Suku Baduy: Eksis Meski Anti Teknologi

Suku Baduy: Eksis Meski Anti Teknologi

Suku Baduy
Suku Baduy

Suku Baduy adalah nama salah satu kelompok masyarakat kecil yang bertempat tinggal di Kabupaten Lebak Rangkasbitung, Banten. Sebutan ‘Baduy’ sendiri diambil dari sebutan penduduk luar yang berawal dari peneliti Belanda yang menyamakan mereka dengan Badawi atau Bedouin Arab—merupakan arti dari masyarakat nomaden. Disamping itu sebutan Baduy pun diperkirakan diambil dari nama gunung dan sungai Baduy yang terdapat di wilayah utara. Tapi suku yang masih memegang teguh adat Sunda ini lebih sering disebut sebagai masyarakat Kanekes karena nama desa tempat tinggal mereka yang bernama Kanekes. Keunikan suku Baduy yang masih tetap bertahan sampai sekarang adalah ketiadaannya teknologi dan modernisasi dalam hal sekecil apapun. Para penduduknya tidak mengenal pendidikan, benda telekomunikasi, listrik, bahkan alas kaki. Meskipun begitu, para penduduknya tergolong pintar dalam bertahan hidup dan berkreasi dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Mata pencaharian utama mereka adalah bertani dan berladang, dan padi yang biasa ditanam disini adalah padi huma yang hanya panen sekali dalam setahun. Masa panen tersebut juga digunakan suku Baduy sebagai hitungan umur mereka. Namun jika panen gagal atau sedang kekurangan pemasukan, suku Baduy memiliki cara lain untuk memenuhi kebutuhan dengan membuat berbagai aksesori tradisional hasil buatan tangan yang nantinya dijual, seperti baju khas Baduy, gelang rotan, cincin akar, dan lain-lain.

Suku Baduy percaya bahwa mereka merupakan turunan Batara Cikal yang dikenal sebagai salah satu dari tujuh dewa (batara) yang diutus ke bumi dengan misi mulianya bertapa menjaga harmonisasi dunia. Masyarakat Baduy dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu Baduy dalam, Baduy luar, dan Baduy Dangka. Baduy dalam atau yang disebut juga dengan Tangtu, adalah masyarakat baduy yang menolak modernisasi secara ketat dan memegang teguh aturan-aturan adat. Ciri khas Tangtu adalah pakaian yang serba putih atau biru tua dengan ikat kepala putih.

Baduy luar atau disebut juga Panamping, adalah masyarakat Baduy yang sudah tidak seketat Baduy dalam. Ciri khususnya adalah pakaian dan ikat kepala yang serba hitam. Yang terakhir adalah Dangka, masyarakat Baduy yang tinggal diluar desa Kanekes yaitu Padawaras dan Sirah Dayeuh yang dipercaya berfungsi sebagai pelindung dari pengaruh dunia luar.

Penduduk suku Baduy merupakan penganut animisme atau pemujaan terhadap arwah nenek moyang, yang sering disebut sebagai Sunda Wiwitan. Inti dari kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan ketentuan adat yang mutlak—yang disebut juga pikukuh (kepatuhan)—dengan konsep yaitu tidak adanya perubahan sedikit pun atau tanpa perubahan apapun. Namun seiring dengan berjalannya waktu, beberapa agama telah mulai masuk ke dalam suku Baduy seperti Islam, Hindu, dan Buddha yang sedikit banyak mempengaruhi.

Masyarakat Kanekes mempunyai objek pemujaan penting yang lokasinya dirahasiakan dan hanya ketua adat tertinggi beserta rombongan terpilihnya yang bisa pergi kesana setiap setahun sekali di bulan kelima. Nama objek pemujaan tersebut adalah Arca Domas. Arca ini memiliki batu lumping yang menjadi petunjuk apakah panen mereka akan berhasil atau gagal. Di masyarakat Baduy juga dikenal istilah bulan kawalu. Bulan kawalu adalah masa dimana wilayah Baduy dilarang dimasuki oleh orang luar yang bukan suku Baduy.

Meskipun anti teknologi, namun ikatan masyarakat Baduy terhadap penduduk luar sangatlah erat dan tetap bersifat kekeluargaan, tidak ada isolasi yang membuat mereka terasing. Hal ini juga yang membuat rutinnya kegiatan Seba di masyarakat Baduy, yaitu kegiatan yang diadakan setahun sekali untuk mengantarkan hasil bumi kepada Gubernur Banten. Orang Baduy juga biasa berkelana ke kota besar di sekitar mereka untuk berjualan dan hanya ditempuh dengan jalan kaki hingga berkilo-kilo meter. Dulu para orang Baduy hanya menggunakan sistem barter dalam memenuhi kebutuhan mereka, namun sekarang beberapa penduduknya telah menggunakan uang rupiah untuk berjualan.

Karena tak adanya pembangunan jalan di desa Kanekes, maka lumpur dan bebatuan masih mendominasi wilayah mereka dan bisa menjadi sangat licin sekaligus berbahaya bagi pengunjung yang tidak terbiasa berjalan di medan bebatuan—terutama ketika hujan. Pemerintah setempat pun pernah menawarkan pembangunan jalan di desa namun ditolak oleh masyarakat Baduy. Walaupun tanpa listrik dan teknologi yang menunjang, namun desa Kanekes cocok untuk dijadikan sebagai tempat wisata bagi Anda yang berjiwa petualang. Selain penduduk dan ketua adat yang ramah-ramah, disana Anda bisa membeli oleh-oleh paling khas yaitu baju suku Baduy yang selalu dijahit hanya dengan menggunakan tangan dan benang tenunan asli hasil bumi Baduy.

Sumber: Wikipedia, Indonesiaku, Tyanotebook.
Kanno Renpouinn; nama pena dari penulis amatir yang berkecimpung di beberapa RolePlay Forum berbasis tulisan. Ciri khasnya yaitu terbuka terhadap perbedaan, cerdas tapi santai, gemar meneliti kepribadian tiap individu/lingkungan, bicara bebas dan apa adanya namun sopan. E-mail dan Y!M: tetsuo.uehara@yahoo.com

Apa Komentarmu?

2 COMMENTS

  1. Salut dengan kehidupan suku baduy. Kalau semua orang indonesia seperti suku baduy, pasti di sini polusinya sangat sedikit sekali atau mungkin malah ga ada!

  2. Apa sih untung nya hidup dalam adat leluhur ?….untung aku bukan baduy jadi bisa main computer,main internet, naik kapal ,….kalo aku jadi baduy paling paling maen golok…ngeri ah

Leave a Reply