Kata sekaten bagi setiap orang mungkin akan terlintas dalam pikirannya adalah sebuah pasar malam yang diselenggarakan selama kurang lebih 40 hari lamanya, hiburan, dan berbagai macam jajanan atau mainan yang akan tersajikan di sekaten.

Pada dasarnya sekaten adalah suatu tradisi yang telah ada sejak jaman Kerajaan Demak yang sampai saat ini masih dilestarikan oleh Kraton Yogyakarta dan Surakarta. Upacara Sekaten sesungguhnya adalah upacara ritual yang diselenggarakan oleh Kraton Yogyakarta setiap tahun sekali pada saat menjelang peringatan Mulud Nabi Muhammad s.a.w. dengan tujuan sebenarnya adalah untuk sarana penyebaran agama islam pada waktu dahulu.

Banyak pula beberapa pendapat tentang arti nama sekaten: ada yang berpendapat bahwa nama sekaten adalah berasal dari kata sekati (nama dua buah perangkat gamelan pusaka Kraton Yogyakarta), adapula yang berpendapat sekaten berasal dari kata suka dan ati yang artinya suka hati atau senang hati (terbukti dari ramai riuhnya suasana perayaan dan pasar malam di alun-alun), kemudian ada yang berpendapat bahwa sekaten berasal dari kata syahadatain (dua kalimat syahadat). Jadi mungkin pikiran-pikiran yang terlintas itu kesemuanya tidak ada yang salah.

Dalam prakteknya, pada pelaksanaan upacara sekaten terdapat beberapa tata cara ritual dalam proses penyelenggaraannya yang terdiri dari beberapa tahapan:

1. Tahap Persiapan

Terdapat dua jenis persiapan dalam pelaksanaanya, yaitu persiapan secara fisik dan persiapan non fisik. Dalam persiapan fisik adalah benda-benda dan perlengkapan-perlengkapan yang dibutuhkan dalam proses penyelenggaraan upacara tersebut: Gamelan Sekaten (gamelan khusus yang dibunyikan pada saat penyelenggaraan upacara Sekaten), Perbendaharaan lagu-lagu atau gending-gending Sekaten (â??Rambuâ?? pathet lima, â??Rangkungâ?? pathet lima, â??Lunggadhungâ?? pelog pathet lima, â??Atur-aturâ?? pathet lima, â??Jaumiâ?? pathet lima, â??Atur-aturâ?? pathet nêm, â??Salatunâ?? pathet nêm, â??Dhindhang Sabinahâ?? pathet nêm, â??Muru putihâ?? â??Orang-aringâ?? pathet nêm, â??Ngajatunâ?? pathet nêm, â??Bayem Turâ?? pathet nêm, â??Supiatunâ?? pathet barang, â??Srundheng Gosongâ?? pelog pathet barang, Beberapa kepingan uang logam (untuk disebarkan dalam upacara udhik-udhik), Naskah riwayat Mulud Nabi Muhammad s.a.w. , Sejumlah bunga kanthil (cempaka), Busana seragam yang masih baru dan sejumlah samir yang khusus (dikenakan oleh para niyaga atau penabuh gamelan selama menabuh gamelan Sekaten dalam upacara Sekaten), Atribut dan perlengkapan prajurit Kraton. Sedangkan dalam persiapan non fisiknya adalah berupa sikap dan perbuatan yang harus dilakukan sebelum pelaksanaan upacara Sekaten, yaitu persiapan diri terutama mempersiapakan mental, penyucian diri (berpuasa dan siram jamas atau mandi keramas).

2. Tahap Gamelan Sekaten Mulai Dibunyikan

Dalam tahap ini, proses gamelan sekaten mulai dibunyikan di dalam Kraton yaitu pada malam tanggal 6 Mulud di Bangsal Ponconiti (pada zaman dahulu gamelan dibunyikan di Bangsal Srimanganti dan di Bangsal Trajumas) mulai pukul 19.00 W.I.B hingga pukul 23.00 W.I.B.

3. Tahap Gamelan Sekaten Dipindahkan ke Halaman Masjid Besar

Pukul 23.00 W.I.B. bunyi gamelan harus sudah berhenti dan bersamaan dengan itu pula, para prajurit Kraton mengawal iring-iringan dipindahkannya gamelan Sekaten menuju halaman Masjid Besar.

4. Tahap Sri Sultan Hadir di Masjid Besar

Tahap ini menyebutkan tentang kehadiran Sultan dari Kraton menuju Masjid Besar dengan mengendarai kendaraan dan iring-iringan para Pangeran dan kerabat Kraton pada malam ketujuh, tanggal 11 Rabiulawal malam atau malam tanggal 12 Rabiulawal dimana pembacaan riwayat Nabi Muhammad s.a.w. dibacakan yang selesai pada pukul 24.00 W.I.B. dan penyebaran udhik-udhik dilakukan oleh Sultan, yang disebut juga sebagai Pisowanan Malem Garebeg/ Muludan. Kemudian, diakhiri dengan bacaan doa oleh Kangjeng Raden Penghulu, setelah itu Sultan kembali ke dalam Kraton.

5. Tahap Kondur Gongsa

Proses pemboyongan gamelan sekaten kembali ke dalam Kraton disebut sebagai kondur gongsa dengan pengawalan dari dua pasukan abdi dalem prajurit, yaitu Prajurit Mantrijero dan Prajurit Ketanggung pada tanggal 11 Mulud (Rabiulawal), kira-kira pada pukul 24.00 W.I.B. setelah Sultan meninggalkan Masjid Besar.

Dengan dipindahkannya gamelan pusaka Sekati (Kangjeng Kyai Sekati) dari halaman Masjid Besar kembali ke dalam Kraton menandai bahwa upacara Sekaten telah selesai dilaksanakan.

Sumber: Buku karangan Suyami. â??Upacara Ritual di Kraton Yogyakarta [Refleksi Mithologi dalam Budaya Jawa]â?