Bhutan, Kerajaan Paling Bahagia di Dunia


avatar
Amanda Deviana 382 Berita
Hospitality student who likes traveling , interested in cullinairy , crazy about ice cream and play tennis in my free time. Open minded , Flexible , Active , Independent describe me well. 5 Berita terkini Amanda Deviana
bandar bola | poker | bandar togel | casino online

Jika Anda sering menonton berita di acara – acara televisi, pasti Anda sering menemukan beberapa pejabat pemerintahan yang ditangkap karena kasus korupsi. Bila mental pemerintahnya saja seperti itu, bagaimana negara tercinta kita ini bisa maju? Pihak pemerintah yang seharusnya menjadi panutan masyarakat Indonesia, malah melakukan tindak korupsi. Jelas – jelas tindakan korupsi ini merugikan masyarakat Indonesia. Sehingga tingkat kemiskinan di Indonesia tergolong tinggi. Masih banyak rakyat Indonesia yang kelaparan. Mungkin pemerintah Indonesia perlu mencontoh Kerajaan Bhutan.

Kerajaan Bhutan mengatakan bahwa tujuan utama Pemerintah Bhutan adalah membahagiakan dan mensejahterakan rakyatnya. Jika pemerintah Kerajaan Bhutan tidak bisa membuat bahagia rakyatnya, maka mereka sama saja dengan tidak ada gunanya. Kerajaan Bhutan juga memiliki suatu ukuran yang unik. Bila negara lain mengukur kemakmuran negaranya dengan GNP (Gross National Product), Bhutan menerapkan GNH (Gross National Happiness). Bayangkan betapa makmurnya rakyat Indonesia jika pemerintah menerapkan sistem ekonomi Indonesia yang membahagiakan rakyatnya. Buktinya, Bhutan saja yang tidak kaya akan sumber daya, tanahnya tidak subur, hasil tambangnya tidak banyak dan pendapatan warganya tidak tinggi dapat menjadi salah satu negara paling bahagia di dunia. Apalagi Indonesia yang memiliki tanah yang subur, budaya yang beragam, hasil tambangnya yang melimpah. Jika saja pemerintah mau berpikiran terbuka dan mencontoh Kerajaan Bahagia ini.

Penasaran kenapa Kerajaan Bhutan disebut sebagai Kerajaan paling bahagia di dunia? Simak terus artikelnya.

wikipedia.com

wikipedia.com

wikipedia.com

wikipedia.com

wikipedia.com

Bhutan adalah sebuah negara berbentuk kerajaan yang terletak di lereng pegunungan Himalaya, berada di antara Cina dan India. Nama negara Bhutan dalam bahasa lokal adalah: Druk Yul. Druk Yul sendiri artinya adalah Tanah Naga Guruh dimana menurut legenda, negara ini merupakan “Negeri Naga Guntur” yang dilindungi para Dewa dan Buddha. Bhutan memiliki lagu kebangsaan yang berjudul Drukyle (Kerajaan Naga Guruh). Dalam bahasa Sansekerta, Bhutan berarti “Dataran tinggi di sebelah Tibet”. Bhutan juga memiliki banyak julukan karena Bhutan memiliki banyak pegunungan salju. Ada yang menyebutnya sebagai “Swiss di negeri timur” karena pemandangannya indah seperti taman firdaus dalam khayalan. Selain itu juga Bhutan mendapat julukan “Shangri-La yang sesungguhnya” karena masyarakat lokal mempercayai bahwa wilayahnya memiliki lembah sungai yang berkelok-kelok.

propertyworld.com

lifeawayfromlife.com

lifeawayfromlife.com

hotelstravelpal,com

hotasia.com

Mayoritas masyarakat Bhutan menganut agama Buddha Tantrayana. Oleh sebab itu mereka tidak membunuh binatang atau berburu, sehingga makanan berupa daging diimpor dari India. Mereka juga jarang memakan daging. Mayoritas dari mereka adalah vegetarian yang memakan sayuran dan produk susu yang membuat mereka semua merasa puas. Dalam benak mereka sudah ditanamkan dasar pemikiran untuk menjadi manusia yang tahu akan kepuasan, tidak menuntut secara berlebihan. Dengan begitu suasana hati mereka dengan sendirinya akan selalu merasa gembira. Hal ini mereka sebut dengan “tahu merasa puas akan selalu bergembira, keserakahan membuat susah hati.” Oleh karena itu 97% rakyatnya menganggap diri mereka sangat berbahagia. Kebahagiaan mereka bukan berasal dari pemuasan nafsu dunia fana, melainkan berasal dari iman mereka yang tahu untuk merasa puas.

