Kehidupan baru selain dunia nyata

Kehidupan baru selain dunia nyata

372

Masih ingat lagu Saykoji yang berjudul online yang booming beberapa waktu lalu? Sadar atau tidak lagu itu merepresentasikan orientasi perilaku kebanyakan orang saat ini, termasuk saya. Mulai dari awal kita membuka kelopak mata kita sampai kita kembali membuka kelopak mata kita keesokan harinya. Bahkan ada teman saya yang pernah tidak tidur karena keasyikan berselancar dan bersosialisasi di forum-forum maya.

Dahulu, ketika fenomena online ini belum segencar saat ini, kita melewati sekuens yang baku untuk menjalani rutinitas kita setiap hari. Bangun pagi, mandi, makan, beraktivitas, pulang, tidur, hingga bangun pada keesokan pagi. Saat ini sekuens tersebut menjadi tidak baku lagi. Budaya yang tak sadar kita sisipkan sendiri dalam rangkaian aktivitas harian kita sehingga menjadi : Bangun pagi, meng-update status facebook, mandi, makan sambil sibuk ber-BBM ria, beraktivitas sambil chat via Yahoo Messenger, memeriksa email, Posting blog, update status (lagi), dan tidur. Berapa persentase yang kita habiskan untuk berada di dunia maya dibandingkan dunia nyata. Silakan cermati dan temukan betapa orientasi lingkungan kita telah berubah tanpa kita sadari.

Di kantor, kita sibuk ber-YM-an dengan rekan kantor kita yang ironisnya hanya berbeda tiga meja dari meja kerja kita. Di mal, ketika kita sedang menghabiskan waktu dengan teman-teman kita telepon seluler tak pernah lepas dari genggaman sekedar untuk memperbaharui status facebook kita, men- tweet sesuatu, hingga bercakap-cakap via BBM. Betapa mengejutkan ketika bahasa verbal berubah menjadi rangkaian tulisan. Betapa mengejutkan menilik fakta bahwa kita lebih suka mengetik daripada berbicara untuk berkomunikasi.

Tidak hanya itu, siapa yang bisa menyangkal esensialnya keberadaan email saat ini. Dosen saya pernah berkata, “ Kalian adalah mahasiswa Teknik Informatika. Barangsiapa yang saat ini tidak memiliki alamat email dan akun facebook, saya sarankan anda menulis surat pengunduran diri dari institut ini secepat mungkin. ”Sebegitu pentingnya keberadaan email hingga saat ini segala sesuatu dapat dilakukan via email. Mengirimkan lamaran kerja, melayani klien, hingga bertransaksi jual beli. Bayangkan bila mailserver itu broken. Berapa transaksi yang gagal? Berapa lamaran kerja yang hilang begitu saja? Wow. Tapi begitulah faktanya.

Anda ingin berteman? Gunakanlah Facebook. Anda ingin bertransaksi? Gunakanlah Paypal. Anda ingin menyapa orang terdekat anda secara live dan real time? Gunakan Skype. Begitu banyak media yang memungkinkan kita terhubung satu sama lain dan melakukan sesuatu layaknya di dunia nyata. Privasi bahkan telah kehilangan eksistensi secara sendirinya. Hanya dengan online, kita dapat menemukan nama, alamat, nomor ponsel, email, dan bahkan status hubungan cinta seseorang yang mungkin baru kita kenal dalam beberapa detik saja. Fantastis memang tapi miris. Privasi yang menjadi batasan pergaulan kita di dunia nyata bahkan dirobek habis sehingga yang tersisa adalah keterbukaan informasi pribadi yang masif di dunia maya.

Akhirnya kita tersadar betapa masifnya efek perkembangan teknologi informasi saat ini. Kita mengalami ketergantungan yang luar biasa terhadap gadget dan perangkat-perangkat teknologi informasi lainnya yang memungkinkan kita terhubung dengan orang lain tanpa mengenal ruang dan waktu. Teknologi informasi bukan lagi sekedar menjadi tools yang memudahkan hidup kita akan tetapi telah merasuk dan menjadi bagian dari gaya hidup kita. Kehidupan kita pelan-pelan bergeser masuk ke dalam dimensi kehidupan maya yang tak ada lagi sekat dan batas-batas di dalamnya. Kita bergerak begitu bebas. Kita bahkan dapat memindahkan kehidupan nyata kita ke dalam dimensi kehidupan maya dalam arti yang sebenarnya.

Well, sampai kapan ini berakhir? Saya bahkan belum melihat ujung dari semua ini. Saya melihat fenomena ini cenderung tak akan berakhir, bahkan lebih sporadis daripada saat ini. Habisnya alamat IP (Internet Protocol) pun tidak menjadi isu yang meresahkan karena akan ada trilyunan alamat IPv6 yang dipersiapkan untuk mengantisipasi itu. Pertanyaannya sekarang, akankah kita sadar bahwa kita harus dapat memberikan batasan jelas antara nyata dan maya? Jangan sampai terjadi bahwa kita memiliki ribuan teman di dunia maya tapi tak mengenal satu teman pun secara intens dan personal di dunia nyata. Bukankah Tuhan menganugerahkan kehidupan nyata pada kita dan bukannya dunia maya?

Riki Akbar
Penulis adalah seorang mahasiswa tingkat akhir jurusan Teknik Informatika di Institut Teknologi Telkom (dahulu STT Telkom) Bandung. Berasal dari Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam dan kini berdomisili di Bandung. Penulis juga merupakan peminat matematika dan tengah aktif mengelola sekaligus sebagai pengajar matematika di sebuah lembaga bimbingan privat di Bandung.

Apa Komentarmu?