Ternyat, sulit menjalani profesi pengumpul rotan, apalagi harus berjibaku dengan beratnya medan dalam hutan belantara. Berjalan puluhan kilometer selama berhari-hari hanya untuk mengejar Rp30.000 menjadi satu-satunya pilihan mereka yang tinggal di Desa Sampoe Ajad, Kecamatan Jeunib, Kabupaten Bireuen, Aceh.

Bermodalkan tubuh sehat dan kuat, para pencari rotan bertahan selama 10 hari menelusuri beratnya medan hutan. Untuk mengatasi ganasnya alam, mereka melengkapi diri dengan sepatu boot, parang, panci penanak nasi, serta beras dan minyak goreng, seperti dikutip Kompas, Kamis (6/3/2014)

Biasanya, para pengumpul rotan menghabiskan waktu hingga 12 jam untuk menempuh perjalanan 20 Km agar tiba di Pegunungan Peunceuk, kawasan Jeunib. Umumnya, satu kelompok beranggotan tiga orang yang hanya mampu membawa pulang 50 kg rotan basah dalam satu kali berangkat. Kendati basah saat dipotong, dalam perjalanan pulang yang memakan waktu cukup lama juga akhirnya rotan-rota mengering dan beratnya susut.

Ironisnya, harga rotan per kilogram yang dibeli agen hanya Rp 8.000 untuk jenis rotan bulan yang sering digunakan untuk pembuatan kursi, meja, tudung saji. Untuk rotan yang telah dibelah menjadi tali pengikat atap rumbia, dijual Rp 2.000 per ikat dengan panjang 1,5 meter.

Meski dalam 15-20 kilogram rotan kering menghasilkan 200 sampai 250 ikat rotan sebagai tali pembuat atap, namun salah satu pengumpul rotan, Ali Basyah hanya mampu menghasilkan 25-30 ikat rotan seharga Rp 2.000 setiap ikatnya.

Jika dihitung-hitung, per hari ia hanya mampu memperoleh penghasilan Rp30 ribu dari hasil penjualan rotan-rotan kering ke kota kecamatan terdekat.

Ali berharapa, harga rotan berangsur membaik sehingga harga jual sepantas dengan modal yang mereka keluarkan saat menjelajahi hutan selama puluhan hari.

â??Pemasaran masih cukup baik di beberapa kecamatan, tapi selama ini harga jual tetap segitu-gitu aja di tengah harga barang lain yang terus-menerus naik, rasanya tak adil,â? tutupnya. (nha)