Berikut Gambar-gambar Eksklusif Pertandingan Sumo


avatar
Amanda Deviana 382 Berita
Hospitality student who likes traveling , interested in cullinairy , crazy about ice cream and play tennis in my free time. Open minded , Flexible , Active , Independent describe me well. 5 Berita terkini Amanda Deviana
bandar bola | poker | bandar togel | casino online

junglemagazine.com

JadiBerita: Apakah yang ada di pikiran Anda bila mendengar kata Sumo? Mungkin Anda akan membayangkan pria – pria gemuk berukuran sangat besar yang telanjang atau hanya memakai sebuah kain penutup pinggang. Sumo juga identik dengan Jepang. Yup, tidak salah lagi karena Sumo merupakan salah satu ciri khas Jepang yang menggambarkan kebudayaan dan agama khas Jepang, agama Shinto.

Sumo adalah olahraga saling dorong antara dua orang pesumo yang berbadan gemuk sampai salah seorang didorong keluar dari lingkaran atau terjatuh dengan bagian badan selain telapak kaki menyentuh tanah di bagian dalam lingkaran. Seorang pesumo harus berbadan besar dan gemuk karena semakin tambun seorang pegulat sumo semakin besar pula kemungkinannya untuk menang.

Sebenarnya, sumo adalah salah satu olahraga eksklusif sekaligus tradisional dari Jepang yang telah berusia lebih dari 2000 tahun. Pada awalnya, Sumo adalah ritual untuk menghormati dewa agama Shinto yang telah memberkati pertanian masyarakat Jepang. Ritual penyembahan ini juga ditampilkan bersama dengan tari-tarian di halaman kuil agama Shinto. Seiring perkembangan zaman, Kaisar Jepang pun mengubah sumo menjadi salah satu hiburan di istana. Dimana pada zaman ini, hanya para bangsawan dan pejabat penting istana saja yang dapat menontonnya.

Barulah pada awal zaman Edo (abad ke-16), olahraga tradisional Jepang ini mulai dikembangakan hingga menjadi sebuah olahraga yang dapat dipertandingkan. Seorang pegulat sumo di Jepang disebut sebagai rikishi. Sedangkan arena pertandingan sumo disebut dengan dohyo. Para anggota asosiasi sumo juga disebut oyakata.

Uniknya, para rikishi ini hidup di dalam sebuah institusi, dimana mereka diharuskan hidup di dalam sebuah aturan tradisi yang ketat. Para rikishi ini tinggal di dalam sebuah tempat bernama “kandang pelatihan sumo” yang dikenal di Jepang sebagai heya. Hidup sebagai seorang pegulat sangat teratur, dengan aturan yang ditetapkan oleh Asosiasi Sumo. Mulai dari pola makan, kegiatan sehari – hari, dan sebagainya.

Contohnya saja pola makan para rikishi ini ada aturannya tersendiri. Para rikishi ini makan makanan khusus yang dapat mempertahankan dan meningkatkan berat badan, yaitu chankonabe. Chankonabe ini sejenis sop yang mengandung kalori dan protein tinggi. Chankonabe ini terbuat dari daging ayam, ikan, babi dan sayur-sayuran seperti wortel, lobak, bawang bombai, toge dan tahu. Chankonabe ini dimakan bersama nasi bermangkok – mangkok ditemani segelas besar bir. Pola makan seperti ini dapat membuat rikishi semakin gemuk. Namun pola makan seperti ini memiliki dampak negatif bagi para rikishi. Usia hidup rata-rata rikishi adalah 60 – 65 tahun, 10 tahun lebih rendah dari usia hidup laki-laki Jepang pada umumnya. Rikishi biasanya menderita penyakit diabetes dan tekanan darah tinggi serta cenderung mendapat serangan jantung. Mereka juga menderita penyakit liver karena kebanyakan minum alkohol.

Di kandang pelatihan sumo ini, tingkat senioritas nya juga tinggi. Rikishi yang dianggap senior mempunyai sebutan sekitori. Dimana para rikishi dengan tingkatan yang lebih rendah harus menghormati para sekitori ini. Mulai dari kegiatan sehari - hari hingga acara makan dan mandi pun, para sekitori ini harus didahulukan. Para rikishi yang lebih rendah biasanya mempunyai tugas untuk bersih – bersih dan melakukan semua kegiatan untuk melayani sekitori. Seperti menyiapkan air mandi untuk para sekitori berendam, yang kemudian barulah para rikishi ini berendam di air yang sama yang telah dipakai sekitori.(Junglemagazine/rei)

Tags
Berita ini adalah berita yang di kirimkan oleh aktivis jadiBerita.com, bagikan berita ini ke Timeline Facebook dan Twitter kamu