Jika kita lihat ke sudut jalan, trotoar, selokan, bahkan jalan raya, mungkin mata kita sudah terbiasa dengan keberadaan sampah yang bercecer dan terabaikan. Sampah menjadi benda yang tidak berguna sekaligus merugikan ketika keberadaannya dibiarkan menumpuk akibat ketidaksadaran manusia akan lingkungan yang bersih. Namun itu jika pemanfaatannya tidak maksimal. Selama ini banyak orang yang berpikir bahwa sampah benda yang kotor, dan sepantasnya dibuang, bukan diolah. Paradigma ini jugalah yang akhirnya membuat kebanyakan masyarakat tidak sadar bahwa sampah pun tetap bisa menjadi benda yang bermanfaat meski hanya berupa benda sisa pakai.

Daur ulang memang sudah banyak dikenal masyarakat, tapi tidak banyak yang mau melakukannya karena bagi kebanyakan orang membuang lebih gampang daripada mendaur ulang. Salah satu faktornya memang kurangnya sosialisasi, selain itu keterbatasan sarana daur ulang di negeri ini. Alhasil, meski daur ulang sudah sekian lama ditanamkan di pendidikan masyarakat, namun masalah menumpuknya sampah di tiap daerah di negeri ini tetap saja tak terpecahkan, malah kian memburuk.

Ada cara lain untuk mengubah sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan mendatangkan keuntungan, baik dari segi finansial maupun non finansial. Nah, keuntungan. Inilah kata yang sering membuat orang lain tertarik dan tergiur untuk akhirnya mau bepartisipasi secara rutin. Karena itu, hal tersebut dijadikan siasat juga bagi bank sampah dalam menarik minat masyarakat. Seperti halnya bank keuangan, bank sampah pun memiliki prosedur penyimpanan yang kurang lebih sama. Bedanya adalah, dengan menyetor sampah maka dalam jangka waktu tertentu nasabah bisa mengambil tabungannya dalam rupa uang. Menyenangkan bukan? Menabung tanpa modal, tapi bisa dapat keuntungan finansial.

Prosedur penyimpanannya tak lain seperti ini; nasabah/calon nasabah membawa sampah-sampah rumah tangga mereka setelah sebelumnya dipisahkan terlebih dahulu antara sampah organik dan non organik. Sampah organik seperti batang-batang bekas sayuran, tanaman mati, dan sebagainya biasanya akan diolah menjadi pupuk. Sedangkan sampah non organik yang seringkali berupa kemasan plastic, gabus, beling, dan kertas, biasanya akan diolah menjadi barang kebutuhan sehari-hari seperti payung, keset, buku agenda, gelas, jas hujan, dan masih banyak lagi.

Kemudian sampah ditimbang, dan ditentukan nilai harganya. Setelah itu kuantitas sampah yang disetorkan akan dicatat dan diakumulasikan di buku tabungan nasabah, tak lupa jumlah uang yang telah ditabung pun akan dicatat. Dalam jangka waktu sekitar 3 bulan, nasabah bisa mengambil uang tabungan mereka. Mana ada yang tidak tergiur? Selain untuk meminimalisir keberadaan sampah yang makin membludak, juga untuk memicu semangat masyarakat dalam menjaga lingkungan sekitar mereka tanpa perlu buang banyak tenaga, karena proses daur ulang akan dilakukan oleh bank sampah.

Bank sampah yang pertama di Indonesia (bahkan dunia) pertama didirikan di Yogyakarta. Hanya dalam waktu singkat bank sampah sudah mampu menarik minat banyak warga untuk mengumpulkan sampah dan menyerahkannya ke bank sampah. Tidak perlu lagi membuang sampah diatas gunungan sampah di pinggir jalan atau sungai. Tidak perlu juga membakar sampah berjam-jam.

Namun dalam pengelolaannya, bank sampah mengakui bahwa mereka masih mengalami banyak kendala, diantaranya adalah tenaga operasional dan modal. Bank sampah didirikan secara kecil-kecilan dan bersifat sosial. Otomatis penerapannya tanpa menggunakan sistem cari untung dan pungutan tertentu. Pegawai yang bekerja di bank sampah semuanya adalah tenaga sukarela, yang tentu saja tak pernah menerima gaji. Lalu bagaimana mereka membayar tabungan para nasabah? Itu adalah hasil penjualan barang-barang daur ulang yang bank sampah buat.

Namun penjualan barang-barang daur ulang kadang tak semulus barang biasa. Distribusinya pun masih kecil-kecilan dan terbatas di daerah sekitar saja. Selama ini bank sampah memang sudah menjadi sorotan banyak pihak, termasuk Universitas Bung Hatta yang kemudian berniat mengikuti jejak bank sampah untuk mendirikan bank serupa di daerah mereka, namun mereka tetap berdiri sendiri tanpa ada perhatian pemerintah. Bank sampah memang mengharapkan agar pemerintah mau melirik dan menopang bank sampah agar dapat berdiri lebih baik dan melayani masyarakat dengan lebih maksimal. Selama hal itu belum terwujud, diharapkan masyarakat tetap mau menanamkan sikap peduli lingkungan sampai seterusnya. Karena sampah yang terabaikan memang akan merugikan, jadi manfaatkanlah, bawalah segera sampah-sampah rumah tangga anda untuk disetorkan ke bank sampah. Selain untung, tindakan anda pun dapat menghindari pencemaran lingkungan akibat penumpukan sampah yang pastinya merugikan bagi anda, keluarga, dan lingkungan.(jow)

Kanno Renpouinn; nama pena dari penulis amatir yang berkecimpung di beberapa RolePlay Forum berbasis tulisan. Ciri khasnya yaitu terbuka terhadap perbedaan, cerdas tapi santai, gemar meneliti kepribadian tiap individu/lingkungan, bicara bebas dan apa adanya namun sopan. E-mail dan Y!M: tetsuo.uehara@yahoo.com