3 Hal Sakral Dalam Kraton Yogyakarta

3 Hal Sakral Dalam Kraton Yogyakarta

Yogyakarta terkenal akan semboyannya yang kebanyakan orang sudah mengetahuinya,”Yogyakarta Berhati Nyaman” dan juga terkenal juga sebagai kota pelajar dimana banyak para pelajar yang menempuh jenjang pendidikan di kota Gudeg ini. Tetapi, satu hal yang sangat melekat di setiap pikiran para wisatawan baik dalam negeri maupun luar negeri adalah Yogyakarta sebagai ‘kota seni dan budaya’. Ciri khas paling utama dari kota Yogyakarta adalah Kraton Yogyakarta.

Hampir setiap kejadian-kejadian penting yang diselenggarakan oleh Kraton Yogyakarta dianggap sebagai ritual dan selalu diiringi dengan pertunjukan seni untuk menunjang nilai seni dan budayanya yang terkandung di dalamnya. Berdasarkan penelitian dari Robert Heine-Geldern, “Beberapa aspek penting dari sistem kerajaan di Negara-negara Asia Tenggara adalah barang-barang pusakanya, yang menjadi simbol penting dari kerjaan tersebut.” Barang-barang pusaka tersebut dapat berupa kumpulan senjata-senjata untuk perang; bendera; perangkat alat musik; wayang kulit; buku/kitab dan tari-tarian.

Dalam Kraton terdapat 3 hal utama yang paling sakral yang hanya pada waktu-waktu tertentu saja hal tersebut dilaksanakan atau pun ditampilkan. Kraton Yogyakarta memiliki berbagai macam perangkat gamelan tetapi hanya ada 3 perangkat gamelan saja yang dianggap paling sakral/keramat, begitu pula dengan tarian-tariannya dan juga peristiwa-peristiwa penting lainnya yang berhubungan dengan Kraton.

Ketiga perangkat gamelan yang dianggap sebagai pusaka: gamelan Monggang, Kodhok Ngorek dan Sekati. Pertama, gamelan Monggang atau yang biasa disebut sebagai Kangjeng Kyai Guntur Laut. Gamelan ini hanya dimainkan pada acara-acara penting atau pada masa gembira saja; misalkan, untuk merayakan acara pemahkotaan Sultan atau pengangkatan seorang Sultan (seorang Sultan harus dari keturunannya langsung dan harus seorang pria) atau pada saat keberangkatan Sultan dalam menghadiri upara yang penting.

Kedua, gamelan Kodhok Ngorek atau Kangjeng Kyai Mahesa Ganggang, yang dimainkan sama dengan gamelan Monggang. Gamelan Kodhok Ngorek ini dipercayai memiliki suatu melodi yang aneh seperti pada lagunya Gending Kodhok Ngorek Ayam Sepenan, yang ditambahi beberapa instrument tertentu oleh Sultan Hamengku Buwono I, gamelan ini biasanya dimainkan pada saat acara sunatan anak dari Sultan; acara hari kelahiran Sultan; pada saat acara gunungan; selama acara garebeg, yang dibarengi dengan dibagikannya makanan-makanan sesajian kepada orang-orang di sekitar dan yang paling utama adalah gamelan ini hanya memainkan dua lagu saja yang disebut Gending Kodhok Ngorek dan Gending Nalaganjur. Ketiga, gamelan Sekati, Kraton memiliki dua gamelan Sekati: Kangjeng Kyai Guntur Madu dan Kangjeng Kyai Naga Wilaga, kedua gamelan Sekati tersebut biasanya dimainkan di dalam Mesjid Ageng, selama perayaan Sekaten pada saat Garebeg Mulud.

Tidak hanya gamelan saja, Kraton Yogyakarta juga memiliki tiga pertunjukan tarian yang sakral dalam pelaksanaannya; beksan bedhaya, wayang wong dan beksan lawung ageng. Beksan bedhaya atau biasa hanya disebut bedhaya adalah sebuah tarian yang dipentaskan oleh sembilan penari laki-laki, tarian ini disebut sebagai pusaka dikarenakan tarian ini diciptakan langsung oleh Sultan Agung -penguasa terbesar Mataram- (1613-1645). Kata Bedaya disimboliskan sebagai Sembilan lubang pada manusia: dua mata, dua lubang hidung, satu mulut, satu lubang anus, dan satu alat kelamin; seperti juga Kraton yang memiliki Sembilan gerbang utama; dan juga Sembilan struktur pada tubuh manusia.

Wayang wong adalah sebuah tarian dengan percakapan diaglog atau ketoprak yang biasanya dipentaskan untuk perayaan hari jadi kepemimpinan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang baru selama masa Sultan Hamengku Buwono VIII. Beksan lawung ageng atau lawung ageng dan biasa disebut sebagai beksan Trunajaya (karena dahulunya dipentaskan oleh para prajurit Trunajaya), sebuah tarian dengan komposisi yang sangat kuat yang dipentaskan oleh enambelas penari laki-laki. Tarian ini menyimbolkan peperangan antara dua kubu prajurit.

Tiga hal sakral yang terakhir adalah berkaitan dengan peristiwa/kejadian penting dalam Kraton Yogyakarta yang diselenggarakan dengan pertunjukan wayang kulit purwa. Peristiwa dari peringatan hari kelahiran Sultan, hiburan bagi para partisipan turnamen Sabtu malam (watangan), perayaan berakhirnya ritual Garebeg Mulud adalah dikarenakan sebagian wayang yang digunakan dalam pertunjukana wayang kulit purwa tersebut adalah barang pusaka atau keramat. Setiap wayang yang digunakan dalam pertunjukan tersebut memiliki gelarnya masing-masing: Kangjeng Kyai Jimat (Yudistira), Kangjeng Kyai Bayukusuma (Bima), Kangjeng Kyai Jayaningrum (Arjuna), Kangjeng Kyai Wahyu Tumurun (Bathara Guru), Kangjeng Kyai Gendreh (Kresna). (jow)

Seorang pengelana yang selalu mencari hal-hal yang menarik di dunia yang begitu luas ini yang memiliki pemikiran yang bebas akan segala hal.

Apa Komentarmu?

NO COMMENTS

Leave a Reply