Isu-isu mengenai konversi Bahan Bakar Minyak, yang lebih kita kenal dengan BBM menjadi Bahan Bakar Gas atau BBG sudah acap kali terdengar gaungnya di Indonesia; baik itu dari pihak pemerintah dalam upayanya mengurangi polusi udara serta penghematan dana pemerintah yang selama ini dihabiskan untuk subsidi BBM.
Namun, niatan hanya menjadi sekedar wacana, ketika niatan konversi BBM ke BBG tidak disertai dengan persiapan sarana dan pra sarana dalam proses pengolahan BBG itu sendiri. Sangking terlihat kurang seriusnya pemerintah, sampai-sampai terdengar juga plesetan-plesetan dari BBG itu sendiri, yang sering berubah kepanjangannya dari Bahan Bakar Gas menjadi Bolak Balik Gagal (sungguh ironis, hehe). Padahal, dari segi ekonomis, menurut perhitungan para ahli (RisTek), BBG akan mempunyai harga jual yang jauh lebih murah daripada BBM yang selama ini digunakan di Indonesia; apalagi memang pada dasarnya di Indonesia, sumber gas alam yang tersedia jauh lebih banyak melampaui ketersediaan minyak bumi.
Beberapa hal yang menyebabkan kurang diminatinya BBG antara lain:
1. Segi safety (keamanan)
Dalam rancangan kendaraan bermotor (dalam hal ini mobil) yang akan menggunakan BBG didesain dengan menggunakan tabung yang akan diletakan di bagian belakang mobil, dan dihubungkan melalui selang-selang ke mesin yang ada di bagian depan; hal tersebut sudah pasti memberikan rasa was-was (cemas) bagi masyarakat Indonesia yang selama ini belum terbiasa akan hal tersebut, apalagi di Indonesia persoalan “tabung gas” menjadi begitu populer akibat beberapa kasus yag terjadi di negara ini.
Jadi, hal tersebut agar menjadi peer (red:pekerjaan rumah) bagi pemerintah maupun pihak swasta yang akan menangani proyek tersebut untuk memperhatikan dengan baik, dan memang diperlukan review yang serius mengenai safety dari BBG ini, Jangan berharap BBM akan dapat beralih ke BBG jika segi keamanannya belum dapat dipastikan. Masyarakat Indonesia, bahkan saya sendiri rela membayar lebih mahal daripada harus dipacu jantungnya setiap kali berkendara, karena seperti sedang membonceng bom di belakang saya, hohoho.
2. Efisiensi penggunan
Hal yang tidak kalah penting adalah mengenai efisiensi penggunaan BBG jika dibandingkan dengan BBM. Harga BBG seharusnya dapat ditekan hingga setengah dari harga BBM. Jika harga yang sekarang diperjual belikan hanya selisih antara 400-700 rupiah, tentu orang akan lebih memilih BBM ketimbang BBG, sebab dianggap akan lebih merepotkan, sementara efesiensi nya tidak jauh beda dengan penggunaan BBM.
3. Dorongan dari pemerintah
Sosialisasi penggunaan BBG akan berjalan sangat lambat, apabila pemerintah tidak memberikan contoh yang baik dan benar sebagai penggagas dan pencetus dilakukannya konversi BBM ke BBG. Hal yang paling memungkinkan adalah menerapkan penggunaan BBG bagi kendaraan-kendaraan pemerintah;baik itu kendaraan pribadi para aparatur Negara maupun kendaraan-kendaaran umum seperti busway, dan angkutan-angkutan umum.
Jika dari ketiga aspek tersebut dapat dipenuhi dan teraplikasikan dengan baik, tidak mustahil masalah di Negara ini, yang sering ribut-ribut mengenai pembiayaan subsidi BBM, serta kenaikan harga BBM dapat teratasi dengan baik.
Akses Jadiberita.com lebih mudah dimana saja kapan saja m.jadiberita.com, download Aplikasi JB di Android dan Blackberry

