitter kamu