Apakah Anda hobi belanja? Jika Ya, maka berhati-hati terkena sindrom â??fashionorexicâ?. Sindrom itu adalah kondisi saat seseorang rela kelaparan dan tidak membayar tagihan demi mendapat baju baru.

Fenomena itu bukan hal baru. Di Inggris, terdapat 44% masyarakat yang terperangkap kebiasaan itu. Hal itu terungkap melalui survei situs belanja Vouchercodes, seperti dikutip Viva.co.id, Rabu (26/3/2014).

Orang-orang itu rela melewatkan makan, melemparkan tanggung jawab pada orang tua, dan terlambat membayar tagihan. Semua demi produk non-primer atau sekadar perawatan kecantikan.

Satu dari sembilan penderita fashionorexic itu mengaku setidaknya 12 kali makan tidak benar dalam setahun. Uang yang seharusnya untuk makan, digunakan membeli busana, aksesori, atau berlibur.

Fakta yang terjadi tak cukup sampai di situ. Satu dari enam fashionorexic bertahan makan roti panggang dan kacang selama dua pekan, demi membiayai hobi belanja mereka.

Satu dari delapan orang di Inggris, artinya sekitar 13%, mengaku bermental pengemis. Mereka mengandalkan bantuan pinjaman dana dari orang lain untuk berbelanja.

Di bawah itu, sebanyak 12% warga Inggris, khawatir soal tagihan yang terlambat dibayarkan. Seorang fashionorexic, rata-rata tujuh kali melewatkan membayar tagihan dalam setahun.

Ironisnya, 16% dari mereka menyerahkan tanggung jawab pembayaran atas belanja impulsifnya pada orang tua. 9% lainnya menghabiskan akhir pekan di rumah agar bisa hidup menumpang dan tak perlu mengeluarkan uang.

Para fashionorexic melakukan hal-hal tak masuk akal itu untuk alasan sepele. Mereka tak bisa mengontrol hasrat berbelanja, karena 39% ingin memperbaharui koleksi busana di lemari.

Sementara itu, 35% beralasan ingin menghabiskan uang untuk keluar malam. Adapun pihak yang paling sering mengalami fashionorexic adalah mahasiswa dan profesional muda. (nha)