happybhutan.bt

garlickdesign.com

footprints-adventures.co.uk

boundlessjourneys.com

Orang Bhutan beranggapan bahwa kemiskinan yang sesungguhnya adalah apabila tak mampu beramal kepada orang lain. Kehidupan mereka sudah sangat terpuaskan asalkan memiliki sawah dan rumah. Dasar pemikiran ini sendiri berasal dari Raja Jigme Singye Wangchuck IV. Beliau adalah sang mantan raja yang tidak mendahulukan perkembangan ekonomi melainkan mendirikan sebuah negara yang berbahagia. Raja Wangchuk sangat memperhatikan pelestarian lingkungan hidup Bhutan. Beliau melarang rakyatnya untuk merokok di seluruh negeri dan melarang impor kantong plastik.

wanderlustandlipstick.com

Kerajaan ini juga semenjak ratusan tahun yang lalu sudah mengisolasikan diri dari pengaruh dunia luar. Pemerintah Kerajaan Bhutan ingin menjaga kelestarian dan keunikan budaya mereka yang telah diwariskan secara turun temurun. Sehingga para wisatawan yang ingin berkunjung ke Bhutan pun dibatasi. Untuk membatasi para wisatawan mancanegara, maka pemerintah menerapkan biaya visa sebesar US$ 200 (sekitar 2 juta rupiah).

Selain itu, Bhutan juga memiliki keunikan alam tersendiri. Selain memiliki wilayah hutan belantara sebanyak 72% dan 26% wilayahnya adalah taman nasional negara. Bhutan juga memiliki Puncak Qomolangma, yang berarti puncak Dewi atau Puncak Everest yang sepanjang tahun tertutup salju. Puncak ini merupakan puncak gunung yang tertinggi di dunia.

nationalgeographic.com

Bukti lain bahwa Pemerintah Bhutan sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya adalah dengan dibangunnya PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) Bhutan di kota kabupaten Chukha. PLTA ini dibangun demi melindungi hutan dan struktur tanah Bhutan. Proyek yang seharusnya dapat selesaikan dalam waktu 4 tahun, pemerintah malah memilih waktu 12 tahun untuk menembus gunung sejauh puluhan kilometer. Kemudian air salju dari gunung yang tinggi dialirkan ke bawah tanah. Lalu pada dinding PLTA itu dipajang 12 lukisan raksasa tentang kisah sang Budha.

Nah, tidak heran kan mengapa Kerajaan Bhutan disebut sebagai Kerajaan paling bahagia di dunia. Tidak hanya pemerintahnya saja yang memiliki tingkat kesadaran tinggi. Namun juga didukung oleh rakyatnya dan lingkungan alam nya. Pemerintah dan rakyatnya memiliki dasar pemikiran yang mementingkan perkembangan yang seimbang antara materi dan spiritual, pelestarian lingkungan hidup dan kebudayaan tradisional. Hal – hal di atas diletakkan di atas kepentingan ekonomi dan material. Berbeda dengan mayoritas masyarakat dunia yang mengagung – agungkan kesejahteraan finansial sehingga menjadi rakus akan uang dan melupakan nilai – nilai kehidupan yang sebenarnya jauh lebih berharga. Mungkin setelah membaca artikel ini, Anda dapat merenungkan sejenak bahwa sebenarnya, ada nilai – nilai kehidupan yang jauh lebih berharga daripada uang.(berbagai sumber/rei)

Tags
Berita ini adalah berita yang di kirimkan oleh aktivis jadiBerita.com, bagikan berita ini ke Timeline Facebook dan Twitter kamu
  • atwar bajari

    Sangat menyejukkan…….thanks..

  • shiraz

    sangat bermanfaat